Hal yang lupa Nara katakan kepada Lingga adalah, ini memang pesta makan malam sungguhan.
Di dalam ballroom yang megah, para tamu undangan berkumpul sambil memegang segelas sampanye. Berdiri di bawah lampu kristal yang berkilauan sembari bersenda gurau dengan tamu lainnya. Tawa dan musik yang merdu menyatu dengan ruangan. Aroma dari bunga segar dan hidangan yang lezat menambah kemewahan pesta.
Mereka berkumpul untuk merayakan ulang tahun hotel yang ke tiga puluh lima. Kerabat dan rekan kerja sama yang telah membantu berdirinya hotel selama bertahun-tahun, diundang dengan istimewa. Termasuk Dikung dan juga Elvina.
Di sudut ruangan terdapat bar yang menyediakan berbagai minuman dan makanan ringan. Para tamu bisa beristirahat sambil bercengkrama di sofa yang sudah disediakan. Suasana perta yang santai menjadi lebih menyenangkan dengan hadirnya band band lawas dengan lagu nostalgianya. Semua bertepuk tangan tiap lagu selesai dinyanyikan. kecuali Nara yang tidak menyukainya.
"Duh, si Dikung mana, sih?" tanya Nara dengan nada menggerutu. Setengah jam mondar-mandir seperti anak hilang. Mencari induk yang panta*tnya belum terlihat juga.
Mata Nara melimpir ke sana- ke mari. Hingga tiba tiba seseorang menepuk pundaknya. Nara berpikir itu Dikung. Saat yang dilihat adalah El, wajahnya cemberut tak senang.
"Wah kurang ajar, malah ngasih muka kecut. Napa sih?" tanya El.
"Lu dateng sendirian?" Nara malah balik bertanya. Dia ingin bercerita, tapi jika ada Daffa di sini ... nggak dulu deh.
"Lu sendiri datang sendirian? Mana doi lu?"
"Barusan pulang."
"Loh, kenapa?"
"Kecapean kali."
"Habis lu ajak main berapa ronde sampai kecapean gitu?" tanya El bercanda.
"..."
Nara tertegun dengan mata berbinar tiba-tiba. "El? Ini Lo El? Lo sahabat gue?"
"Hah?"
"Seriusan? Lo sahabat gue? Gue gak nyangka sahabat gue akhirnya kembali. Aaaaaaa..." Nara menggoyang-goyang pundak El saking senangnya. Sekaligus memastikan apa orang yang ditemuinya itu asli atau skinwalker.
"Apaan sih?"
"Akhirnya lu bisa ngebanyol bareng gue lagiii..." Nara nyaris teriak jika tidak buru-buru sadar bahwa ini pesta makan malam hotel. "Lu better tanpa Daffa deh El. Muka lu cerahan. Otak lu juga kelihatan ada isinya."
Dari sana El sadar bahwa yang membuat Nara kegirangan seperti orang gila adalah karena nada bicaranya yang kembali seperti dulu. Seperti jaman-jaman mereka masih SMA, penuh candaan yang frontal dan membuat keduanya terbahak.
Tapi kali ini, El tidak ikutan ketawa. Dia diam lama sekali ... berpikir apa selama ini nada bicaranya seperti orang berotak kosong?
Kalau El tanya Nara, pasti jawabannya 'IYA. OTAK LU KOSONG KARENA ISINYA CUMA DAFFA DAFFA DAFFA DAFFA.'
"Daffa katanya ... ada kumpul sama anak jurusan. Lu mau ngedate bareng gue ga besok?" ajak El. Jarang-jarang kan mereka bisa berduaan lagi?
Namun muka Nara berubah kecut, tidak seperti yang diharapkan. "Gue pengen nyelesain urusan gue sama Bu Melda dulu. Gue ga terima nama baik gue tercoreng. Kok bisa sih lu kepikiran ngedate di saat kayak gini?"
"Halah, tu orang tua paling caper aja biar dibujuk sama anak-anak. Mana mungkin kita disidang ke pengadilan? Ini kan cuma tempat belajar, bukan industri. Dia mau nuntut apa? Palingan rektor balik nyalahin karena dia ngawasinnya ga becus sampai ada yang curang begitu."
Pikiran Nara tercerahkan. Seperti ada pelangi di antara otak kiri dan kanannya.
"Bener! El, sejak kapan lo pinter?"
Elvina menoyor kepala Nara. Tatapan i***t itu membuatnya merasa risih.
"Eh, bre. lidah sapinya enak loh," ucap Dikung yang datang sambil membawa piring kecil. Melahap potongan daging di atasnya dengan lahap dan meresapinya dengan dramatis. "Wahhh... asep sapinya nempel di rongga mulut gue coeg!!"
"Lo kelaparan? Gue keliling udah hampir satu jam, lu ternyata malah ..." Nara melipat tangannya di d**a. Merasa kesal setengah mati. Dia berdandan dan memakai sepatu heels tujuh senti untuk dipamerkan pada Dikung, namun laki-laki itu hanya peduli makanan.
"Lonjakan emosi lu cepet banget, Ra. Lu yakin ga butuh psikiater?" tanya El tiba-tiba. Sejak tadi, Nara sedih, senang dan kesal bergantian. Dia cemas karena beberapa hari ini, suasana hatinya juga gampang berubah. Kalau Nara butuh psikiater, mereka mungkin bisa pergi bareng-bareng.
"Gue sehat wal afiat kok," jawab Nara sambil mengangkat bahu.
"Tadi gue ke dapur, ngobrol sama kokinya. Gue ga makan ini ... gue cuma nyicip." Dikung mencari alasan. Pantas saja dia bisa makan padahal tamu yang lain masih berkeliling ngobrol. Penyambutan dari pemilik Crown Hotel saja belum dimulai.
"Oh iya, kenalin Kung. Ini Elvina, sahabat gue sejak orok."
Elvina dan Dikung saling menjabat tangan. "Saya Manager Pengadaan Bahan Pangan, Dikung."
"OMG. Dulu gue pikir Dikung itu kucing." El menutup mulutnya karena merasa tak menyangka. Dulu Nara sering bercerita soal Dikung yang ia temui saat kerja paruh waktu di hotel ayahnya. Saat itu El pikir, Nara bicara soal kucing. Toh, El ngerasa gak mungkin ada laki laki yang nyambung ngobrol sama Nara. Lagian apaan sih Dikung? Orang tuanya punya inspirasi apa sampai ngasih dia nama Dikung?
"Alhamdulillah, saya masih jadi manusia, belum dikutuk jadi kucing." Dikung terkekeh.
"Gausah formal gitu, gue di sini cuma ngewakilin perusahaan travel punya papih gue. Kita di sini temenan aja, lo temen Nara artinya temen gue juga."
"Berarti pacar lu pacar gue juga dong?"
"Hah?" Bagi orang normal seperti El, kalimat yang diucapkan Dikung terasa sulit dicerna. Sementara Nara langsung tertawa begitu saja.
"Boti dong lu. Pantesan aja lu gak laku." Nara mengejeknya sambil tertawa lepas. "Eh, BTW gue ke depan dulu ya. Keknya udah mau mulai. Gue mau nyari papa dulu."
"Ngoughey." Dikung memberi kode dengan membentuk huruf O.
Kini hanya tinggal El dan Dikung berdua. Setelah kepergian Nara, keberadaan mereka jadi canggung. Bukan karena anti sosial, namun bingung saja apa yang harus dibicarakan saat tahu otak mereka ternyata tak sefrekuensi.
'Dikung ini kayaknya lebih gila dari Nara,' ucap batin Elvina. Berulang kali dia mencuri pandang. Meneliti penampilan Dikung dari atas ke bawah. Badannya tinggi kurus seperti tiang, tapi mulutnya mengunyah cepat. Tipikal orang yang ga akan gendut meski hobi makan sekalipun. Dia punya rahang yang tegas, kulit kecoklatan, potongan rambut yang rapih dan hidung yang mancung. Perlu El akui, Dikung jauh lebih tampan dari Daffa. Dikung seperti para pria ber-uang pada umumnya, pandai merawat diri.
"Lu pake skincare??" tanya Elvina random. Dia tak tahu apa yang harus dibicarakan, jadi coba saja dengan hal-hal normal terlebih dahulu. Toh dia merasa kulit Dikung sangat bagus.
"Pake."
Dingin sekali. Kok berbeda dengan responnya pada Nara tadi? Apa Dikung merasa tak nyaman?
"Pake ... skincare apa?"
'Ini apaan sih?' El sendiri bingung dengan apa yang dia tanyakan.
"Skincare khusus cowok sih. Kenapa? Kulit lu lagi bermasalah? Gue bisa kasih lu rekomendasi kalau mau."
"Iya ... aku bruntusan sih akhir akhir ini. Katanya harus rajin ekspoliasi. Tapi gue sensitif sama produk keras dan kasar kek gitu."
"Ah gausah. Lu tiap malem cuci muka pakai air anget atau coba diuap dulu mukanya. Biar lebih bersih." Tak disangka, Dikung benar-benar memberi Elvina saran. Ini seperti apa yang sering dibicarakan Nara dulu. Saat dia tengah krisis keuangan namun ingin memberikan Razan kado, dia kerja paruh waktu dan bertemu Dikung. Pria itu sudah seperti google saja. Tiap Nara bertanya, pasti ada jawabannya.
"Kita ngobrol sebelah sana yuk!" Mata Elvina berbinar penuh harapan. Seakan dia telah menemukan orang yang lebih hebat dari psikiater untuk menyelesaikan deretan masalah di kepalanya.