Sirine ambulans meraung-raung membelah sunyinya jalanan Surabaya, suaranya memantul di antara gedung-gedung beton seolah memberikan tanda bahwa maut sedang berpacu dengan waktu. Di dalam kabin ambulans yang sempit dan berbau antiseptik itu, ketegangan berada di titik didih. Dialta terbaring kaku di atas tandu. Wajahnya yang biasanya memancarkan otoritas kini tertutup masker oksigen yang mulai mengembun tipis. Berbagai kabel monitor menempel di dadanya, merekam sisa-basi kehidupan yang kian melemah. Arsean duduk di pojok kabin, wajahnya pucat pasi, kedua tangannya yang berlumuran darah Dialta saling bertautan erat. Matanya tak lepas dari monitor jantung. Beep... Beep... Beep... Suara monitor itu awalnya beraturan, meski lambat. Namun tiba-tiba, iramanya berubah kacau. Jantung Dialta ber

