"Aku pulang aja, ya?" ucap Lingga setelah banyak termenung.
Hari beranjak malam. Lingga menemani Nara sepanjang hari ini karena sudah janji. Namun alih-alih menghabiskan waktu selayaknya pasangan, Lingga merasa dirinya hanya boneka pajangan.
Nara Prameswari sedang menyisir rambutnya sambil bersenandung. Ketika mendengar permintaan Lingga, dia menoleh dengan tidak senang.
"Kenapa?" tanyanya.
Lingga terdiam.
Kalau boleh jujur, ini karena dia merasa keberadaannya hanya di antara ada dan tiada. Nara sibuk merawat diri, pergi ke salon, spa dan nail art. Mereka berbelanja ke mall, masuk ke beberapa toko hanya untuk membeli gaun untuk dipakai malam ini. Lingga senang punya banyak waktu bersama pacarnya, namun mengingat Nara mempersiapkan hal itu untuk ditunjukkan kepada pria lain ...
Lingga merasa nyaris mati terbakar cemburu.
Siapa sih Dikung? Namanya seperti dedemit dari negeri antah berantah. Apa dia pakai pemikat sehingga Nara bisa setergila-gila itu? Lihat dia? Bahkan biasanya tidak berdandan, datang ke bar Lingga dalam keadaan mata sembab dan ingusan. Tapi demi pria itu? Dia berdandan ala ala princess.
"Aku takut ganggu waktu kalian berdua," jelas Lingga.
'Yah. Ini hanya pacaran kontrak. Aku ngarep apa sih?' batinnya mencoba merelakan.
"Berdua apanya? Banyakan kok yang datang. Kita kan mau makan malem. Papaku juga ada," timbal Nara.
"Aku bahkan ga kenal papamu."
"Makanya kenalan."
"Buat apa? Hubungan kita bukannya cuma kontrak?"
Kini bagian Nara yang terdiam. Dia meneliti wajah Lingga yang terlihat sangat kelelahan. Apa permintaannya hari ini sudah terlalu banyak? Nara pasti sangat membuat pria itu tertekan.
"Oke kalau gitu. Kamu pulang aja." Pada akhirnya Nara hanya membebaskan. Namun mendengarnya, Lingga bukan senang namun semakin murung. Tak menyangka akan semudah itu.
Pria itu batuk untuk meredakan kecanggungan yang tiba-tiba melintas di antara mereka. "Kamu ... butuh sesuatu sebelum aku pergi?" tanyanya.
"Engga. Pulang aja. Udah malem. Kamu hati-hati di jalan," jawab Nara sembari lanjut memoleskan blash on ke wajahnya.
Lingga menunduk. Menghela napas panjang.
Jadi benar, posisi dirinya di sini hanya untuk dimanfaatkan? Ya, lagipula ini kontrak. Begitu kata itu terlontar, mereka berdua langsung sadar harus bersikap bagaimana. Ada Lingga yang tertampar oleh rasa cemburu dan Nara yang tertikam oleh rasa memiliki.
Hubungan mereka tak akan jauh dari kontrak yang telah dibuat. Untuk apa mempersulit diri di sandiwara ini. Yang Nara inginkan hanyalah status mereka. Agar dia bisa mempertahankan harga dirinya di depan Razan dan merasakan pengalaman memiliki seorang kekasih. Hubungan mereka dibuat di atas aturan yang telah disepakati. Tapi keduanya sama-sama melenceng karena perasaaan pribadi. Andai keduanya jujur, pasti tak akan serumit ini.
Sayangnya Nara telah salah paham bahwa permintaan Lingga untuk pulang adalah karena perasaan tidak nyaman. Karena dia menyita banyak waktu berharga untuk menunggu seorang gadis berdandan. Dan melakukan kegiatan tidak produktif secara cuma-cuma.
Dan Lingga salah menyangka bahwa Nara mengusirnya. Bahwa dia memang tidak dibutuhkan lagi karena Dikung sudah di sini. Tidak ada pembelaan apapun dari pihak Nara. Nadanya yang dingin makin menyakiti hati Lingga. Harapannya pupus. Berpikir untuk tahu diri saja.
"Kalau gitu ... aku pulang," ucap Lingga lagi.
"Hm. Makasih untuk hari ini," ucap Nara dengan senyuman yang lembut.
Lingga membuka pintu kamar dan menghilang di baliknya. Bersembunyi di koridor hotel yang sunyi. Suara napasnya terdengar makin berat. Beberapa menit hanya terdiam di depan pintu, berharap Nara memanggilnya kembali.
Nihil. Nara pikir Lingga sudah berangkat. Dia melamun, berhenti bersenandung dan menatap pantulan cantik dari dalam cermin. Terasa sepi tanpa Lingga di sini. Tak ada yang mondar mandir dan komentar. Hidup Nara terasa hampa.
Lingga jadi kebingungan sendiri. Kenapa dia harus meminta pulang? Saat ini pun dia tidak ada tujuan. Lingga berjalan di troroar, menyusuri jalanan jakarta yang gemerlap di malam hari. Muda mudi bercengkrama di depan cafe. Rata-rata seumuran dengan dirinya. Lingga terheran, apa anak muda memang berbicara selancar itu? Jadi selama ini hanya dia yang aneh karena kurang pergaulan?
Seharunya Lingga belajar bicara yang benar supaya bisa mengobrol dengan Nara.
Pria itu lanjut berjalan setelah menghela napas panjang berkali-kali di tempat yang sama. Memutuskan untuk kembali ke tempat kerja meski ini hari liburnya. Siapa tahu dia bisa menemukan hiburan di sana. Toh, tidak ada yang melarang datang.
"Kak Lingga kok ke sini?" tanya Risma yang baru saja membereskan meja pelanggan. "Aman kok kak, gak dijagain juga kita bisa kok." Nada Risma sedikit gemetar.
"Engga kok, tenang aja. Bikinin minuman ke sini satu. Habis itu temenin saya minum. Kayaknya bar juga gak terlalu rame, kan?"
Lingga duduk di pojokan. Membuka ponselnya dan tak mendapatkan notifikasi apapun. Biasanya pesan dari Nara bisa memenuhi layar. Yah, mereka bertemu seharian. Pesan apa yang Lingga harapkan? Toh dia pun jarang membuka ponselnya.
Dada Lingga terasa berongga. Sesak, ditambah dengan pikiran yang mulai ke mana-mana. Risma menuangkan minuman untuknya dan Lingga sekarang mengerti perasaan Nara ketika mencurahkan isi hati dalam keadaan mabuk. Satu gelas, dua gelas, tak kunjung membersihkan virus nelangsa. Toleransi alkohol Lingga tergolong tinggi, karena itulah dia mendirikan bar. Wajah Risma remang-remang di dalam pandangan, namun Lingga tak berbuat macam-macam atau membicarakan apapun di luar akal sehatnya.
"Bos tumben kayak gini," ucap Risma.
"Jangan panggil gue bos. Kalau temen gue denger, nanti mereka langsung pinjam seratus," balas Lingga.
"Umm ... Kak Lingga lagi ribut sama pacar?"
"Engga. Tapi justru karena nggak ribut, jadi aneh. Biasanya dia ngoceh 24 jam. Hari ini ngoceh juga, tapi sama cowok lain."
"Maksudnya Kak Nara selingkuh?" tanya Risma.
Lingga menggeleng pelan. Lalu meminum seteguk demi seteguk. "Cuma temen deket. Kayaknya lebih deket dari gue. Ntahlah."
"Kok Kak Lingga ga tanya langsung aja? Siapa dia, kok bisa sedekat itu, sama apa gak bisa dibikin batasan, gitu?"
Risma memberi saran yang seharusnya diberikan kepada pasangan. Tapi dia tak tahu bahwa bosnya hanya berpacaran kontrak. Mana bisa mengatur apa yang boleh dan tidak? Tahu diri lebih penting dari komunikasi.
Lingga meneguk minumannya lagi saat merasa tak bisa menjawab pertanyaan Risma.
"Udah jangan kebanyakan," ucap Risma. "Lagian Kak Lingga kan sekarang omsetnya udah stabil. Udah bisa dong fokus kuliah sama pacaran. Maksudku, sampai kapan stuck di tempat kayak gini? Bukannya Bapak juga nyuruh kakak pulang?"
"Bapak siapa? Gue ini yatim piatu."
"Pak Hendra. Minggu lalu dia ke sini waktu kakak ga ada."
Lingga terdiam.
"Aku ga bilang karena dari kakak datang, Kak Nara udah ngajakin ngobrol," jelasnya melanjutkan.
Lingga menghela napas. "Mau ngapain dia ke sini? Nyuruh pulang?"
"Tahun ini pulang aja kak. Siapa tahu dapat warisan. Bapak kan udah jompo."
Lingga tertawa lepas untuk pertama kalinya. Apa karena efek alkohol? Padahal hatinya sedang gundah gelisah, namun suara gelak tawa memecah kebisingan. "Bisa aja cara lu ngebujuk. Tapi gue ga butuh warisan. Sia-sia dong gue kabur dan mandiri selama ini."
"Denger-denger Kak Nara putri pemilik hotel, ya?" tanya Risma. "Kak Lingga yakin bisa bersanding sama dia cuma dengan ngandelin status bartender? Selama ini kan kakak nyembunyiin identitas kakak yang sebenernya," ucap Risma menyelidik.
Lingga terdiam. Inilah kenapa dia tak suka bicara dengan orang-orang. Semua seakan mencoba mempengaruhinya. Jangan pikir Lingga tak tahu Risma berpihak kepada siapa. Saat wanita polos itu menyebut nama ayahnya, jelas dia diberi sesuatu sebagai imbalan.
Lingga menaruh gelasnya masih dalam keadaan sadar. Alkohol tidak merusak konsentrasinya sedikitpun. Dia tetap bisa menyeimbangkan tubuh dan melihat Risma yang tengah menyelidik. Mencari waktu di mana Lingga lengah.
"Bisa kok. Buktinya sekarang juga bisa," jawab Lingga percaya diri. Padahal jauh di lubuh hatinya, dia juga tidak tahu akan bagaimana ke depannya. Dia hanya tak ingin membuat lawannya menang. "Oh, ya. Mulai besok kamu ga udah masuk lagi," ucapnya sebelum pergi meninggalkan bar.
Wajah Risma seketika pucat. "Kak, dengerin aku dulu. Aku ga bermaksud buat--"
"Gue ga butuh pengkhianat. Gue bawa lu ke sini dari tempat terkutuk itu. Tapi kayaknya lu lebih suka di sana. Jadi silakan pergi."