61

1348 Kata

Mobil Mercedes hitam legam itu berhenti tepat di depan lobi utama ELVARÉ Atelier. Decitan ban yang seakan mewakili hati seseorang yang ada di balik kemudi itu. Begitu pintu terbuka, hawa dingin seolah ikut keluar bersama langkah kaki Dialta yang menginjak lantai marmer dengan dentuman yang tegas. Penampilannya masih sama dengan setelan jas abu-abu gelap yang rapi, namun auranya kini jauh lebih pekat dan berbahaya—seperti badai yang tertahan di balik wajah tampannya yang tanpa ekspresi. Dirinya yang terbiasa dengan masalah seperti ini, tak mengendurkan ketegasannya walau saat ini dirinya berada di perusahaan istrinya. Para karyawan yang sedang berlalu-lalang seketika mematung. Bisik-bisik mulai menjalar di sepanjang koridor. "Bukannya Bu Sena sudah berangkat ke bandara tadi pagi?" "Kenap

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN