Pagi itu, ELVARÉ Atelier terasa sedikit lebih riuh dari biasanya. Suasana yang memang tak pernah sepi sejak adanya Anggi di perusahaan Arsena ini. Semakin ramai saja karena celetukan Anggi yang tak kenal waktu dan tempat. “Wihhh… Bu bos kita kok auranya beda banget ya pagi ini? Ada apa nich? Eike penisirin bangeettt.” Anggi—atau Angga, tergantung mood feminimnya hari itu—menyenggol lengan Sena begitu wanita itu melangkah masuk ke ruang utama atelier. Sena meliriknya malas, tapi sudut bibirnya tak bisa menahan senyum. “Beda dari mana sih kamu? Kalau kamu lihatnya dari tugu Surabaya ya jelas beda.” “Dari cara jalan,” sahut Anggi lebay. “Dari senyum yang kayak abis dapat diskon kain sutra satu gudang. Dari aura… aura orang yang—” ia berbisik dramatis, “—bahagia.” Sena memutar mata. “Ngaw

