Dialta membiarkan bibir Sena bermain di atas miliknya. Menyesapnya, menariknya dan melumatnya habis. Dialta suka. Tapi dirinya memilih pasif saat ini. Ia tidak memejamkan mata. Sebaliknya, ia menatap dalam ke netra obsidian istrinya yang mencoba menyembunyikan badai di balik ketenangan palsu. Ia merasakan ibu jari Sena mengusap sisa salivanya, sebuah gerakan yang sangat intim namun terasa seperti sebuah pengalihan bagi Dialta. Ia tau maksud dari langkah yang diambil istrinya. Apa Sena tak ingin dirinya khawatir? Mungkin saja. "Mas tidak suka kamu berbohong, Sena," suara Dialta terdengar sangat rendah, nyaris seperti bisikan maut di depan wajah istrinya. "Apa sih Mas, beneran nggak ada apa-apa. Udah ih. Nggak usah serius gitu." Ia melingkarkan tangan besarnya ke leher belakang Sena, m

