Cemburu Nih

1083 Kata
"Dikuuuuung!!!" Nara berteriak ketika melihat orang yang sangat ia rindukan keluar dari bandara, menyebrangi jalanan. Sementara dia menunggu di parkiran bersama taksi pesanannnya, melambaikan tangan tanpa memperdulikan pandangan sekitar. Dikung berjalan sembari menutupi wajah. Berkata pada orang yang dilewatinya saat mereka memberi tatapan risih, "Bukan temen saya. ODGJ kali itu, Mba." "Wah, sial*n lu ya!! Udah gue bela-belain jemput juga!" Nara membuka sandal dan melemparkannya ke arah Dikung. Alih-alih kapok, Dikung tertawa lepas dengan wajah penuh kebahagiaan. "Waduuuh. Tumben lu on time." "Welcome to the jungle bre." Nara memeluk Dikung erat. Lingga menatapi dengan serius keakraban pria asing itu dengan pacarnya. Mereka terlihat sangat dekat, membuat matanya spontan memicing tak suka. Apa Lingga tak sadar bahwa dialah yang asing di sini? Dia dan Nara memang pacaran, namun secara kontrak dan waktu pertemuan mereka saja masih terlalu singkat. "Heh, Onta! Ini kan kota. Kalau lu ke rumah gue, baru dah gue bilang welcome to the jungle," balas Dikung. Berhubung rumahnya berada di dekat perbukitan yang orang jakarta pasti menyebutnya HUTAN. "Emang di kota ada onta, bre?" tanya Nara. "Ya emang di tempat lu ga ada kebun binatang kah?" 'Ya ada.' Tapi kalau Nara jawab begitu, pasti panjang lagi perdebatan mereka. Sementara terik mentari sudah di atas kepala. Nara memakai hoodie yang lumayan tebal. Rambutnya lepek karena berkeringat. Bukti kalau dia ke sini tidak mandi. Dan jika diteruskan, dia akan mati terpanggang hidup-hidup dengan bau tubuh yang menyengat. "Udahlah. Ayo masuk! Panas banget ini, nanti aja adu mulutnya dilanjut di kamar. Sekalian perang lidah," ajak Nara. "Anak setan! Sembarangan kalau ngomong! Belum sikat gigi ya lu?" Dikung merangkul leher Nara sembari berjalan berdampingan. "Nah itu tau. Lepas! Gue bau!" Nara melepas rangkulan Dikung dan berdiri di sisi Lingga. "BTW kenalin, ini Lingga, pacar gue." Detik setelahnya, Dikung langsung mematung dramatis. Menjatuhkan koper yang dia genggam di tangan kiri. Logo kumon yang terpasang di wajah, turun seratus delapan puluh derajat seperti muka squidward saat sedang bekerja. Kecut, panik, pucat. Lingga dan Dikung bertatapan. Seperti bola api saling terlempar di antara keduanya. Perdebatan tanpa suara. Suatu kondisi yang hanya kaum pria memahami. "Hayo masuk. Malah ngelamun ni bujang. Panas tauk!" ucap Nara sembari membuka pintu bagasi. Sopir taksi keluar, membantu Dikung memasukkan koper besarnya. "NARA PRAMESWARI!!" panggil Dikung dengan nada militer. "Ayayay kapten!!" Nara ikut ikutan, seperti bermain peran tentara-tentaraan. "Apa yang lu bilang barusan?" "Panas?" "Sebelumnya?" "Ini pacar gue, Lingga. Kenapa? Lu gak percaya ya kalau gue udah punya pacar sedangkan lu 27 taon masih bujang lapuk karena ditinggal nikah mantan?" Nara tertawa puas. "Bukan! Sebelumnya!" tanya Dikung lagi. "Apaan sih?" Nara mulai jengkel karena terus terusan menunggu di cuaca panas. "Perang lidah di kamar?" tebaknya asal. "NAHH!! LU GAK WARAS YA NGOMONGIN HAL GA BERMORAL KAYAK GITU DI DEPAN RAKSASA INI? LU MAU GUE JADI PENYEK, HAH?" "Yaelah, pacar gue mah ga raksasa. Lu aja yang cungkring." Nara tak menanggapinya dengan serius. "Eh, bre. Jangan bercanda. Perkara hidup dan mati ini." Dikung mencuri pandang pada gumpalan otot di tubuh Lingga. Tinggi mereka setara, namun badannya besar. Dan Dikung yakin itu bukan sekadar buntalan lemak! "Gue gak sekejam itu kok. Kenalin, gue Lingga. Kita pernah ngobrol di telepon sebelumnya pas Nara tepar." Lingga mengulurkan tangan untuk menyambut Dikung di kota mereka. Walau hatinya sih najis-najisan. Tak sedikitpun ingin akrab dengan pria itu. Tau kan, ga ada yang namanya pertemanan di antara cewek dan cowok. Kalau bukan dia yang naksir, pasti Nara yang pernah jatuh cinta. "Lo cowok bartender itu? Wah kampret, Ra. Lo cinloknya ngeri banget. Abis diapain lo sama dia?" "Apaan sih? Ga diapa-apain kok." "Lo nyari cowok yang bener dikit dong! Masa lu mau balik tol*l lagi sih?" "Brisik lu kayak emak-emak! Ayo masuk! Panas tauk!" Nara menggerutu tak terima. Dia langsung masuk ke dalam mobil. Dikung mengikutinya, namun duduk di samping sopir karena tahu batasannya dengan Lingga. "Kek pernah diomel emak-emak aja lu! Lu kan ga punya emak!" Gelap. Mereka saling bertukar canda seekstrim itu. Lingga menjadi canggung. Merasa dia bahkan tak tahu apapun tentang pacarnya. Melihat Dikung bisa tahu segalanya tentang Nara dan bersikap apa adanya, keluarga mereka pasti sudah pernah bertemu. Jauh jika dibandingkan dengan Lingga. Dia tak pernah bertanya apapun selain apa yang diceritakan Nara. Nara juga tak pernah menceritakan hal-hal selain kegalauan hatinya. Sepanjang malam hanya mengeluh dan menangis di pelukan. Tidak ada hal ringan yang bisa dibicarakan. Bahkan mereka lumayan sering bertengkar. Mobil melaju dan perjalanan penuh kemacetan dimulai. Dikung dan Nara mengobrol ke sana kemari. Mulai dari itik, ayam, monyet, semuanya diperbincangkan. Lingga tak punya celah untuk bergabung dalam obrolan karena tak mengerti. Terlalu absurd baginya. Bagaimana bisa semua hal dikaitkan satu sama lain dan tiba tiba keduanya terbahak? Untuk Lingga yang bahkan jarang nimbrung di tongkrongan, membuat Nara tertawa adalah hal yang sulit. Sementara Dikung? Saat dia terdiam mencari obrolan saja, Nara langsung tertawa. Tidak mungkin di antara keduanya hanya ada perasaan teman. Lingga mengepalkan tangan. Iri, tak rela wanitanya bahagia bersama orang lain. Dia tanpa sadar ingin menjadi seperti Dikung, Mobil tiba di depan Cruel Hotel. Pria berperawakan tinggi kurus itu keluar dari taksi dan langsung disambut hangat oleh pelukan bapak-bapak berkumis. Ada beberapa staff yang juga berdiri di depan. Dikung dengan cepat bisa akrab dan membicarakan banyak hal. "Waduh-waduh anakku ... sudah kembali. Gimana peternakan di Kalimantan? Beres?" "Mantap!!" Dikung mengacungkan jempol dengan percaya diri. Memamerkan bahwa bisnisnya berjalan sangat baik. "Papa gimana sih? Anak kandungnya kan di sini." Nara cemberut. "Om, kasian tuh om." "Ah gapapa dia mah anak durhaka," sahut Rio. Dia merangkul Dikung dengan akrab dan membawa masuk ke dalam hotelnya. Memamerkan perubahan pesat hotel yang dia dirikan sendiri. "Kamu mau makan apa? Saya suruh koki kita buatkan untuk kamu." "Waduh jadi enak. Boleh apa aja deh om, sekalian perbaikan gizi." "Kamu tuh kurus bukan karena kurang gizi, tapi belum nikah. Coba kalau kamu nikah, nanti badan kamu pasti jadi berisi." "Basi om. Hehe," timbal Dikung. Lingga masih terdiam mengamati interaksi pria itu dengan sekitar. Luar biasa. Energi bersosialisasinya pasti di atas rata-rata sampai bisa mengucapkan kata-kata dengan mudah. Seperti tidak dipikirkan sebelumnya. Spontan keluar dan membuat orang sekitar merasa senang. Lingga mana sanggup seperti itu. Nara masuk setelah mengeluarkan koper Dikung dan membayar ongkos taksi. Dia menggeliat, merilekskan otot-otot yang pegal. "Sekarang kita mau ke mana?" tanya Lingga. "Kamar lah. Aku belum mandi." Nara mencium ketiaknya. "Bau acem." Senyum wanita itu sirna setelah kepergian Dikung. Entah kenapa membuat Lingga patah hati. Dia merasa ada perbedaan jomplang antara posisinya dengan Dikung di dalam hati Nara. Bolehkah dia menyusul kejomplangan posisi itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN