Sore itu Toronto terlihat seperti lukisan yang baru selesai disentuh salju. Langit berwarna kelabu pucat, lampu-lampu kota mulai menyala, dan serpihan salju turun perlahan—tak deras, tapi cukup untuk membuat dunia terasa lebih sunyi dan intim. Mereka berdiri di salah satu spot terbaik kota, hamparan putih memantulkan cahaya keemasan senja. Mereka seakan berada di dalam lukisan saat ini. Menjadi titik objek dari sebuah hiasan yang tak mampu diucapkan dengan kata-kata. Dialta berdiri tegak, bahunya lebar, mantel hitamnya kontras dengan warna putih dari salju. Di sampingnya, Sena—hanya sepundak dengannya—menyelipkan tangan ke saku mantel, napasnya membentuk uap tipis. Dirinya yang seakan terhibur dengan uap-uap yang keluar dari bibir mungilnya. Dengan mata yang menatap hamparan salju di de

