Pintu kamar hotel tertutup dengan bunyi klik pelan, tapi suasana di dalamnya langsung terasa panas—bukan karena pemanas ruangan, melainkan karena dua orang yang berdiri saling membelakangi dengan emosi yang belum selesai. Sena meletakkan tasnya agak kasar di sofa. Baru beberapa langkah, matanya langsung tertuju pada kamar mandi yang—seperti sebelumnya—menyatu tanpa sekat penuh dengan kamar tidur. Dan lagi-lagi. Masalah itu. Yang sepertinya tak akan ada jalan keluar jika mereka tak berganti dengan kamar baru. Tapi masalahnya. Apa lelaki yang jadi suaminya ini mau? Jelas tidak, karena Dialta bukan orang yang ribet danembuang waktu untuk hal semacam ini. Sena mendengus kesal. “Serius, Alta? Ini beneran nggak mau pindah kamar gitu?" Dialta membuka kancing jasnya dengan tenang, seolah prot

