Pintu mobil tertutup dengan bunyi thud berat. Sena langsung menjatuhkan tubuhnya ke jok mobil saat sudah berada di dalam. Hentakan itu membuat Dialta menoleh sedikit. Teringat jika mobil yang akan dia kenakan selama beradai di sini adalah mobil sewa. S E W A. Sena langsung menarik sabuk pengamannya dengan kasar. Wajahnya garang—rahang mengeras, mata abu-abunya menyala marah. Rambut pirang pendeknya sedikit berantakan. Salju tipis mulai turun di luar, memantul pada kaca jendela yang gelap. Udara dingin pun ikut menyelinap. “Gila,” desis Sena, memecah keheningan. “Benar-benar gila kamu itu, Dialta. Sinting tau nggak?” Dialta menyalakan mesin dengan gerakan tenang. Tidak terburu-buru. Tidak terpancing dengan sentakan dan sedikit umpatan yang dilancarkan istrinya. Mobil melaju perlahan

