Sena menghembuskan napas panjangnya saat dirinya sudah merebahkan tubuh sepenuhnya di atas kasur suite hotel—sprei putih masih rapi, bantal tak banyak bergeser. Hari ketiga di Toronto yang terasa terlalu panjang. Mata abu-abu Sena terus menatap langit-langit kamar hotel yang tinggi menjulang itu. Perasaan bosan menyelimuti harinya tepat di tiga hari ini. Datar sekali. Tak ada kegiatan selan makan, tidur, menonton televisi yang tak sepenuhnya Sena mengerti kecuali drama cina dan drama korea. Ada untuk film barat, tapi Sena tak terlalu suka. Sungguh jika seperti ini, Sena tak akan mau ikut dengan lelaki itu. Selama tiga hari pula. Suaminya itu sibuk dengan urusannya sendiri. Lalu buat apa dirinya disini? Ia meraba permukaan kasur, mencari letak ponselnya yang akhirnya dia dapat. Ponsel

