Mobil berhenti mulus di halaman luas Mansion Abimana. Lampu-lampu taman menyala hangat, menerangi jalan setapak dengan kilau keemasan yang membuat bangunan megah itu tampak semakin hidup di senja yang mulai gelap. "Tetap disini." Pinta Dialta yang turun lebih dulu. Seperti biasanya—tanpa diminta—ia berjalan ke sisi penumpang dan membukakan pintu untuk istrinya. Perhatian yang tak diminta, tapi selalu dia lakukan. Tangannya terulur, dengan telapak tangan terbuka, menunggu Sena menyambutnya. Sena menatap tangan itu sejenak, lalu tersenyum cantik. Senyum yang sengaja dibuat manis—centil dan menggemaskan. Senyum yang mampu membuat Dialta gila dibuatnya. Bahkan senyum yang mampu membuat Dialta ingin menerkam istrinya saat itu juga. “Wah, perhatian bingit sih suami aku. Udah gak kayak papan

