Siapa yang berani menentang Zein di perusahaan Anggara? Seorang penerus sah dari putra tunggal keluarga Anggara. Seorang lelaki yang paling benci di lawan.
Lantas, apa sekarang posisi Chaerin akan terhindar dari pembullyan? Tidak, sepertinya Santi bukan orang yang takut akan yang namanya bos besar.
Seperti sekarang. Santi mengumpulkan kelima bawahannya, termasuk Chaerin. Dia memberi wejangan yang seakan dia paling benar.
Sebenarnya dia hanya menargetkan Chaerin untuk segala urusan. Bahkan Santi masih membahas masalah lembur kemarin.
“Baik, kita sama di sini. Tidak ada yang namanya senior atau junior. Tapi, yang namanya kepala divisi adalah atasan kalian. Jangan membantah atau mengajak adu argumentasi. Besar kecil kesalahannya, kalian tetap salah.”
Chaerin tersenyum mengejek. Bagaimana dia bisa lembur, kalau kerjaan dia sudah selesai?
Santi melihat Chaerin semakin tidak suka. Ini karena dia kemarin mendapat teguran dari Charles.
Tidak menyentuh Chaerin, hanya karena dia gundik sang bos? Jangan mimpi. Sudah jelas, Chaerin menjadi sasaran utama Santi saat ini.
Zein harus menjadi miliknya seorang. Dengan kecantikan lokal yang dimilikinya. Jelas bisa menarik perhatian Zein, menurutnya.
Menjadi nyonya adalah impiannya setelah masuk ke dalam perusahaan Anggara tiga tahun lalu.
“Chaerin, jangan besar kepala kamu. Mentang-mentang kemarin kamu di selamatkan pak Zein. Kamu tetap bawahanku, maka patuhlah!”
“Hmm,” jawab Chaerin enggan.
Chaerin bukan orang yang tidak bisa patuh. Tapi dia sangat benci senioritas. Santi sudah seenaknya menggunakan jabatannya untuk menindas bawahannya.
“Jawab yang benar!” bentak Santi yang tidak suka Chaerin menjawabnya hanya dengan deheman.
“Iya!” Chaerin menjawab kembali singkat.
“Bagus.”
Merasa besar, Santi pun puas. Padahal, di antara kelima orang itu tidak ada yang sama sekali mendukungnya.
Siapa Santi, jika tidak ada Charles di belakangnya?
Jam makan siang telah tiba, Chaerin langsung keluar ruangan karena sangat lapar. Neneknya tidak masak tadi pagi. Dan chaerin tidak mengharapkan itu pula dari seorang nenek.
Chaerin tidak memperhatikan jalannya, dia hanya ingin cepat sampai di kantin kantor. Tapi, di tengah jalan dia berpapasan langsung dengan sang bos besar.
“Chaerin! Apa begini caramu berpapasan dengan atasan?” seru Zein yang geram.
“Aduh, maaf pak. Ini panggilan alam, eh bukan. Ini.... Ini....” Chaerin gelagapan. Dia tidak bisa menjawab dengan benar pertanyaan Zein.
“Ke ruangan ku sekarang juga!” terlihat Zein sang bos sangat marah. Kali ini si anak baru itu pasti tidak akan selamat seperti kemarin.
“Tunggu, pak Zein tadi memanggil nama anak baru itu, kan?” Charles yang ada di tempat itu pun bertanya kepada rekan kerjanya yang lain.
“Iya, masa pak Charles tidak mendengar?”
“Aneh, pak. Sejak kapan pak bos mengingat nama karyawannya.” Charles masih penasaran.
“Iya juga ya. Kalau bukan kita berempat, pak Zein pasti tidak mengingat satu persatu dari mereka.” Jawab salah satu manager itu berpendapat.
Di ruangan Zein, Chaerin duduk di sofa tanpa di persilakan. Zein melihat aneh pada gadis yang ia nikahi seminggu yang lalu.
“Katakan, apa tujuanmu datang ke Indonesia?” tanya Zein duduk di depan Chaerin.
“Pak, apa bapak ingin mengintrogasi aku? Setidaknya kasi aku makan dulu. Perutku sangat sakit sekali. Tadi nenek tidak masak.” Chaerin masih memegangi perutnya yang melilit.
“Bawakan makanan ke ruangan ku secepatnya.” Zein langsung menghubungi orang kepercayaannya.
Tidak menunggu lama, Chaerin sudah mendapat makanannya. Di tengah-tengah makan, Zein langsung mengintrogasi nya. “Katakan alasanmu ke Indonesia sekarang juga.”
“Apalagi alasanku? Aku sudah di buang keluarga karena kesalahan yang bukan dariku. Aku yang di khianati, aku pula yang di usir dari rumah. Aku tinggal bersama nenek di sini, jadi aku harus kerja.”
Chaerin memang polos, dia tidak memiliki kecurigaan pun pada Zein yang mengetahui dari mana asalnya.
“Di mana kamu tinggal sekarang?” tanya Zein lagi.
“Di belakang sini pak. Aku memanfaatkan fasilitas kantor. Sayang kalau tidak di ambil.” Jawab Chaerin masih dengan makanan yang ada di depannya.
“Pindah saja ke apartemen. Ajak nenekmu, kamu tidak akan kelaparan begini. Ada pembantu yang akan mengurus kalian.” Sebodoh-bodohnya Chaerin, dia pasti sadar dengan keanehan bosnya ini.
Chaerin melihat Zein dengan teliti. Dia baru menyadari, jika mereka berdua terikat dalam pernikahan. Meski pernikahan itu hanya sebatas nama, mereka bukan pemuda pemudi lajang lagi.
“Dosa apa yang aku perbuat di kehidupan lalu? Tuhan, aku sungguh malang sekali bertemu denganmu lagi.” Cicit Chaerin memegangi sendok.
Zein menghela nafas melihat tingkah istrinya. Gadis ini cantik, putih dan memiliki perawakan mungil jika bersama dengan dirinya. Tapi, Chaerin lebih menonjol di antara rekan lainnya.
“Apa kamu mau tinggal di rumah besar langsung?” senyum jahil terlihat di bibir tipis Zein.
Meski memiliki kulit sawo matang, Zein bukan lelaki yang jelek. Senyum manis yang di lengkapi dengan lesung pipi di balik rambut tipis di pipinya. Mata sipit nan tajam, membuatnya semakin berwibawa.
“Tidak... Tidak. Aku cukup puas tinggal di apartemen dengan pelayan yang akan membantuku masak, nanti.” Ucap Chaerin secepat ia bisa.
Tinggal bersama dengan keluarga besar Zein? Bisa di pastikan, mereka akan tidur di tempat tidur yang sama. Jelas Chaerin tidak ingin ini.
Sudah cukup dengan menikah sembarangan, Chaerin tidak ingin terikat lebih dalam dengan orang yang ternyata memang kaya raya ini.
“Ya sudah, ini kartu untuk kamu berbelanja. Aku yang akan mengisinya setiap bulan. Uang yang kamu dapat dari bekerja, gunakan untukmu senang-senang.” Kata-kata Zein memang datar, tapi kata-katanya itu membuat seorang Kim Chaerin kegirangan.
“Oh Tuhan, karma baik apa yang sudah aku perbuat di kehidupan sebelumnya?” Chaerin langsung melompat memeluk Zein.
Tapi, siapa yang menyangka kalau hal itu terjadi bertepatan dengan Charles masuk ke dalam ruangan. “Maaf, saya akan datang sepuluh menit lagi.” Kata Charles canggung.
Chaerin langsung melepas pelukannya, namun dia belum turun dari pangkuan Zein. Ini memalukan.
Chaerin masih di pangkuan Zein dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Zein baru pertama kali melihat gadis yang tidak memiliki rasa malu di depannya.
Biasanya, gadis yang di sodorkan padanya sungguh munafik. Bertutur kata lembut dan menjadi wanita terlemah di dunia. Hanya untuk mendapatkan simpati dari dirinya.
Tapi Kim Chaerin? Dia gadis yang berbeda. Dia polos, jujur dan terlihat tulus setiap tindakannya. Dia juga bukan wanita lemah yang selalu ingin berada di bawah perlindungannya. Wanita seperti inilah yang di inginkan Zein untuk mendampinginya.
“Gak usah malu. Dia bawahan suamimu.” Bisik Zein membuat wajah Chaerin memerah.
Chaerin membuka penutup wajahnya. Celingukan ke kiri dan ke kanan, mencari sesuatu. “Cari apa?” tanya Zein heran.
“Cari lubang buat mengubur diri.” Jawab Chaerin yang memperlihatkan wajah merahnya.
“Hahahaha, sini peluk lagi biar ilang malunya.”