Tidak Setimpal

1211 Kata
"Waduh ini sih bukan diujung lagi, tapi kiamat sudah." Nara menggerutu sembari berlari menggendong tas besarnya. Terik matahari sudah di atas kepala. Nara merasa pusing dan kelelahan. Semalam dia bergadang, tidurnya tidak cukup karena mengerjakan jurnal. Namun apa gunanya sekarang? Dia terlambat ke laboratorium! Mau tak mau dia akan menerima hukuman nantinya. Nara masuk diam-diam. Terdengar suara samar orang-orang mengobrol dari dalam lab. Juga pantulan bayangan dosen yang berjalan mengawasi. Nara bersembunyi di balik pintu besi, meletakkan tas dan memakai jas laboratoriumnya sambil menahan napas. Berdoa semoga tidak ada yang sadar bahwa dia terlambat. "Hei!" Sapa seseorang. Membuat Nara spontan menjatuhkan kotak APD-nya. Bulu kudu gadis itu berdiri, namun setelah tahu suara siapa yang memanggil, dia mendadak ingin muntah. "Lo ngikutin gue?" tuduh Nara. Bola matanya memutar, menunjukkan bahwa dia sangat jengkel bertemu pria itu. "Engga. Aku juga telat kok hari ini," sanggah Razan. Nara menghela napas. Sepertinya bukan dia, tapi Razan yang mau balas dendam. Soalnya sekarang dia merasakan, gimana risihnya diikuti seseorang. Mungkinkah ini karma? Oh, Tuhan … Nara waktu itu masih jadi monyet, jadi tidak tahu kalau urusan percintaan ternyata semengerikan ini. Lagipula, mana mungkin mereka berdua 'terlambat' barengan dan sampai di lab barengan secara kebetulan? Bagaimana bisa? Ini tidak boleh terjadi bahkan di kalender sial Nara. "Bodo amat, lah!" Nara bersiap membuka pintu laboratorium saat tiba-tiba tangannya dicekal. Tanpa tunggu lama, Nara menghempaskannya dengan penuh amarah. "Jaga sikap lo!" tegas gadis itu. Terlalu keras hingga suara dari dalam laboratorium tiba-tiba memudar. Perhatian semua orang tertuju pada mereka. Kepala Nara sudah teramat berat karena kurang tidur dan terlambat masuk kelas. Dia tak mau menambah bahan pikiran lagi. "Ra, kita perlu ngomong sebentar." Nara melihat teman-temannya mengintip dari jendela. Gadis itu sangat malu. Berhubung sudah terlambat, kenapa tidak bolos saja sekalian? Nanggung dimarahi. Palingan dia disuruh susulan dengan adik tingkatnya tahun depan. Arggh! Nara benar-benar kesal setengah mati. Nara melangkah keluar dan berhasil menemukan tempat sepi. Dia memandangi Razan dengan jijik. Senyum yang pria itu buat lebih mengerikan dari hantu di film horor. Membuat Nara makin bergidik saja. "Waktu lo lima menit!" "Aku ingin kita mulai dari awal," kata Razan. "Kenalin, aku Razan Azka Wicaksana. Aku temanmu. Tolong jangan pandang aku dari masa lalu." Pria itu mengulurkan tangan dengan mata penuh harap. Nara terkekeh. "Basi." "Ra. Please. Seenggaknya izinin aku minta maaf." Nara jadi teringat perkataan El tempo hari. Namun hatinya ragu. Dia takut kembali ke jalan yang salah. Kembali mencari penyakit, lalu menyalahkan orang lain sebagai penyebabnya. Nara menatap Razan. Dia tidak menemukan ketulusan apapun. Mungkin dia hanya ingin mengambil kembali keuntungan yang dulu dia terima dari Nara. Maka dari itu, jika Razan ingin kembali untuk menorehkan luka yang sama, Nara akan membalas berkali lipat. Nara menyalami tangan Razan. "Lo jangan berharap lebih," katanya. "Gue maafin lo. Tapi hati gue, udah ada yang punya. Dan gue minta, jaga sikap. Gue gak suka deket-deket sama lo. Gue gak mau orang-orang salah paham dengan kebaikan gue ke elo. Jadi, tolong menjauh dari gue sekarang." “Gak bisa ya kita ngobrol kayak dulu?” “Emang dulu kita pernah ngobrol?” “Seenggaknya kamu ga sejutek ini.” “Eh, denger ya onta! Di dunia ini ada yang namanya hukum sebab akibat. Sebab lu bikin gue muak, akibatnya lu ga bisa deket-deket gue lagi. Kenapa? Bau lu tuh kelewat busuk! Gue mau muntah meski lu masih radius 50 KM! Ngerti?” ucap Nara blak-blakan. “Trus, maksud lu apa minta maaf? Ngerasa bersalah? Ah, taik kucing! Kalau lu emang ngerasa bersalah, lu bakal malu untuk muncul