BERTEMU RAMA

1004 Kata
BAB 6 "Gaji awal memang lima juta, tapi kamu tenang saja. Kalau kamu bisa sabar dan betah apalagi bisa mengajarkan hal-hal baik pada anak itu, saya pasti kasih tambahan atau bonus lebih. Soal itu kamu tak perlu risau. Entah mengapa saya merasa cocok dan yakin kalau kamu bisa menjalani pekerjaan ini dengan baik, Riana. Saya yakin kamu anak yang penyayang, tulus dan baik hati, makanya saya menawarkan pekerjaan ini. Saya percaya dengan ketulusan yang kamu punya pasti bisa menaklukkan Rama. Sudah belasan asisten yang nggak betah urus dia, semoga kali ini kamu betah ya, Ri. Maaf kalau saya kasih tahu buruk-buruknya dulu. Setidaknya biar kamu nggak kaget saat bertemu dia nanti." Aku mengangguk lagi lalu tersenyum tipis saat tak sengaja bersirobok dengan juragan Ginanjar. "Ohya, ini saya kasih gaji kamu di depan supaya makin semangat bekerjanya. Bonus sepuluh lembar karena kamu sudah tepat waktu. Anggap saja secuil tanda terima kasih karena kamu sudah menolong saya kemarin malam." Juragan Ginanjar kembali menjelaskan sembari menyerahkan amplop coklat itu untukku. Sementara sepuluh lembar uang seratus ribuan itu sengaja dia taruh di atasnya. "Tapi juragan, saya 'kan belum kerja. Masa udah dibayar dan dikasih bonus pula. Soal kemarin, saya ikhlas melakukannya, Juragan. Nggak minta balasan apa-apa," protesku lirih. Juragan Ginanjar kembali tersenyum. "Nggak apa-apa, Ri. Saya pun tahu kamu ikhlas menolong, tapi saya juga ikhlas memberi kamu bonus. Yg di amplop itu kan memang hak kamu. Jadi, tak perlu merasa tak enak begitu. Saya sudah suruh orang untuk cari tahu siapa kamu. InsyaAllah uang itu bisa kamu gunakan lebih dulu mungkin untuk tambah modal usaha bapak kamu atau yang lainnya." Aku semakin terharu dengan kebaikan lelaki di hadapanku itu. "Terima kasih banyak, Juragan. Saya ambil bonusnya dulu, soal gaji biar saya ambil setelah menyelesaikan kewajiban ya, Juragan. Tiap akhir bulan atau awal bulan depan saja supaya saya tak merasa punya hutang." Juragan Ginanjar kembali menghela napas lalu menatapku dengan pandangan berbeda. Entah karena apa. "Kamu anak yang polos dan jujur. Saya suka dengan cara berpikirmu itu, Ri. Semoga Rama pun cocok denganmu dan nggak neko-neko lagi." "Semoga ya, Juragan. Kalau begitu, apa saya bisa bertemu dengan Den Rama sekarang?" tanyaku kemudian sebab dari tadi tak kudengar suara anak di rumah ini. Apa iya dia masih tidur jam segini? "Jangan panggil Den. Dia nggak suka. Panggil saja Mas Rama." Aku pun kembali mengangguk. "Rama baru keluar, katanya pengin beli soto di warung langganan. Sebentar lagi paling pulang." Lagi-lagi aku mengangguk. Dalam hati harap-harap cemas bagaimana kalau nanti tiba-tiba anak itu menolakku? Duh, jurus apa yang akan kugunakan untuk merayunya? Apa aku ajak dia menggambar saja? Atau mewarnai? Atau-- Deru mobil di luar rumah membuatku semakin berdebar. Jurus-jurus andalan untuk menaklukkan kenakalan anak yang tadi sempat kususun pun mendadak buyar. Tak selang lama suara anak lelaki keluar dari mobil. Aku yakin jika anak itulah yang bernama Rama. Sepertinya memang cukup aktif. Anak itu lari ke sana sini tanpa kendali. Di belakangnya ada seorang wanita dengan gamis panjangnya, dia hanya geleng-geleng kepala melihat aksi anak lelaki di hadapannya yang super aktif dan lincah. Wanita itu pun tersenyum ke arahku lalu mencium