Dilupakan Ayang

1307 Kata
Nara mondar-mandir di selasar kelasnya. Hari sudah sore dan langit kelabu membentuk mendung yang segundah hatinya. Gadis itu cemberut sambil berjalan tak tentu pikiran. Mengecek layar ponsel dan tak ada hal lain selain pesan dari operator. Apa yang dia nanti? "Kok kayak gini sih?" gumamnya kesal. Nara melipat tangan di d*da, lalu mondar-mandir lagi. "Harusnya 'kan dia ngabarin. Selamat pagi, kek. Sore, kek. Kamu udah makan, minum dan berak belom? Pacaran tuh kek gitu bukan, sih? Dia malah hilang macam dosen pas ditanya bimbingan. Padahal gue inget kok semalem tukeran nomor." Angin berhembus meniup rambut panjang Nara. Tanpa diperdulikan, gadis itu tetap menggerutu. "Apa keputusan yang gue ambil ini salah ya?" Dia bertanya pada dirinya sendiri. Memandang wajahnya di pantulan jendela kelas. "Ga ada yang salah kok. Keputusan apapun, punya dampaknya sendiri. Itu 'kan yang selama ini jadi prinsip kamu?" kata seseorang. Nara berdiri memunggungi. Bulu kuduknya sudah merinding kala mendengar suara itu. Dia tak ingin berbalik, tapi permukaan yang hangat tiba-tiba menyentuh bahunya. Membuat gadis itu bergidik sembari membalikkan badan dan mundur selangkah untuk menghindari sentuhan lanjutan. "Hai!" sapa Razan. "Lo?" Nara ingin menghilang saja. Kenapa juga dia harus bertemu pria itu lagi? Apa ... mereka sekarang satu kampus? Razan mengangguk ketika Nara tengah memikirkannya. Seolah bisa membaca pikiran. "Habis mondar mandir setengah jam, kamu pasti pusing. Nih, ssuu hangat buat kamu." Tangannya menyerahkan kotak kertas biru bergambar sapi. "Gausah. Gue punya," tolak Nara. Dia memperhatikan wajah tanpa dosa itu. Ingin sekali Nara menamparnya, mengganti pukulan El, waktu mereka masih SMA. Lagi pula sudah tak ada yang membuat Nara terpesona. Wajah tampan Razan terlihat pasaran saat disandingkan dengan kelakuan brengseknya. "Anu ...." Razan menatap gunung kembar di balik baju Nara. Emang bisa diminum? "Gue punya!" Nara menegaskan kembali sambil menyipit curiga kalau Razan salah paham. Dia kemudian mengeluarkan sekotak su*u sapi 600 ml dari kantongnya. "Percaya?" Razan menggaruk belakang kepala. "Yaudah deh. Padahal kamu bisa terima dua-duanya buat stok nanti malem." Razan sedikit kecewa. "Btw, nanti malam keluar yuk!" ajaknya kemudian. "Ngapain?" tanya Nara. 'Agak gila,' pikirnya. Padahal baru kemarin Nara menolak Razan. Sepertinya laki-laki itu belum ingin menyerah. Nara ingin muntah mendengar Razan bicara dengan logat aku-kamu. Seolah mereka punya hubungan spesial saja. "Ngopi? Nonton? Atau melakukan sesuatu yang kamu suka?" tawar Razan. Nara terkekeh. "Cari cewek lain!" tegasnya. "Gue—bukan cewek yang suka begituan." "Trus, kamu sukanya apa?" tanya Razan. Matanya fokus, seolah di dalam otaknya ada sosok lain yang siap mencatat. Nara terdiam sejenak. Dia menghela napas. "Gue sukanya dugem dan kobam sampai pagi," jawabnya dengan penekanan. Gadis itu kemudian berlalu begitu saja. Dia tak peduli imagenya yang mungkin hancur di depan Razan. Toh, sepertinya itulah yang terbaik. Razan tak mungkin mengejar wanita yang menyukai minuman alkohol 'kan? Nara kenal Razan. Fakta itu akan menyakiti gengsinya. Sepasang kekasih sedang berjalan di lorong yang mengapit dua kelas. Tersenyum sembari bergandengan tangan, menikmati detik-detik berbahagia dengan semilir angin dingin yang menarik mereka untuk segera berpelukan. . "Aku gak sabar deh nunggu sweet 21 kamu." Daffa mencium tangan wanita cantik yang dia genggam. Seperti seorang pangeran yang memanjakan calon ratunya. Cinta tergambar jelas dari pantulan kaca mata. "Kamu udah siapin kado buat aku?" tanya El. "Udah dong," kata Daffa merasa bangga. Mata El berbinar seketika. "Mana? Kasih sekarang aja." Elvira tertegun dengan rasa penasaran. Dia menunggu dengan perasaan berdebar-debar ketika Daffa mulai merogoh kantong celananya. Tangan kiri Daffa mengepal di depan El. Gadis itu menunggu apa yang akan dikeluarkan pacarnya. Mungkinkah, cincin? Daffa mengeluarkan jari telunjuk dan ibu jarinya yang dibuat membentuk simbol cinta ala korea di depan wajah. Gadis itu tersipu, menepuk bahu Daffa. "Ah, kamu bisa aja," kekehnya. Walau di lubuk hati, dia merasa kecewa. Apaan anjir? Garing banget. Hellow!! Lu pikir ini jaman cinta monyet? Memangnya mereka masih remaja? Meski begitu, El masih saja tersenyum manis dan menghargai setiap pemberian pacarnya. Tak ingin menyia-nyiakan ketulusan itu. Dia mengerti Daffa masih belum mapan untuk membelikan berlian. Diam diam El memahami dan kecewa sendiri karena tak melihat effort lebih dari kekasihnya, sekalipun mereka berkencan bertahun tahun. Dari arah lain, terdengar hentakan kaki yang amat keras. Terdengar kesal dan cukup menyebalkan untuk merusak suasana romantis dalam halusinasi seseorang. Terutama saat si gadis berkuncir kuda melihat pelaku adalah sahabatnya sendiri, datang dengan wajah cemburu dan ambisi untuk meledakkan dunia. Seketika Elvira ingin menggaruk tembok. Kenapa sih, dia harus punya teman yang tak bisa baca suasana? "Kenapa sih, Ra?" tanya El pasrah ketika melihat wajah Nara merenggut kesal di depannya. Seakan sudah tak aneh, karena tak ada hari tanpa kegalauan di hidup Nara. "Lo! Lo lama!" tunjuk Nara sembari memaki. "Lo nungguin gue?" "Bukan! Gue nungguin pacar gue ngabarin!" El tertawa. "Please deh, Ra. Lu jangan anggep gue pacar lu lagi. Kita udah dewasa. Nanti disangka gue sama gesreknya kayak lo." "Ini pacar beneran," tukas Nara. "Gue sekarang punya pacar!" El kembali tertawa. "Udah, sana pulang. Jangan ngehalu dulu, malu tuh sama matahari. Kerjain jurnal dari sekarang. Soalnya malam minggu nanti gue mau ngerayain sweet 21." "Ya itu kan bisa nanti. Gue beneran pengen cerita." "Cerita ke pacar lo aja. Katanya udah punya." El melenggang pergi begitu saja. Meninggalkan Nara yang menghentak kaki, mencari perhatiannya. Bibir Nara kembali cemberut. Menyebalkan sekali rasanya. Semenjak punya pacar, El lupa kalau dia punya sahabat. Dan pacar baru Nara juga sepertinya lupa kalau mereka sudah pacaran. Nara jadi penasaran, apa pacarnya tipikal Bang Toyib yang selain lupa rumah, juga jarang mengabari? Nara harus memastikan itu agar dia tidak salah mengambil keputusan. Ketika hari menjelang malam, Nara mengirim pesan pada pacarnya untuk bertemu di bar kemarin. Tanpa menunggu balasan, Nara meluncur ke lokasi. Suara bel saat pintu bar terbuka menjadi penyambut Nara. Berikut aroma kopi yang menyembunyikan alkohol di balik pintu tirai. Nara melangkahkan kakinya ke tempat saat dia bertemu Lingga, pacar barunya. Dan sesuai tebakan, pria itu ada di sana, sedang bekerja. Nara menghela napas kasar. Matanya bertatapan langsung dengan manik hitam Lingga. Membawa laki-laki itu menghampirinya. "Kamu kok ke sini?" tanya Lingga. "Kamu pikir apa?" Kekesalan Nara menggebu. "Kamu ga ngabarin. Aku pikir, kamu ninggalin aku." Lingga menggenggam tangan Nara, menuntunnya ke sebuah kursi. "Aku ga bawa HP. Lagian ngapain aku ninggalin kamu?" "Karena aku belum ngasih kamu browniss untuk bulan ini. Kamu pasti mau ninggalin aku." Nara ingat dia menjanjikan Browniss sebagai perayaan kencan mereka. "Ya ampun, Ra. Kita kan baru pacaran sehari. Ya kali brownisnya sekarang." Lingga menepuk jidat. Rambut sekitar kupingnya berkeringat, seolah baru kali ini dia berbicara dengan wanita. Gelagatnya pun gugup. "Iya. Baru pacaran sehari kamu udah lupain aku." "Kok jadi lain pembicaraan?" "Ini masih satu kasus." "Apa?" "Browniss!" tegas Nara. "Hah?" Lingga mulai bingung dengan gadis itu. Dia pikir Nara tidak jelas hanya saat dia mabuk, ternyata memang bawaan lahir. "Seenggaknya sehari sekali kamu harus ngabarin aku. Nanya apa, kek. Nyapa, kek. Jangan diem-dieman gini. Ga ada gunanya aku sewa kamu sebagai pacar. Ga guna juga dong aku beli Browniss tiap bulan buat bayar kamu." Lingga akhirnya mengerti dan mengangguk-angguk. Dia duduk di kursi yang sama dengan Nara. "Iya, iya. Maaf ya. Lain kali aku lakukan dengan maksimal," ucapnya terdengar meyakinkan. "Udah sini duduk dulu. Kamu emosi banget. Aku bikinin matcha, ya." "Nah. Gitu dong!" Secara ajaib mood Nara naik seketika. Dia tersenyum ketika Lingga berlalu dan menunjukan kemampuannya saat mengolah minuman. Sengaja Lingga memilih gelas yang cantik untuk wanita itu dengan beberapa hiasan tambahan yang tak akan dia berikan ke sembarang pelanggan. "Kamu pulang jam berapa? Malam minggu nanti bisa ikut aku ga ke pesta ultah sahabatku?" Lingga duduk di samping Nara. "Kuusahain ya." Nara menyandarkan kepalanya di bahu Lingga. 'Nah kalau kayak gini kan berasa punya pacar,' batinnya tersenyum. Nara merasa nyaman bahkan tanpa bicara. Dia menyeruput minumannya ditemani oleh lingga, hatinya merasa lebih lega. Sementara itu, lagi-lagi jantung Lingga berdetak tidak normal. tengkuk lehernya mendesir, merinding. Naluri memerintahan pria itu untuk merangkul bahu Nara agar semakin dekat dengannya. Namun, memangnya boleh?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN