BAB 7
Aku semakin tercekat saat melihat laki-laki itu berhenti di tengah tangga lalu membalikkan badan sebentar menatapku. Tanpa senyum, dia kembali melanjutkan langkahnya menuju lantai atas.
"Dia memang begitu, terlalu kaku, Ri. Kamu nggak mundur saat ini juga kan?" Juragan Ginanjar menatapku beberapa saat setelah menoleh ke arah anak sulungnya yang telah menghilang di ujung tangga.
"Ng-- nggak dong, Juragan. Saya akan tetap bekerja seperti janji saya tadi." Juragan Ginanjar dan istrinya pun saling tatap lalu tersenyum tipis.
"Syukurlah kalau begitu. Biar ibu yang antar kamu ke kamar. Ohya, kamar kamu bersebelahan dengan kamar Rama di lantai atas. Di sana juga ada kamar Latifa dan Razqa. Semoga betah ya, Ri. Selamat bekerja." Aku kembali mengangguk.
"Ohya satu lagi, tiap minggu kamu boleh cuti. Terserah mau pulang atau sekadar jalan di luar."
Kuhela napas lega saat mendengar kata cuti, setidaknya aku bisa pulang ke rumah seminggu sekali untuk melepas kangen. Meski emak atau bapak bisa ke sini jika ingin bertemu denganku, tapi aku tak ingin terus merepotkannya. Mereka juga punya kesibukan sendiri yang tak harus terus aku recoki.
"Ayo, Ri. Ibu antar ke kamarmu," ajak Bu Farida begitu lembut dan aku pun mengiyakan.
"Jangan kaget kalau nanti dibentak monster ya, Ri." Candaan Mas Hanif membuatku menghentikan langkah.
"Hanif ... jangan buat Riana mengurungkan niatnya untuk bekerja," omel Ibu Farida lalu memintaku segera ke lantai atas. Mas Hanif hanya terkekeh saat mendapatkan omelan mamanya.
Tiap tangga yang terlewati, hatiku semakin berdebar tak karuan. Entah makhluk apa yang akan kuhadapi nanti, yang pasti aku harus bisa menaklukkannya. Selain sudah menerima bonus, aku juga tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Gaji semakin meningkat jika aku bisa membuat Mas Rama berubah lebih baik.
"Rama begitu hanya karena belum bisa ikhlas dan menerima takdirNya, Ri. Semoga nanti kamu bisa mengajak dia untuk mengenal agama. Dia memang tak terlalu percaya dengan agama dan Tuhan."
Aku kembali terhenti. Semengerikan itulah makhluk yang akan menjadi atasanku nanti? Tak mengenal agama bahkan Tuhan? Ya Allah, mengerikan sekali.
Ibu Farida membalikkan badan saat menyadari aku tak bergerak menyusulnya. Ada jeda beberapa tangga antara aku dan dia.
"Saya tahu kamu lebih paham soal agama, makanya begitu berharap kamu bisa membimbingnya lebih baik," ujar Ibu Farida lagi setelah menatapku lekat.
Aku yakin ibu Farida bilang begitu karena melihat penampilanku yang berpakaian serba panjang dan lebar. Padahal, belum tentu yang berpakaian seperti ini paham agama. Boleh jadi masih dalam tahap belajar sepertiku.
"Saya juga masih awam, Bu. Hanya belajar menutup aurat dengan benar saja," balasku sembari menganggukkan kepala. Ibu Farida kembali tersenyum.
"Begitulah. Seperti ilmu padi, makin berisi makin merunduk. Ayo, mungkin Rama membutuhkan bantuanmu." Aku pun mengangguk lalu kembali melangkah menaiki tangga hingga lantai atas.
Ada beberapa kamar berjejer di sana. Samping kiri tangga kamar Mas Rama, setelahnya kamar Razqa dan ketiga kamar Latifa. Sementara aku menempati kamar di sebelah kanan tangga dengan ukuran lebih kecil dibandingkan ketiganya. Kasur di samping jendela, lemar dan televisi ya g menempel di dinding. Seperti kamar kos yang simple tapi menenangkan dan aku menyukainya.
"Kamu nggak perlu bantu-bantu asisten lain, fokus pada Mas Rama saja ya, Ri. Semua asisten sudah punya jobdesk masing-masing, jadi kamu tak perlu merasa sungkan. Ibu akan lebih senang jika kamu bisa membuat Rama tak sebrutal sekarang." Wanita cantik dan modis di usianya yang tak lagi muda itu pun menepuk pundakku pelan dengan senyum yang menawan.
"InsyaAllah, Bu. Saya akan berusaha semaksimal mungkin dan akan menjalankan pekerjaan ini dengan baik. Semoga tak mengecewakan ibu dan juragan Ginanjar." Ibu Farida kembali mengangguk lalu memintaku menyimpan tas berisi beberapa potong pakaian itu ke dalam lemari.
"Ayo saya kenalkan sama Rama. Meski tadi dia sempat mendengarkan obrolan kita di bawah, tapi bagusnya saya kenalkan sekalian. Jadi, kalau dia butuh sesuatu biar tak sungkan." Aku pun mengiyakan.
Gegas menyimpan tas itu ke lemari lalu mengikuti Ibu Farida keluar kamar. Perlahan menutup pintu kamar lalu melangkah perlahan ke kamar Mas Rama yang hanya berjarak tiga meter saja dari kamarku.
Ibu Farida mengetuk pintu perlahan sembari memanggil nama anak tirinya dengan lembut. Namun, tak ada jawaban apapun dari dalam. Sampai panggilan ketiga, pintu kamar baru terbuka.
"Berisik! Ngapain sih? Ganggu orang tidur!" sentak laki-laki berambut setengah gondrong itu dengan ketusnya. Dia tak peduli meski di hadapannya kini adalah ibu sambungnya sendiri.
"Rama ...." Ibu Farida mencoba menepuk pundak lelaki itu, tapi ditepisnya kasar.
"Jangan pegang-pegang! Mau ngapain, hah?! Jangan sok baik, aku benci." Aku kembali menelan saliva melihat tatapan benci dari kedua mata lelaki itu. Namun, Ibu Farida tak mengubah sikapnya. Dia masih tetap seperti semula tanpa ada kemarahan sedikitpun di wajahnya.
"Rama, ini Riana, asisten baru kamu. Semoga kamu cocok dan dia betah kerja di rumah ini untuk kamu ya. Mama tahu kamu membutuhkan seseorang untuk bantu kamu, jadi--
"Cerewet! Aku nggak butuh! Semua bisa kukerjakan sendiri sejak kamu menghancurkan impian mamiku. Jadi, tak perlu merasa menjadi pahlawan kesiangan karena sampai kapanpun kamu tetap benalu dan manusia berhati iblis!"
"Astaghfirullah," pekikku lirih, tapi masih cukup jelas terdengar oleh kedua orang di depanku. Mereka menoleh ke arahku, membuatku semakin tak berkutik. Bingung mau berbuat apa, yang ada hanya kembali menundukkan kepala.
"Dasar manusia udik. Kamu mengambil asisten darimana? sss?!" tanya laki-laki itu sengit. Dia menaikan sebelah bibirnya saat tak sengaja bersirobok denganku.
Ya Allah, yang aku hadapi benar-benar setengah monster sepertinya. Bukan manusia sepenuhnya. Bagaimana ini? Haruskah menyerah sebelum berperang? Rasanya terlalu penge*ut jika itu kulakukan bukan?
***