di hadapan gue lagi. Ngapain lu mau deket-deket lagi? Lu berharap dapat benefit yang dulu gue kasih ke lu? Ngimpi! Bahkan gelas yang pecah aja, ga bakal bisa lu pake minum meski udah lu lem pake emas!” Nara berlalu lagi ke lantai dua. Disusul oleh Razan. “Tapi, Ra!” “Udah 5 menit! Bisa dipake titrasi itu …” Nara mengabaikan dan tetap berjalan. beberapa langkah kemudian, mereka sampai di depan lab. Jantungnya kembali berdegup. Dalam hati menyiapkan mental untuk menerima omelan dosennya. Nara menarik kenop pintu. Dan suasana di dalam, benar-benar hening. Apa yang terjadi? “Ra, please 5 menit lagi. Gue belum puas.” “Diem, monyet! Mau puas tuh cari l*nte, bukan cari gue!” Nara mengibaskan tangan Razan dan mulai mempertajam seluruh indra untuk mengawasi sekitar. Tidak ada siapapun. Nara mematung bingung. Hanya ada satu titik yang diisi oleh kerumunan. Gadis itu mendekatinya dengan ragu-ragu. Pecahan labu erlenmeyer tersebar di beberapa titik, membuat wanita itu penasaran dengan apa yang terjadi. “Ibu sangat kecewa dengan kalian. Di lapangan nanti kalian akan berhadapan dengan nyawa manusia meski secara tidak langsung. Dan apa yang kalian perbuat? Kalian membuat kecurangan! Kalian memanipulasi data-data! Biar apa? Biar kalian dapat nilai A dari saya?” Semua orang terdiam. Begitu pula Nara yang masih tidak tahu apa-apa. “Pokoknya saya tidak mau tahu. Semua yang ada di sini akan saya seret ke persidangan! Pertanggung jawabkanlah apa yang kalian perbuat. Hari ini kalian hanya mengelabui saya. Di masyarakat nanti, kalian mau mengelabui mereka juga? Kalian siap menyaksikan ada orang mati karena perilaku bodoh kalian? Bikin saya darah tinggi saja angkatan tahun ini. Hih!!” Paruh baya itu bergidik saking ngerinya dengan perubahan zaman. Entah apa yang akan terjadi ke depannya jika pendidikan karakter bisa seburuk ini. Apa yang membuat negeri ini kecolongan? Bu Melda keluar dari laboratorium dengan wajah penuh amarah. Melewati Nara begitu saja. Nampaknya, ada hal yang lebih mengesalkan dari satu atau dua murid yang terlambat masuk lab. Nara langsung menanyakannya pada teman-teman. Dan ketika mereka bercerita, Nara langsung berlari mengejar dosennya tanpa tunggu basa basi. Berharap penjelasan yang dia beri akan meringankan hukumannya. “Gawat! Bisa mati hidup hidup kalau beneran kena sidang!” begitu runtuk Nara dalam hati. “Buuu! Ibu! Bu Melda!” Teriak Nara. Satu kaki menghentak tanah dengan keras. Wanita paruh baya dengan badan semok, akhirnya berhenti untuk menimpali panggilan. Dia mengibaskan rambutnya dan menoleh tajam ke arah Nara yang masih setengah berlari. Kedua tangan melipat di d**a, tanda bahwa dia lah yang berkuasa. “Bu, kok bisa sih ibu pukul rata semuanya?” tanya Nara. “Maksud kamu?” “Saya ga pernah manipulasi data, bu. Ibu tau sendiri saya bisa ngulang berkali-kali untuk satu materi. Mana mungkin saya curang, bu?” “Kamu ada buktinya?” “Ibu juga ga punya bukti kalau saya melakukan itu kan? Kok saya ikut keseret sih? Itumah si Putri aja bu. Masa iya kita semua kebawa karena solidaritas. Masuk neraka mah masuk aja ga usah ngajak-ngajak, kan?” “Heuuuuh!!!” Bu Melda mendengkus seperti banteng. “Jadi maksud kamu saya yang salah? Lihat! Mata saya ini ga picek!! Saya cuma percaya dengan apa yang saya lihat. Jadi fiks, oke? Ga ada yang bisa ganggu gugat, karena setelah ini rektor pasti ga bakal tinggal diam!” “Bukan gitu maksudnya bu!” "Bu! Dengerin saya, Bu!" Bu Melda melangkah dengan hentakan yang dibuat bersuara. Dengkul Nara terasa lemas. Dia berlutut, tak tahu bagaimana kalau kabar ini sampai ke telinga ayahnya. “Ra?” Razan menghampiri wanita itu. "Please," ucapnya memelas. “Minggir lu setan! Jangan bikin gue tambah bete!” Nara kembali bangkit, lalu pergi meninggalkan pria itu. Kok bisa dia muncul di mana-mana. Kayaknya Nara harus sembunyi ke kutub utara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN