Terima Kasih Untuk Malam Ini

1551 Kata
Nara masuk tanpa permisi ke kamar El dan mulai menangis sejadi-jadinya. Mengeluarkan apa yang terjadi barusan, sehingga El tak punya pilihan selain mendengarkan. Daffa yang sedang bermesraan dengan pacarnya, cemberut dan sedikit jengkel. "Gue gak sanggup, El. Rasanya gue pengen kembali ke masa lalu dan memperbaiki semuanya. Ini bener-bener memalukan. Lagian kok orang-orang masih inget aja sih?" El mengusap punggung Nara. Bibirnya ikut mengeriting, sebab gaun indahnya mulai ternodai oleh ingus seseorang. Belum lagi Daffa yang tak mau pergi, mendaratkan dagunya di bahu El yang terbuka. El merasa punya dua anak bayi dan keduanya tengah merengek sekarang. Nara mengangkat wajah. Mata sembabnya menusuk mata El. "Lagian lo, sih! Kok pake acara ngundang Razan segala?!" cetusnya menyalahkan. El menghela napas. "Gak enak lah, Ra. Dia satu fakultas sama kita." Nara mengelap air matanya. "Oh iya?" "Iya. Di kelas dia suka ngeliatin lo. Masa lo gak nyadar, sih?" El terkejut. Nara yang waktu SMA selalu peka akan kehadiran Razan, tiba-tiba tak mengenali aura laki-laki itu lagi. Dia sudah terlanjur move on jalur illfeel. Apalagi saat pria itu kembali dan mempersulit hidupnya lagi. "Trus Lingga?" tanya Nara selanjutnya. Sendu masih melengkapi. "Dia satu fakultas sama gue. Makanya dia diundang ke sini," jawab Daffa. "Btw, sejak kapan lo pacaran sama dia?" "Bukan urusan lo." Nara kembali mengelap air matanya. Nara membenci Daffa. Lagipula tanpa diundang tuan pesta pun, Lingga harus datang untuknya. Terdengar suara pintu diketuk dari luar, kemudian terbuka dengan sendirinya. Penampakan Lingga langsung muncul. Pria itu menggunakan kaos hitam dan jas kasual. Rambutnya di sisir ke belakang dengan rapih. "Nara, bisa bicara bentar, gak?" Jantung Nara langsung berdegup kencang saat Lingga menatap. Masalahnya, mereka sepakat untuk menunjukkan hubungannya di depan Razan saja. Dan sekarang, teman seangkatan mereka sudah tahu kabar pacarannya. Nara menelan ludah, seolah bersiap untuk diomeli. Dia berdiri dari ranjang El, menatap pasangan itu dengan muka yang cemberut. "Gue pulang duluan ya," pamitnya. "Iya, deh. Lagian make up lo udah luntur gitu." El memasang wajah kecewa. Padahal pestanya saja belum dimulai. "Apa?" Nara memekik sambil menutup separuh wajahnya. Dia meraih cermin di meja El, kemudian melihat riasan yang sudah hancur. "Gawat! Gue pinjem bedak lo dong," ucapnya histeris. "Ada di laci," tunjuk El. Dia lalu melihat ke arah Lingga. "Problem wanita. Harap sabar ya," ucapnya pada laki-laki itu. "Kalo gitu, aku temenin Lingga dulu ya, Sayang," ucap Daffa. Berdiri, sambil mengecup pipi kiri El. El pun mengangguk. Detik berikutnya, kedua pria itu pergi. Pintu tertutup, meninggalkan sunyi. El menatap Nara. "Gue bersyukur lo dapat pacar di kondisi begini," katanya. Dia juga mengenal Lingga walau hanya sepintas. Laki-laki itu adalah orang baik. Dia yakin Lingga takkan menyakiti sahabatnya. Nara yang masih sibuk mengatur riasan tidak menggubris perkataan El. "Beb?" panggil El sekali lagi. Sejenak dia merasakan bagaimana rasanya diacuhkan teman sendiri. Nara mengoleskan bedak padat satu lapis lagi. "Apa, Yam?" jawabnya tanpa melirik. "Menurut lo, Daffa berubah ga sih?" tanya El. "Engga. Tapi gue pikir, itu yang jadi masalahnya," jawab Nara langsung, seolah menebak keresahan El. Yap. Pria itu tidak berubah. Masih kekanakan seperti dulu. "Gue merasa dia udah gak mau merjuangin gue lagi." "Itu karena dia mikir, lo gak mungkin ninggalin dia," kata Nara. Gadis itu sudah selesai menutupi jejak tangisnya dengan bedak padat. "Kalo lo nanya pendapat gue, gue pasti akan nyuruh lo putusin dia. Jadi, jangan nanyain apapun. Gue pergi dulu. Nanti malem gue telepon buat dengerin cerita lengkapnya." Nara melenggang pergi dengan langkah buru-buru. Entah kemana cewek yang menangis tadi. Sikap cerianya kembali begitu cepat. Membuat El menghela napas saat melihat tingkahnya. Satu orang lagi telah meninggalkan pintu, menyisakan El sendirian bersama sepi. Di keheningan itu, dia bisa merasakan suhu AC begitu dingin. "Tapi ini kan udah malem." Gadis itu mendadak murung. Dia berharap Nara benar-benar menelpon. Di ruang tengah, nampak Daffa dan Lingga sedang mengobrol entah tentang apa. Saat Daffa melihat Nara datang, wajahnya langsung datar dan dia pun meninggalkan tempat. Nara menjadi bingung. Dia bertanya-tanya apa yang mereka bicarakan sebelumnya. "Kamu ga bocorin status kita ke dia 'kan?" tanya Nara pada Lingga. Cowok itu hanya menggeleng sebagai jawaban. Nara makin merasa bahwa Lingga sedang marah padanya. "Sayang ...." Nara merajuk. Lingga seketika menatap gadis itu. Matanya melebar, seolah tak percaya Nara mengatakannya. "Kamu marah sama aku?" tanya Nara sekali lagi. Lingga kembali menggeleng. "Trus, kok diem terus sih. Kamu ngacangin aku?Maaf, ya. Tadi tiba-tiba aku narik kamu. Pasti kaget ya? Padahal aku niatnya backstreet. Tapi malah terpaksa ungkapin semuanya demi harga diri pribadi,” jelas gadis itu. “Aku ga marah, kok.” henti Lingga menyanggah. “Kamu pasti … mau sama aku karena alasan tertentu. Jadi, its okay. Buat kita berdua sama-sama diuntungkan oleh hubungan ini,” jelasnya. “Trus? Apa yang menurutmu apa-apa?” “Emm … kita di rumah orang loh, Ra. Dan yang lain pasti udah pada ngumpul di taman belakang buat acara utama,” ucap Lingga. Itulah yang jadi masalahnya. Kenapa mereka malah asik dengan acara pribadi! Nara bersandar di pundak Lingga. Gadis itu kemudian menghela napas, seolah menghempas rasa lelahnya. "Udahlah, di sini aja. Berdua lebih tenang." Bulu kuduk Lingga terasa berdiri. Nara menyalakan televisi di ruangan itu. Film berjalan dan melantunkan intro yang sangat berisik. Bagaimana jika seseorang sadar dan menemukan mereka berduaan di sini? Memang benar mereka gak ngapa-ngapain, tapi bukan berarti gak bakal ngapa-ngapain, kan? Sepasang manusia ada di ruangan tertutup tanpa pengawasan orang dewasa. Setan pasti berlomba membisikkan kemaksiatan. “Ra, ke tempat awal aja, yuk,” ajak Lingga. “Ogah, ah. Banyak banget yang tujuan hidupnya mau rusuhin aku. Jadi malas mau berbaur,” tolak Nara. “Kok bisa?” “Aku ‘kan tokoh utamanya.” “Kalau gitu ke kafe aja, yuk,” ajak Lingga lagi. Kemanapun itu, asalkan tidak berduaan di tempat sepi. Lingga benar-benar tak tahan dengan ketidaknyamanan ini. Merasakan aura jahat terus menyuruhnya ambil kesempatan terhadap tubuh seorang gadis yang patah hati. Jangan salah. Lingga juga adalah pria dewasa yang punya hasrat. Bedanya, dia waras. Untungnya kali ini Nara setuju untuk beranjak. Tautan jemari Lingga menyusup menggenggam tangan Nara. Keduanya tersenyum, kemudian berjalan berdampingan ke kafe terdekat. Lingga tak banyak bicara. Memperlihatkan dengan jelas bahwa ini kali pertamanya punya pacar. Nara turut merasa canggung. Tak tahu apa yang Lingga rasakan ketika berjalan bersamanya. Apa jangan-jangan, pria itu malu? Sesekali, Nara curi pandang untuk memastikan firasatnya benar. "Sayang ...." Nara merajuk. melingkarkan tangannya di lengan sang kekasih dengan manja. Lingga seketika menatap gadis itu. Sekujur tubuh langsung kaku. Matanya melebar, seolah tak percaya dengan apa yang Nara katakan barusan. "Kamu marah sama aku?" tanya Nara sekali lagi. Lingga menggeleng. "Trus, kok diem sih. Kamu ngacangin aku?" "Eh, anu. Kita … udah mau sampai di kafe," ucap Lingga terbata. Dia tak tahu harus menjawab apa dan mengatakan apa di situasi seperti ini. Lingga menuntun Nara untuk duduk di kursi luar. Kemudian pria itu masuk ke dalam untuk memesan sesuatu. Nara terdiam. Udara dingin menusuk tulang. Rasanya seluruh tubuh bisa membeku. Padahal ini baru pukul sembilan malam. Lingga datang kembali dengan seporsi browniss ukuran ekstra dan dua buah kopi dingin. Laki-laki itu meletakkannya di atas meja, tepat di depan Nara. Melihat pacarnya kedinginan, Lingga pun membuka jas kasualnya dan dipakaikan di punggung gadis itu sebelum dia mengambil duduk. Nara tertegun, tak menyangka mendapat perlakuan seperti ini. "Kenapa pake baju yang tipis? Udah gitu, kok lengannya sobek?" tanya Lingga. "Ini namanya fashion, tau. Lagi musim di korea," kata Nara meledek. Kemudian menempelkan tubuh ke samping Lingga agar semakin terhangatkan. “Kamu beli apa?” “Browniss. Sama kopi. Makanan manis itu enaknya dinikmati bersama minuman pahit. Sayangnya di sini gak jual teh,” jelas Lingga. Nara terkekeh. Pacar bayarannya itu, ternyata sangat suka browniss. Padahal dia sendiri sudah manis. “Kamu udah sering ke sini?” tanyanya. Lingga bergumam sebagai jawaban. Dia menyendok browniss dengan sendok kue kecil, kemudian mengarahkannya ke bibir Nara. "Makan dulu biar gak kedinginan, aaaa ...," katanya. ‘Damagenya gak ngotak,’ batin Nara tersipu. Gadis itu menutup wajahnya, menyembunyikan senyum yang melebar. Antara ingin terbahak dan menangis, namun malu jika dilihat orang-orang. Karena ini pertama kalinya seorang cowok menyuapinya, Nara merasa terharu. Gadis itu membuka mulut pelan-pelan, lalu melahapnya. Krim yang ada di atas browniss itu mengotori sudut bibir Nara. Lingga mengambil tisu lalu membersihkannya. "Pacar itu harusnya begini, kan?" tanya Lingga. Dia hanya membacanya di komik dan khawatir apa gaya pacarannya bersama Nara terbilang norak. Sementara itu, di seberang kafe terlihat cowok lain berdiri dan terpaku. Setelan pakaian yang dia gunakan sudah cocok jika disandingkan dengan Nara. Seolah diciptakan sepasang. Namun wanita yang dinanti, sedang bermesraan dengan pria lain. Razan merasa sesak. Dia memukul dadanya sendiri. Nara mendeteksi kehadiran Razan di sekitarnya. Helaan napas terdengar begitu berat. Hati kembali merasa sesak, jika mengingat apa yang terjadi tiap kali El merayakan ulang tahunnya. Di tanggal yang sama setiap tahunnya, selalu ada kepingan hati yang patah dari luka yang sama. Dan Nara bodoh, baru menyadari saat dia sudah hancur. “Kenapa? Apa aku belum cukup baik jadi pacar kamu?” tanya Lingga cemas. Melihat ketidakpuasan di mata Nara. “Kurang satu hal,” ucap Nara. “Apa?” Nara mengulurkan tangannya, menarik kerah pakaian Lingga agar pria itu sedikit menundukkan kepala. Lalu tanpa aba-aba, kecupan mendarat di bibir pria itu. Membuat mata spontan terbelalak, saling menatap iris masing-masing. Dan kewarasan yang dijunjung tinggi pun, sirna seketika. "Makasih ya buat hari ini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN