Suara hentakan kaki yang senada dengan langkahnya, membuat Nara merasa was-was. Apalagi saat gemersik dedaunan yang terinjak, terdengar ketika Nara baru saja berhenti.
Angin berhembus mengantarkan firasat aneh. Nara mempercepat jalannya. Dia tak mau mengambil resiko dengan berlagak seperti wanita tol*l yang tak sadar, bahwa seseorang sedang menguntitnya. Wanita itu berlari, menekan bel rumah El dengan barbar.
"El!" teriak Nara. Tak seorang pun menyahut. Dan di manakah para satpam yang biasanya siaga? "Punteeen! Paket!" pekik Nara, mengeluarkan jurus andalannya.
"Iya! Bentar!" Elvina si pemilik rumah langsung ngacir keluar dengan wajah sebalnya ketika menatap kedatangan Nara. "Lo nyari mati?" teriaknya tak terima. Dia sedang menantikan produk PO yang 7 hari ini belum ada kabar dari pihak ekspedisi. Beraninya Nara memancing emosi dengan candaannya yang tak lucu.
"Gue bakal mati beneran kalau lo gak buru-buru bukain pintu," balas Nara. Nyelonong masuk, kemudian mengunci gerbang dengan rapat. "Ayo masuk! Anggap aja rumah sendiri."
"Emang rumah gue, Bangke!"
Nara terkekeh. Posisi tuan dan tamu rumah tertukar sejenak. Namun, bukan itu yang jadi masalah utama saat ini. Nara ingin cepat menceritakan apa yang dia rasakan, setelah mengambil posisi di sofa. "Ini darurat!"
"Ada apa, sih?" tanya El penasaran. Wajah kesalnya masih belum sirna. Dia meletakkan kepala di bantalan sofa sembari menunggu Nara membuka mulutnya.
"Akhir-akhir ini, gue ngerasa ada yang ngikutin," ucap Nara.
"Halah. Kepedean."
"Gue serius!"
El menatap remeh. Orang macam apa yang berani ngutilin Nara? Kok, bisa? Maklum, El memandang Nara sebagai orang apes yang kisah cintanya gak pernah berhasil. Kini pun dia masih penasaran bagaimana caranya Nara tiba-tiba punya pacar.
"Ih! Gue serius!" tekan Nara. "Akhir-akhir ini beneran aneh. Gue gak pernah cerita sama siapapun soal gue lagi ngidam apa. Tapi tiba-tiba di loker, ada yang ngasih coklat, bunga, nutella, seblak, bahkan pembalut."
Wanita itu terlihat syok. Namun sahabatnya masih saja santai.
"Ya mungkin pacar lo," timbal El sembari menyalakan televisi.
"Gak mungkin. Dia tuh sibuk. Mana pernah dia ngurusin gue. Mikir juga boro-boro." Nara cemberut. Teringat bahwa status pacarannya hanya sebatas kontrak. Lingga sibuk bekerja sembari mengejar kuliah. Nara tak tega mengganggu pria itu, sehingga membiarkan hubungan mereka membeku begitu saja. Tapi sesekali, Nara menyempatkan berjumpa untuk tahu bagaimana kabarnya. Dan saat bersama Lingga, waktu berputar terlalu cepat. Telalu menyenangkan hingga tak sadar hari hampir berganti.
"Kalo gitu ...." El menunjuk-nunjuk dagunya ketika berpikir. Nara kembali fokus ke topik masalah saat ini. "Razan?" tebak El.
"Masa sih?"
"Kayaknya posisi kalian udah terbalik. Sekarang Razan bucin banget sama lo. Inget gak waktu di pesta? Kalian kayak pasangan yang nyingkirin gue sebagai penyelenggara pesta saking cocoknya baju yang kalian pake!" Ada nada kesal di balik fakta yang El ucapkan.
"Trus, lo merasa ini kabar baik?" tanya Nara. Dia gak nyangka El bisa mengubah pandangannya tentang Razan dengan mudah. Padahal sebagai sahabat, El harusnya marah kepada Razan. Secara, cowok itu udah nyakitin Nara.
"Ya bagus dong." El bertindak di luar dugaan. "Lo bisa balas dendam sekarang," tambahnya.
"Hah?"
"Dia udah ada di tangan lo sekarang. Terserah, mau lu dekap atau lu banting."
"Itu orang, El, bukan barang," ucap Nara. Yakali dia akan ngebanting Razan. Yang ada tangannya patah.
"Intinya, lu udah tau point yang gue maksud, kan?" El menatap serius.
Nara termenung. Apa balas dendam akan membuatnya puas? Tentu saja, luka itu masih menganga. Rasanya perih, sesak tiap melihat Razan. Bayang-bayang amarah menghantuinya. Detik di kala Razan dan Alena memandangnya rendah, benar-benar memuakkan. Namun jika Nara benar-benar menggenggam tangan Razan kali ini, bukankah dia melukai yang lain?
Nara sudah punya Lingga. Dia punya mentari baru. Untuk apa kembali pada kegelapan? Belum tentu juga Nara dapat merengkuh bulan.
"Lo masih inget hari itu?" tanya El.
"Kapan?"
"Hari di mana Razan mencuri uang kas kelas."
"Dia bukan--"
"Gue tahu lo pasti liat Razan nyuri uang itu. Lo balik ke kelas buat ngajak dia ke ruang prakarya."
"Aib sebaiknya dibungkam aja," ucap Nara tak mau membahas.
"Seenggaknya, lo harus minta ganti rugi atas semua yang lo keluarin buat dia. Lo sampai harus kerja di hotel milik bapak lo sendiri. Lo ngubur mimpi-mimpi lo, dan menanamkannya di diri Razan, cuma buat nerima penghinaan?"
Nara menghela napas. Kenapa mereka harus membahas ini? Tiap mengingat Razan, hati Nara sesak. Banyak sekali penyesalan yang belum bisa dia terima. Rasanya ingin mengutuki diri. Jijik.
"Kita lihat yang dekat-dekat deh. Saat pesta ulang tahun gue kemarin. Lo dipermalukan sama alumni kita, kan, Ra? Itu semua karena Razan."
"Trus gue harus gimana sekarang?" tanya Nara bingung. Dia rasa balas dendam bukan ide yang bagus. Sejauh ini dia hanya ingin hidup tenang tanpa Razan. Balas dendam, bukannya malah bikin mereka sering ketemu? Amit-amit deh.
"Ya gatau lah. Kok tanya gue." Di saat bingung seperti itu, Elvina malah ikut-ikutan angkat tangan. Dia mengambil cemilan di meja, meluruskan kakinya dan mulai ngemil santai sambil nonton televisi. Nara dicuekin lagi. "Inget-inget aja apa yang udah lo keluarin buat dia. Apa aja yang udah lo korbanin buat dia. Gue yakin, sebagai korban lu lebih tau balas dendam apa yang perlu dilakuin."
Nara termenung. Dia tidak ingin mengambil resikonya. Hanya diam, sembunyi dan lupakan. Tidak seorang pun akan paham meski dia menjelaskan. Nara tak butuh kata-kata maaf tanpa bentuk nyata. Jadi, apa yang harus dia lakukan?
Flash Back
Tengah hari, di kelas 12-A SMA Gajah.
"Razan! Lo nyuri uang kas kelas kita 'kan!?" Prisil menuduh dengan keras. Beruntung kelas sepi. Jika tidak, pasti akan mengundang perhatian.
Nara masuk ke dalam kelas, tepat saat pangerannya sedang dibentak. "Ada apa sih ini?" tanyanya.
"Ra, cowok lo ngambil uang kas kelas," adu Prisil.
"Ah. Masa sih? Jatuh kali. Cek dulu sebelum nuduh." Nara menimpali dengan santai. Sementara Razan menunduk dengan jemari yang gemetar. Takut ketahuan. Nara pun mengetahui hal itu, namun dia tetap bertahan di sisinya.
"Enggak ada, Ra. Lagian, selama kegiatan prakarya, yang gak ikut tuh cuma Razan. Dia di kelas seharian!" Prisil mengungkapkan semua kemungkinannya. Dia menunjuk salah satu sudut ruangan. "Mau cek CCTV?"
"Lo percaya CCTV kita nyala?" tanya Nara. Razan terlihat makin gugup.
"Kita coba aja lapor guru. Gue yakin Razan pelakunya."
"Ah. Gak mungkin." Nara menepis. "Razan, mending kamu ke ruang guru, deh. Pak Saiful manggil tadi," ucapnya mengalihkan.
"Enggak! Urusan kita belum beres," kukuh Prisil. "Keluarin dulu isi tas lo!" tegasnya pada Razan.
"Lo mau dimarahin Pak saiful?" ancam Nara kepada Prisil. Mereka sama-sama tau kalau guru itu salah satu mentak killer. Tak ada yang sanggup menghadapi marahnya manusia satu itu.
Prisil pun seketika tidak berkutip. Namun dia masih menatap Razan dengan dendam kesumat hingga laki-laki itu melangkah keluar dari pintu dengan tergesa-gesa. Dia tak mau memikirkan bagaimana nasib Nara. Toh, salah sendiri membantu orang yang salah.
"Gue benci lo, Ra," kata Prisil dengan mata menyipit.
"Gue juga sama," jawab Nara. Dia merogoh sakunya. "Berapa uang kas yang hilang?" tanyanya kemudian.
Prisil terkekeh menanggapi tantangan Nara. "Lo hitung aja. Sehari 5 ribu, dikali 36 siswa, dikali satu tahun."
Nara berhenti merogoh sakunya. "Gue gak pandai ngitung. Lo hitungin, trus kirimin nomor rekening lo ke gue." Dia menepuk bahu Prisil tiga kali, kemudian melenggang pergi.
"Mau sampai kapan lo kayak gini, Ra?" teriak Prisil bertanya. Nara terus menjauh. Gadis itu jadi kesal. "Naraaaaaa!"