Begitu pintu menutup, keheningan kamar mengambil alih seluruh ruang. Cahaya matahari musim dingin yang pucat jatuh dari jendela besar, memantul di lantai marmer, membuat ruangan terlihat semakin hangat dan mahal—ironis, mengingat hatinya malah terasa kacau. Sena menjatuhkan tubuh ke tepi ranjang sejenak sebelum akhirnya menyeret koper pink besarnya ke atas karpet lembut. “Hmm… baju tebal, syal, coat… good job, Sena,” gumamnya sambil membuka risleting koper. Beruntung masih ada sisa-sisa pakaian untuk musim dingin. Punya suami yang hanya diam saja jika tidak di ajak bicara. Ya begini ini, sedikit salah kostum. “Untung aja, masih bawa sweater sama coat, meski sedikit. Berasa salah kostum aku." Ia mengeluarkan satu per satu pakaian, menumpuknya rapi di lemari. Sweater putih gading. Jaket b

