Berita gosip

1152 Kata
“Pagi istriku?” Mata terbuka langsung melihat pemandangan yang begitu indah. Chaerin tak ingin pagi cepat berlalu. Tapi sayangnya, hari ini dia harus terbang ke Indonesia. Hari terakhir memang sangat melelahkan bagi orang yang habis bepergian. Tapi Chaerin tidak merasakan lelah itu. Terutama kelelahan untuk membereskan baju-bajunya. Karena Zein sudah melakukan semua untuknya. “Apa tidak bisa liburannya di tambah sehari lagi?” Rengek Chaerin. “Tidak, sayang. Hari ini kita sudah harus pulang, besok pagi aku ada meeting dengan klien besar dari China.” Zein menggendong Chaerin ke kamar mandi dan memandikannya. Mandi yang bisa di lakukan hanya dalam waktu paling lama tiga puluh menit. Kalau sudah berdua di kamar mandi, mereka memerlukan waktu paling sedikit adalah satu setengah jam. Itu yang membuat kedua orang ini harus terburu-buru kalau tidak ingin ketinggalan pesawat. “Ini semua gara-gara kamu. Lama sekali main-mainnya di kamar mandi.” Gumam Chaerin kesal. “Maaf, bukannya kamu juga suka? Lagian kamu juga nggak melawan atau menolak. Apa aku salah kalau menikmati? Tapi sepertinya bukan aku saja yang menikmati.” Jawab Zein tak ingin di salahkan. “Kamu itu lelaki, bukan sih? Nggak mau ngalah sama perempuan.” Pertengkaran pun tak terelakkan. Merasa tidak akan berhenti pertengkaran mereka. Zein mengambil inisiatif untuk mengalah. “Baiklah sayangku, aku salah, maafkan aku.” Tidak memiliki ekspektasi lain, Zein hanya ingin pertengkaran itu berakhir. Tapi, yang dia dapatkan malah di luar dugaan. Sebuah ciuman mendarat di pipinya. “Nanti mampir ke hotel dulu, mau?” tatapan genit membuat Zein tak bisa menolaknya. “Baiklah.” Perjalanan tujuh jam lebih membuat Chaerin merasa bosan dan kelelahan. Sedangkan Zein terlihat santai dan tidak merasa apa-apa karena tidur terlalu lama. “Zein, aku bosan.” Bisik Chaerin pada Zein yang masih menutup matanya. “Sebentar lagi juga mendarat. Sabar sebentar lagi.” Zein malah membawa Chaerin bersandar padanya. Chaerin dan Zein kali ini tidak menggunakan pesawat pribadi. Jadi keromantisan mereka di tonton oleh penumpang lain. Ada beberapa orang yang saat itu juga merupakan orang hebat, namun mereka adalah musuh perusahaan Zein. Mereka menggunakan moment itu untuk menjatuhkan seorang Zein Akbar Anggara sebagai pesaing bisnis. Mereka merekam dan memotret menggunakan ponsel. Tak lama pesawat memang mendarat dengan lancar. Mereka berdua bergandengan tangan untuk turun dari pesawat. Momen yang tak akan datang untuk kedua kali, bagi para orang yang ingin menjatuhkan keduanya. “Zein, aku merasa ada yang mengikuti kita.” Cicit Chaerin kali ini memeluk lengan Zein menunggu pemeriksaan koper. “Semua orang berada di belakang dan di depan memiliki tujuan yang sama dengan kita. Jadi jangan pikir macam-macam.” Apa yang di katakan Zein memang benar. Chaerin dan Zein menempatkan baju mereka di satu koper yang cukup besar. Jadi mereka tidak harus kerepotan membawa banyak tas. “Waduh, ada bapak Zein rupanya. Siapa ini? Apa ini....” melihat Chaerin dengan tatapan tidak menyenangkan. Dua orang itu tampaknya berpikir negatif pada Zein. “Oh, kenalkan. Ini nyonya Zein Akbar Anggara, Kim Chaerin.” Zein mengenalkan Chaerin pada dua orang yang sejak tadi mengincarnya. “Oh... Nyonya? Berapa lama? Aku bahkan tidak mendengar kalian menikah. Tepatnya, apa benar kalian nikah-nikahan?” tanya salah satu orang berperut buncit. “Pak Hasan terlalu jujur, aku bahkan yang merupakan saudara dari ibunya pun tak berani mengatakan hal itu.” Kali ini, kakak sepupu dari ibu Zein ikut berkomentar. “Ah, aku bahkan lupa kalau kau itu pamanku. Tingkah mu tidak mencerminkan seorang yang berpendidikan. Makanya aku lupa dari mana asalmu.” Jawab Zein sarkas. “Dasar bocah tidak tau diri! Aku pamanmu, meski jauh. Hormati aku!” Chaerin tak banyak bicara, langsung meletakkan tangannya di kening. Sebagaimana seorang hormat pada bendera yang berkibar. “Sedang apa kamu?” tanya Zein heran melihat tingkah laku istrinya. “Hormat. Dia minta di hormati, ya aku hormat.” Zein seketika mengerutkan kening karena menahan tawanya. “Benar juga.” Zein ikut hormat dan melepas kembali setelah beberapa detik. “Sudah puas, bukan? Itu hormat bukan respect. Kalau mau orang menghargai kamu, hargai dulu orang lain. Paling tidak, hargai dirimu sendiri kalau orang tidak mau menghargai mu.” Zein pergi meninggalkan dua orang yang larut dalam amarah. Zein dan wanita itu sungguh berani membenamkan keduanya dalam lautan amarah. Sungguh di sayangkan, apalagi jika video dan foto mereka yang bermesraan di pesawat akan tersebar luas. Pasti keduanya akan merasa malu dan perusahaan akan terkena imbasnya. Zein santai, sedangkan Chaerin tak tenang kala melihat unggahan seseorang di laman berita. Di tambah, foto dirinya terlihat jelas tengah menggoda Zein. Bahkan, di sana juga tertulis bahwa dirinya adalah penggoda para taipan muda. Ini sangat mengganggunya. “Kenapa? Katanya kamu mau mampir ke hotel? Sudah sampai kok kamu malah nggak mau turun.” Zein bahkan sudah mengulurkan tangannya untuk menyambut Chaerin. Tapi istrinya malah memandangnya dengan sedikit ketakutan. “Ada apa?” Tanya Zein merasa aneh. “Kita langsung pulang saja. Ini juga sudah sangat malam.” Kata Chaerin menunjukkan jam di ponselnya. “Oke!” Zein tak ambil pusing, dia yang juga kelelahan pun lebih memilih untuk diam dan pulang ke rumah besar. Hari sudah sangat larut, tapi lampu rumah masih terang benderang. Ada apa ini sebenarnya? Bukankah Chaerin ada bersama dirinya? Kenapa seperti ada sesuatu yang terjadi. “Kenapa belum tidur?” tanya Zein kala melihat kakeknya yang masih terjaga. “Apa kamu bertemu dengan pamanmu? Dia mengatakan apa saja?” pertanyaan yang membuat Zein kaget. Bagaimana bisa orang rumah tau kalau dia bertemu dengan pamannya di bandara? “Iya, apa dia bicara...?” “Aku tidak malu atau bagaimana memiliki Chaerin sebagai menantu. Tapi, kalau ada berita seperti ini juga aku tidak suka!” kakek Zein melempar ponselnya ke meja di depan cucunya itu. Zein melihat dan membaca berita tentang dirinya dengan Chaerin. Di sana juga ada video dan beberapa foto mesra mereka berdua. Zein melihat ke arah Chaerin, sebelum bertanya. “Apa ini yang kamu sembunyikan dari aku dari tadi?” tanya Zein tapi Chaerin masih belum berani membuka mulutnya. “Berapa kali aku mengajakmu mengadakan pesta? sekarang terjadi juga yang aku takuti.” “Maaf, aku sudah membuatmu kesulitan.” “Bukan kamu yang harus minta maaf, tapi mereka dan Zein! Dia yang seharusnya mengatakan kalau kamu itu istrinya.” Kakek terlihat sangat marah. Ini kali pertama semenjak kematian orang tua Zein. Karena selama ini kakek Zein lebih memilih untuk diam dan mengurung diri. Semua di serahkan pada istrinya yang merupakan nenek dari Zein. “Maaf, Zein salah. Besok aku akan melakukan konferensi pers.” “Tidak, jangan lakukan itu. Kalau aku bilang, ini lebih baik. Kita tidak melakukan scandal apa pun. Ini bisa menarik para investor penasaran dan memancing investor yang tidak setia pada kita.” Chaerin belajar dari pengalaman. Karena hanya investor yang setia dan percaya saja yang ada di pihaknya. Bukan investor yang tidak percaya dan lebih percaya pada berita bodong. “Benar juga. Mereka pasti akan mencariku besok. Ya sudah, kita istirahat sekarang. Aku juga lelah.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN