Pesta Tanpa Tangisan

1334 Kata
Langit sudah semakin gelap. Selesai adzan isya dikumandangkan dan umat muslim melaksanakan kewajibannya, musik di halaman belakang rumah Elvina pun menyala dengan keras. Tamu berdatangan dengan pakaian mewah kebarat-baratan. Tempat berukur27x27 meter itu kian terpenuhi. Gemerlap lampu memeriahkan suasana. Tak jarang orang melintas dan berpose di area yang cerah untuk mendapatkan beberapa foto aesthetic meskipun mereka tidak diundang. Laki-laki nampak tidak sabar membuka pakaiannya dan meluncur ke kolam renang sambil menunggu acara utama. Beberapa orang lagi, terlihat mencolok karena datang walau enggan dan membawa kado sebagai rasa sungkannya menolak undangan Elvina. "Cari siapa, Kak?" Nara menghampiri salah seorang tamu yang nampak linglung. "Ini, mau ngasih kado ke El," ucap wanita lugu itu. Nara membentuk huruf O dengan mulutnya. "Taruh aja di sana. Mau gue panggil Elvira?" "Ngga usah. Saya titip kalau gitu. Saya gak bisa lama." Dia menyerahkan bungkus kotak di tangannya pada Nara dan berjinjit pergi dengan terburu-buru. Dari pakaiannya pun, dia sudah tidak niat ke pesta. "Seenggaknya 'kan makan dulu," gumam Nara. "Kambing guling kok dianggurin." Nara menggunakan A line dress dengan panjang 5 senti di bawah lutut, menengok ke sana ke mari sejak setengah jam yang lalu, mengecek ponsel kemudian menghela napas bosan. Beberapa teman satu angkatannya menyapa. Termasuk alumni SMA Gajah yang sudah lama tidak melihat Nara, mereka datang dan tiba-tiba berbincang tentang masa lalu. "Eh, lu udah jadian belum sama Razan?" Selalu seperti itu. Nara mencoba menghindar, tapi mereka cari penyakit dengan mendatangi Nara lagi. Padahal mereka hanya tidak bertemu satu tahun. Kemarin saat sweet 20 El, mereka juga menanyakan hal yang sama. Entah berapa kali Nara mengatakan, bahwa tak ada apapun di antara dirinya dengan Razan hingga saat ini. Namun mereka tetap tidak percaya. "Hai!" Suara yang paling Nara hindari tiba-tiba terdengar. Suasana jadi tambah rumit. Nara menaruh satu tangannya di wajah, memijat pelipis dengan pelan. Potongan cape di lengan gaunnya menjuntai, membuat kulit halus Nara terlihat. Sebisa mungkin, dia menghindari interaksi dengan pria yang pernah memorakporandakan hatinya itu. "Eh, Razan, lo kok di sini? Udah pulang?" tanya Veronnica. "Di mana Alena? Lu masih pacaran 'kan sama dia?" "Lu tau Razan punya pacar dan masih aja nanyain hubungan gue sama dia?" Nara mendengus kesal atas perlakuan Veronnica. Tangannya melipat di d**a. Terdengar kekehan dari laki-laki di sampingnya. Razan mengusap hidung mancungnya, menyembunyikan bibir yang tertarik di kedua sudut itu. "Engga. Gue udah lama putus sama dia," jelasnya. "Sekarang gue sama Nara—" "Sembarangan!" potong Nara cepat. Gadis itu ke pinggir, menjauh dari Razan. "Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Dan asal lo tau, gue udah punya pacar!" tegasnya kemudian. "Eh, serius lu, Ra?" Lusi, gadis di samping Veronnica menatap tak percaya. "Lu kan bucin banget sama Razan. Masa secepat itu sih lu ngusir dia dari list cowok idaman lo?" "Kok Lo baru bilang sekarang?" tambah Veronnica curiga. "Gue emang sebucin itu dulu. Cinta pertama gak ada yang mudah dilupain. Tapi sekalinya sakit, gue ga akan balik lagi," tegas Nara. Dia mengecek ponselnya, dan Lingga masih belum juga mengabari. Nara ingin sekali meninggalkan kondisi seperti ini. Tapi di mana pacarnya berada? "Ra, please kasih aku kesempatan kedua." Razan tiba-tiba ambil suara di tengah bisik-bisik tetangga. "Lo ngga berhak. Gue gak punya alasan buat nerima lo lagi," ucap Nara. Veronnica mendelik. "Cih, so' jual mahal. Lo pikir satu sekolah ga tau seberapa besar cinta lo buat Razan? Dari dulu bilang ga suka. Begitu diambil orang, siapa yang lo salahin?" Masih terbayang peristiwa yang menggegerkan di masa sekolahnya dulu. Tentang Elvina yang sampai menendang buah berharga Razan saking marahnya. "Gue ga heran sih kalau Razan lebih milih Alena," sambung Lusi. "Tuh, lo denger sendiri kan?" tanya Nara pada Razan. "Alena udah paling cocok buat lo. Kenapa lo malah balik lagi ke sini, sih?" "Aku cinta sama kamu, Ra. Aku tau ini terlambat. Tapi gak ada salahnya 'kan kasih aku kesempatan?" balas Razan. "Kita bisa mulai dari awal." "Engga. Gue udah bilang, gue sekarang punya pacar." "Mana pacar lo?" Veronnica menantang. Seolah dia menyangkal, dan tak percaya kalau gadis seperti Nara memiliki cinta selain Razan. Lingga baru saja memasuki pintu bertuliskan selamat datang. Dia datang bersama ketiga temannya, menyimpan kado untuk El di atas meja yang disediakan, kemudian kembali berbincang dengan senyum merekah. Nara melihat ke arahnya. Sudut mata gadis itu menahan untuk tidak menangis. Bertanya-tanya, kenapa begitu lama Lingga datang? Nara meninggalkan ke tiga teman lama yang merundungnya. Dia pergi, untuk menarik Lingga pada mereka. "Ini pacar gue!" ucap Nara. Lingga perlu beberapa waktu untuk sadar keadaaan apa yang menyeretnya. Dia melihat Nara, riasan yang dipakai gadis itu sangat cantik. Lingga terpesona dan terdiam di tempatnya. 'Ini cewek gila gak bisa berhenti bikin deg-degan apa, ya? Grasak Grusuk mulu dari kemarin' pikir Lingga. "Cih, main narik orang lain aja," ucap Lusi. Tatapannya jijik, namun lebih menjijikkan riasannya yang kini luntur. Dia pasti merasa panas karena Nara berhasil membuktikan ucapannya. "Lo yakin? Ini cowok kayaknya kenal lo aja enggak," kekeh Veronnica. "Ra, ini bercanda 'kan?" tanya Razan. Dia merasa sesak saat melihat tangan Nara dan pria di sampingnya saling terpaut erat. "Hai. Gue Lingga, jurusan arsitektur, pacarnya Nara." Lingga mengulurkan tangan. Semua tertegun dan menolak percaya. Namun senyum di wajah pria itu nampak tulus dan sungguhan. Razan langsung menepis tangan itu. "Jangan berani-berani lu bercanda sama gue. Ngomong! Lu dibayar berapa sama Nara?" tanyanya kasar. Mata Razan melotot tajam, hendak menggertak Lingga agar mengaku. Nara mendecih. "Lo menjijikkan tau, gak!" "Ra, kamu gak harus ngelakuin ini buat nguji aku," bantah Razan tak terima. Dia berani mempertaruhkan semuanya untuk membuat Nara kembali. Menyelesaikan kisah yang sebelumnya selesai tanpa permulaan. Namun semua udah terlambat. Waktu berlalu dan Razan tahu, hati manusia mudah berubah. Nara terkekeh mengejek. "Lo pikir, lo siapa sampai gue harus nguji lu?" tanyanya. Nara akui hubungannya dengan Lingga hanya sebatas kontrak. Tapi dia tidak menyewa seorang pacar untuk menarik Razan, melainkan untuk membuatnya jauh. Dan Razan bukan satu-satunya alasan kenapa Nara ingin pacaran kontrak. Tak disangka, keputusannya membuat salah paham tambah parah. "Apa lo gak ngerti? Gue udah buang banyak waktu buat ngejar lo dulu. Dan sekarang gue udah punya seseorang yang jadi milik gue. Jadi please, biarin gue bahagia," tekannya. Setelah pertunjukan drama itu, Nara memutuskan untuk menarik Lingga menjauh. Tanpa disadari, semua orang menjadikannya pusat perhatian. Nara benar-benar malu saat melewati mereka. Dia menutup wajahnya. Kalau di dunia ini ada peri, Nara ingin menghapus ingatan masa lalunya dari memori semua orang. Flashback 4 tahun lalu Nara diam-diam mengikuti Razan ke sebuah mall. Dia tahu Razan bukanlah orang berada seperti dirinya ataupun El, karena itu Nara penasaran dan memutuskan untuk menguntit. Razan nampak melihat-lihat sebuah setelan lengkap yang cocok jika dipakai ke sebuah pesta. Namun ketika melihat harganya, laki-laki itu ciut dan beranjak pergi. Nara memantaunya hingga laki-laki itu pulang tanpa membeli apapun. Dia lalu kembali lagi ke toko yang terakhir kali dikunjungi Razan dan membeli setelan itu. Di sweet 17 El, Nara datang dengan gaun spesial. Gaun itu diciptakan sepasang. Bagian laki-lakinya telah dia berikan kepada Razan melalui kurir suruhannya. Namun ketika pesta dimulai, yang memakai justru adalah orang lain. Sementara Razan? "Kok dia gak peka sih?" tanya Nara pada El. Razan malah datang dengan setelan biasa. Hatinya terasa sesak, karena pengorbanannya tak kunjung dilihat juga. "Lo yang gak peka," sahut sahabatnya. Ini seperti penghinaan. Baju itu harganya di luar uang saku Nara. Dia sampai harus paruh waktu di hotel sang ayah agar dapat uang tambahan. Namun apa yang terjadi? Baju itu malah dipakai oleh orang yang tidak diinginkan. Andai bukan karena Razan yang tidak tahu apa-apa soal perasaan Nara, gadis itu pasti sudah marah meledak-ledak sambil merobek baju yang dikenakan. "Gue justru terlalu peka sampai rela disakitin berulang kali," ucap Nara. "Engga. Sebenernya Razan udah terang-terangan ngasih kode kalo dia gamau couple-an sama lo. Tapi lo ngga peka dan malah makin berharap. Lo terlalu, arrggh." Elvina meremas kepalanya sendiri. Nara lemas. Dia tak ingin melakukan apapun lagi. Dia tak punya tenaga untuk melanjutkan pesta. Air matanya mengalir. El sebagai sahabat yang baik, memeluknya dan membiarkan dia menangis. "Aduh Nara ... Nara. Kapan ya tololnya sembuh?" Flashback off
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN