"Gue gak tau! Gue gak ngelakuin apapun!" pekik Nara. Kesadarannya sudah setengah karena meneguk dua gelas minuman beralkohol tinggi. Lingga di sampingnya, masih mendengarkan dengan seksama. "Coba lo pikir, deh. Kalo gue ikut-ikutan manipulasi data, kok nilai gue pada ancur?"
Lingga terdiam.
"Manipulasi itu gampang. Kadar harus sekian, ya gue hitung terbalik aja biar dapet berapa angka yang harus gue peroleh di titrasi dan penimbangan. Simpel. Tapi gue gak ngelakuin itu walau semua orang ngelakuin. Jadi analis artinya bertanggung jawab atas nyawa semua orang. Kalo ternyata produk gagal tapi dianggap lolos, masuk pasar, ngeracunin semua orang?"
Lingga masih terdiam. Sejujurnya dia juga ga ngerti apapun soal kimia. Toh dia anak arsitektur. Nara mulai menangis lagi. Membenamkan wajahnya di meja dan mulai memukul-mukul.
"Kamu udah jelasin semuanya?" tanya Lingga. Merasa salah jika hanya diam dan mendengarkan. Namun Lingga tidak punya solusi apapun.
"Udah. Dan mereka gak ada yang percaya, cuma karena gue bego," jawab Nara. Tiba-tiba dia terkekeh. "Kayaknya mereka yang bego deh. Lo pernah liat ada orang bego masuk pemerintahan, terus menyelundupkan dana? Orang pinter semua itu!"
"Yasudahlah, Ra. Aku yakin semua akan berlalu. Mungkin mereka cuma menggertak kamu, supaya kamu sadar kesalahan. Ya kali 'kan di DO satu angkatan?"
"Lo ngebela mereka?" tuduh Nara. "Kesalahan apa yang perlu gue sadari?"
"Bukan gitu, Ra. Kamu positif thinking aja."
"Gak ada yang bisa positif thinking di lingkungan negatif, Ga." Nada bicara Nara berubah suram. "PKL gue tinggal 2 bulan lagi. Gue gatau bakal gimana ke depannya kalau gue gak mikir sekarang," ucap gadis itu, lalu meneguk minumannya lagi. Dia merasa kecewa dengan respon pacarnya.
Lingga terdiam cukup lama. Membiarkan Nara begitu saja karena tak tahu apa yang harus dilakukan.
“Gue makin bete deh ngobrol sama lu. Bisa ga sih lu tuh ngomong, jangan diem aja.”
“Kan tadi udah.”
“Trus? Lu pikir cukup?”
“Trus aku harus gimana?”
“Dengerin!”
“Kan dari tadi juga didengerin.”
“Engga! Dari tadi lo cuma melongo, karena itu lo ga ada respon. Kenapa? Gue jelek ya kalau lagi kayak gini? Lu jijik sama gue?”
“Kok jadi ke sana sih?”
“Huaaaaa. Kok lu malah jadi ngebentak, sih?” Tangisan Nara tiba-tiba makin menjadi. Suaranya jadi pusat perhatian. Mengalahkan suara DJ di atas panggung.
“Hush!” Lingga panik bukan main. Dia membekap mulut Nara dan menempelkan tubuhnya ke pelukan. Dia tak tahu gadis itu akan marah atau tidak karena dipeluk tanpa izin, namun yang lebih penting sekarang adalah meredam suara tangisnya. "Ga ada yang bentak kamu, Ra. Orang aku ngomong biasa aja kok."
Di luar dugaan, tangan Nara justru melingkar di tubuh Lingga. Dia kembali menangis, namun di pelukan pria itu. Lingga mengelus punggungnya, berharap Nara bisa segera tenang.
“Maaf, ya. Aku baru pertama kali pacaran. Aku gatau harus ngapain kalau ada cewek curhat,”
“Dengerin aja!”
“Kan daritadi juga didengerin,” jawab Lingga lagi. “Aku diem karena mikirin solusinya supaya kamu bisa bebas dari hukuman.”
“Ga usah kasih solusi! Dengerin aja!”
“Iya … iya. Aku minta maaf ya,” ucap Lingga sambil terus mengelus punggung Nara. Suara napas gadis itu mulai teratur. Hanya sedikit sesenggukan sambil menahan air mata.
“Dengerin aja kalau aku curhat. Kalau aku marah kamu juga harus ikut marah sama apa yang bikin aku marah. T*lol-tololin Bu Melda kek, bukan malah nyalahin aku.” Nara menjelaskan apa maunya.
“Aku kan ga nyalahin kamu.”
"Tadi kamu bilang Bu Melda marah biar aku sadar kesalahan! Kesalahan apa yang kamu maksud? Kan aku udah bilang aku itu murid teladan! Aku ga pernah bolos apalagi manipulasi data praktikum!”
“Astaga …”
Lain di mulut, lain masuk di telinga. Lingga agak sedikit syok menyadari kalau wanita bisa salah paham semudah ini. Padahal maksudnya bukan menyalahkan Nara. Tak sedikitpun terbesit untuk menyalahkan. Toh Nara juga wajar jika merasa jengkel karena keputusan kampusnya.
“Apa-apaan kamu menghela napas? Kamu capek sama aku?” Nara menjauhkan tubuhnya dari Lingga dan melihat pria itu dengan tatapan sinis.
“Engga …” jawab Lingga lemah. “Pulang yu!”
“Tuh, kan. Kamu ngusir! Berarti kamu emang udah capek sama aku. Kamu pengen cepet-cepet pisah kan dari aku?”
“Udah malem. Aku anterin kamu pulang yuk! Shift aku juga udah selesai. Aku beres-beres dulu.”
Lingga turun dari kursi tinggi yang ia duduki. Nara cemberut. Matanya sudah merah karena pengaruh alkohol. Lingga yakin gadis itu tak sedikitpun sadar dengan apa yang dia katakan. Namun karenanya, semua yang dikatakan pasti jujur. Menurut Lingga, Nara malah jadi tambah imut.
“Kok diem?”
“Kamu aja yang pulang,” ucap Nara ketus. “Aku mau di sini aja. Lima menit lagi juga pasti ada koko ganteng yang ngehibur aku lebih baik daripada kamu!”
“Jangan marah dong … Aku gendong ke hotel kemarin, ya? Ga pulang ke rumah, kok. Aku janji.”
Nara melirik Lingga dari atas ke bawah. “Serius?”
“Lagian aku ga berani mulangin kamu di kondisi mabuk begini.”
“Abis di hotel, temenin aku cerita lagi, ya?” pinta Nara.
“Iya …”
“Temenin tidur juga!”
“Iya …”
“Sekalian ditidurin?”
“Engga.”
“Kenapa? Aku ga menarik buat kamu?” Mood Nara berubah-ubah dalam waktu yang cepat. Sedetik dia luluh, sedetik kemudian dia memburu dengan kemarahan.
Lingga sebagai pacar bayarannya, sudah pusing tujuh keliling menanggapi gadis gila itu. Namun apa daya? Saat ini Nara hanya memiliki dirinya. Hanya Lingga yang sanggup menerima tingkah aneh gadis itu.
“Kamu makin malem makin ngaco. Ayo pulang!” Terpaksa Lingga menarik Nara dan menggotongnya seperti karung beras. Nara terkejut dan berteriak minta dilepaskan. Jika bukan karena seragam bartender yang Lingga kenakan, Orang-orang yang hanya bisa melihat mereka pasti sudah menelpon polisi.
Tapi, memang siapa yang berani? Badan Lingga tinggi besar. Dia juga punya alasan kenapa harus memaksa Nara pulang dengan cara seperti itu.
Pintu hotel terbuka. Lingga langsung melemparkan Nara ke dalam hingga gadis itu sedikit terguling. “Ke Crown Hotel, Pak!” ucap Lingga kepada si sopir.
Mobil melaju. Suasana yang tadinya berisik oleh riuh musik disko, kini berganti jadi malam yang tenang. Beberapa suara klakson terdengar di perempatan, namun tak menjadi pengganggu bagi penumpang taksi itu.
Nara berguling di ruang yang terbatas. Tak sadar di mana dia berada. Beberapa kali menendang kursi depan dan mengakibatkan Lingga harus meminta maaf berulang kali agar dimaklumi.
“Ini semua karena si Razan sialan!! Sejak dia balik lagi, hidup gue ga bisa tenang barang sehariiiiii aja. Dasar orang gilak! Sampai kesabaran gue di batas ubun-ubun, gue sunat lo pake penjepit cawan bekas oven 600 derajat gue!” Nara meracau ke mana-mana, sedangkan kedua matanya sudah terpejam.
“Kamu suka sama orang itu?”
“Dulu iya. Sekarang sih najis. Cowok modal kont doang, ngapain gue kejar?”
“Kalau kamu ga suka dia, ga mungkin dia bakal sepengaruh ini dalam hidup kamu,” ucap Lingga. Tapi dia sendiri tak yakin, apa akan baik-baik saja jika Nara menyukai Razan?
Ponsel Nara berdering. Lingga mengeluarkannya dari tas wanita itu dan melihat siapakah yang menelpon larut malam begini.
[Dikung Kamvret] Begitulah nama yang tertera. Mengingatkan Lingga akan pertemuan pertamanya dengan Nara. Saat itu juga hanya Dikung yang bisa dihubungi. Lingga sampai saat ini tak tahu apa hubungan mereka berdua. Dia juga tak pernah bertanya karena merasa bukan urusannya.
'Angkat jangan, ya?' Ketika Lingga masih mempertimbangkan, panggilan itu tiba-tiba berakhir. Lingga hendak memasukannya ke dalam tas kembali, namun berdering lagi.
"Halo?" sapa Lingga kepada Dikung.
"Woii Papan Beha!! Bisa-bisanya lu anggurin telepon gue, ya! Ga inget lu kalau susah nyarinya siapa? Gue turunin pangkat lu jadi anak pungut lama-lama."
"Halo?" Lingga bersuara kembali. Nampaknya yang tadi tidak terdengar karena Dikung terburu-buru menggerutu.
"Kok cowok? Lagi kumpul kebo sama siapa lu?"
"Ini gue yang dulu nganter Nara terakhir kali. Sekarang dia sama gue lagi. Abis tepar," lapor Lingga. "Dan tenang aja. Gak diunboxing kok."
"Oh. Anaknya masih tepar? Palingan cuma boongan itu. Gausah dimanja," ucap Dikung.
"Ini ... keluarganya kah?"
"Oh, bukan. Najis amat gue sedarah sama dia. Dah lah, kalau dia bangun, kabarin besok gue udah nyampe dijakarta. Awas aja kalau ga disuguhin tiramisu."
Panggilan tiba-tiba dimatikan. Lingga mematung sembari menatap wajah Nara yang sedang terlelap.
Bukan keluarga, tapi minta disambut. Seistimewa apa hubungan mereka?