56

1838 Kata

Sena menarik napas panjang, membiarkan oksigen mendinginkan kepalanya yang sempat mendidih. Ia tidak menangis. Tidak sekarang. Sebagai putri Bramasta dan istri seorang Dialta, ia tahu bahwa air mata adalah bentuk kekalahan yang diinginkan musuhnya. Sena menyesap kopi hitamnya yang sudah dingin, lalu meletakkan tablet itu di atas meja dengan dentuman pelan. Ia menatap Raline dan Anggi yang masih tampak pucat. "Berhenti memasang wajah seperti itu. Kita belum kalah," suara Sena terdengar jernih dan sangat tenang—jenis ketenangan yang justru membuat stafnya merinding karena kemiripannya dengan cara bicara Dialta. "Tapi Bu Bos, itu desain siluet 'Zenith' kita... V-Line benar-benar menjiplaknya sampai ke titik koordinat jahitannya!" Anggi protes dengan nada gemas, tangannya masih sibuk mengip

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN