58

1521 Kata

Setelah makan siang yang penuh dengan "pemaksaan" manis dari Dialta agar Sena menghabiskan porsinya, mereka kini berada di dalam mobil mewah menuju kawasan elit tempat tinggal orang tua Sena. Sena tidak bisa diam. Ia terus mengoceh, menceritakan betapa ia merindu masakan Mami Kalia dan bagaimana ia ingin bermanja-manja pada Daddy Denta sebelum ia harus terjebak di Tokyo selama seminggu penuh. "Mas, kamu nggak bisa gitu senyum?" Sena mulai dengan celotehannya. Dialta hanya menoleh sebentar tanpa mengatakan apa-apa. "Tu kan, dibilangin ya tetep aja lempeng kayak papan triplek." Gemes sekali Sena ini sama suaminya. "Mas emang udah gini Sena, terus mas harus apa?" "Senyum Mas, senyum. Termasuk Ibadah lo senyum itu." "Sayang," panggil Dialta mulai serius. "Hem?" Sena menatap suam

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN