Aula makan malam itu dipenuhi cahaya keemasan. Kaca-kaca tinggi menghadap pelabuhan Toronto, memantulkan kilau air dan lampu kapal yang bergerak pelan. Meja-meja panjang tertata rapi, aroma anggur dan hidangan kelas atas bercampur dengan percakapan bisnis beraksen formal. Dialta masuk dengan langkah tenang. Lengannya tetap melingkar di pinggang ramping Sena—tidak longgar, tidak menekan. Posisi yang jelas. Klaim yang tak perlu diumumkan. Sena bisa merasakannya. Meski dia sudah berusaha melepaskan pelukan itu tapi tetap saja, si empu yang memiliki lengan enggan melepaskannya. Kadang Sena berfikir, dan merasa aneh melihat pria yang sedari tadi ada di sisi-nya ini. Bahkan ketika ia berhenti berjalan, Dialta ikut berhenti. Saat ia melangkah, Dialta menyesuaikan langkahnya. Dan entah sejak k