tangan Juragan Ginanjar. Aku tahu itu adalah Bu Farida yang tak lain adalah istri sang juragan. Biasanya hanya melihat dari kejauhan, kini aku bisa melihatnya secara langsung. Begitu anggun dan cantik. Cocok sebagai pendamping juragan yang memang masih terlihat gagah dan tampan sekalipun sudah berumur. Setelah ibu Farida dan anak lelaki tadi masuk, muncul seorang lelaki di belakangnya. Wajahnya tampan dengan jambang tipis, hidung bangir dan sedikit lesung pipit. "Eh, ada tamu, Pa," ucapnya pendek saat tak sengaja bersirobok denganku. Aku pun tersenyum sembari mengangguk pelan sebagai tanda penghormatan. "Iya, Nif. Ini Riana yang akan jadi asisten Rama." Juragan Ginanjar menjelaskan. Laki-laki itu pun manggut-manggut. "Semoga betah menghadapi sikap Rama ya, Mbak. Asisten sebelumnya semua angkat tangan dalam hitungan hari saja." Laki-laki bernama Hanif itu pun terkekeh. "Nanti kalau dia keterlaluan, bilang sama saya ya, Ri. Kalau masih dalam batas normal dan kamu kuat menjalani pekerjaan ini, lanjut saja. Saya yakin kamu sabar dan telaten menghadapi dia. Sebenarnya dia nggak seurakan itu kok, dia baik hati dan lembut seperti mamanya dulu asalkan kamu bisa mengambil hatinya." Entah mengapa, hati mulai tak enak saat mendengarkan penjelasan Mas Hanif dan juragan Ginanjar kali ini. "Maaf juragan, bisa ngobrol dengan Nak Rama?" tanyaku kemudian. Tak ingin disesaki beragam pertanyaan, aku ingin langsung mengenal anak itu saja. "Nak Rama?" Lirih Bu Farida sembari menoleh ke kanan dan kiri di mana anak dan suaminya duduk. Mereka bertiga pun saling tatap lalu tersenyum tipis. "Bukannya itu Nak Rama ya, Juragan? Anak lelaki yang akan jadi bos kecil saya?" Ketiga orang di hadapanku justru terkekeh mendengar pertanyaan yang kuajukan. "Ya Allah, Pa. Gimana sih kamu, belum jelasin siapa Rama itu?" Bu Farida kembali protes setelah tawa mereka mereda. "Maafkan suami saya, Ri. Sebenarnya bukan anak kecil itu yang harus kamu asuh. Kalau dia sudah ada pengasuhnya sendiri. Hanya saja saat ini masih cuti pulang kampung, sementara ibu yang asuh sendiri." Penjelasan Bu Farida semakin membuatku bingung. Kalau bukan anak itu, lantas laki-laki mana yang bakal jadi bosku? Di tengah kebingunganku, terdengar deru mobil berhenti di garasi. Tak lama kemudian suara derap langkah kaki mulai mendekati pintu. Tanpa salam, laki-laki itu masuk begitu saja. Penampilannya jauh berbeda dengan Mas Hanif yang kalem, berwibawa dan tenang. Laki-laki itu justru sebaliknya. Tubuhnya tinggi, tegap dan kekar. Jambangnya lebat, tapi dicukur cukup rapi, rambut setengah gondrong, berhidung bangir dan beralis tebal dengan bahu yang lebar. Benar-benar kriteria cowok macho yang diidamkan banyak perempuan, andai dia tak seangkuh itu. "Nah, itu dia Rama," ucap juragan Ginanjar membuatku mendelik seketika. "I-- itu Mas Ramanya, Juragan?" tanyaku terbata sembari menunjuk laki-laki itu yang tak menoleh sedikitpun. Dia melenggang begitu saja tanpa peduli ke arah kami yang masih membicarakannya. "Iya, Ri. Itu Rama. Anak sulung saya dengan istri kedua yang telah tiada. Ibu Farida ini adalah istri pertama saya." Jawaban juragan Ginanjar benar-benar membuatku tersedak seketika. Pantas saja semua asistennya nggak ada yang betah. Sepertinya yang mereka hadapi bukan manusia biasa, tapi setengah monster. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN