Sena terhenti sepersekian detik. Mengerjapkan mata, mengamati sekali lagi bagaimana punggung lebar itu berada di hadapannya. Tempat yang nyaman untuk dirinya bersandar. Bagaimana punggung itu yang selalu menjadi tameng dirinya. Ah... Apa dirinya sudah jatuh? Detik berikutnya, tanpa ragu, ia melangkah cepat dan langsung memeluk sosok itu dari belakang. Mendekapnya erat dengan lengannya melingkar di pinggang pria yang sudah bersamanya beberapa minggu ini. Sekitar enam minggu kah? Seakan dunia di luar ruang ini tak lagi ada. Wajah Sena ia sandarkan di punggung bidang yang begitu dikenalnya. Hangat. Kokoh. Dengan aroma maskulin yang selalu membuat napasnya otomatis melambat. Wangi yang Sena suka. Apalagi semenjak mereka berbagi peluh dan semakin dekat saja. “Hmm…” dengus kecil lolos dari

