79

1461 Kata

Lampu neon koridor ICU terasa begitu menyengat, kontras dengan kegelapan yang menyelimuti hati Sena. Setelah perdebatan panjang dan air mata yang menguras tenaga, Arsean akhirnya mengalah. Ia tahu, menahan Sena hanya akan membuat kondisi mental adiknya semakin memburuk. Dengan langkah gontai yang dipaksakan tegak, Sena melangkah masuk. Pintu geser kaca itu terbuka dengan suara desis pelan, seolah menyambutnya ke dalam dunia yang berhenti berputar. Langkah Sena terhenti beberapa meter dari ranjang. Matanya membelalak, tangannya menutup mulut secara spontan. Di sana, Dialta—pria yang kemarin masih memeluknya erat, pria yang begitu angkuh dan tak terkalahkan—kini tampak begitu rapuh. Wajahnya yang pucat pasi hampir tertutup oleh selang ventilator. Kabel-kabel monitor menempel di dadanya ya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN