"Dia lagi, cepet kesini Am! cowok itu dateng lagi." Nina memanggil Amanda yang masih berada dibelakang dan menyeretnya keluar.
"Selamat datang di toko Rotea." Risa berkata dengan sangat lembut saat Laki-laki dengan visual sempurna itu memasuki toko.
"Roti Coklatnya ada yang baru selesai dipanggang Pak."Risa mengantarkan laki-laki ini untuk memilih roti. Semua pelanggan dia hampir hapal pesanannya, terutama pelanggan yang tampan seperti ini.
"Ah, maaf apa Saya bisa bertemu dengan pemiliknya?" Tanyanya dengan senyum mengembang.
"Ada perlu apa?" Amanda mendekatinya.
"Apa pemiliknya Mikaila?"tanyanya dengan sopan.
"Tapi beliau sedang keluar, ada keperluan lain, bisa dengan Saya, nanti Saya sampaikan pesan anda." Jawab Amanda, sedangkan yang lain sedang kasak-kusuk dibelakang.
"Atau Saya boleh minta telponnya?" Tanyanya lagi.
"Maaf tapi Saya tak bisa memberikan telpon beliau dengan orang lain, jika ada urusan bisnis bisa hubungi telpon kantor saja." Amanda menolak permintaanya dengan halus.
"Oke, katakan padanya Ed mencarinya." Lagi laki-laki ini tersenyum manis, seolah tebar pesona.
Kemudian pintu toko terbuka, Mikaila masuk kedalam.
"La!" Edzard berjalan mendekati Mikaila dan tak memedulikan Amanda yang sedang bicara padanya.
"Sejak kapan kau disini?" Mikaila nampak terkejut melihat Edzard yang benar-benar datang mencarinya, lalu bola matanya melihat karyawan dan juga Amanda mengamatinya.
"Sudah kukatakan aku akan mampir."Ucap Edzard dengan santai.
"Ikut keruanganku saja."Mikaila menarik tangan Edzard dengan cepat dan masuk kedalam ruangannya. Diruangan ini, Mikaila bisa melihat apa yang dikerjakan oleh anak buahnya, batas antara ruangan dan toko roti ini adalah sebuah kaca besar dimana Mikaila bisa melihat seluruh kegiatan toko sedangkan dari luar dinding pemisah ini hanyalah sebuah kaca besar.
"Kamu kenapa mencariku?" Mikaila bertanya sambil memersilahkan Edzard untuk duduk.
"Aku akan bercerita tentang ini." Dia mengangkat tangannya dan kemudian menunjukkan jarinya yang dilingkari sebuah cincin yang membuat Mikaila merasa sedikit sedih.
"Ah, kenapa kau ingin sekali menjelaskannya?" Mikaila bingung dengan tingkah Edzard ini.
"Karena ini tidak betulan. Sebenarnya selama ini aku mencarimu kemana-mana. Apa kau tau, aku bahkan tak menginginkan apapun selain kamu." Ucapan Edzard yang seperti tanpa disaring ini membuat Mikaila terdiam.
"What?! Kamu bisa bicara pelan-pelan? Aku gak ngerti maksudnya kamu apa." Mikaila mengangkat alisnya sebelah dan menatap Ed dengan pandangan bingung.
"Aku menyukaimu La, bahkan sejak dulu, Jauh sebelum aku bersedia mendengar ceritamu dan sebelum kau mulai pacaran dengan Rai." Ucapan yang sangat terus terang ini membuat Mikaila terdiam.
"Sebentar Ed."Mikaila menahan Ed untuk bicara lebih banyak karena dia melihat bayangan Amanda yang akan masuk keruangannya dengan membawakan minuman dan kudapan untuk tamunya.
"Permisi," Amanda lalu meletakkan minuman dan roti itu, "silakan dinikmati."Ucapnya lalu pergi keluar lagi.
"Ed, bisakah kau tak terlalu berterus terang?" Mikaila berkata setelah Amanda keluar dari ruangannya.
"Aku harus melakukannya sebelum kau kembali menghilang dariku."Ucap Ed lalu menyesap teh yang dibuatkan untuknya.
Mikaila menghela nafas panjang.
"Teh ini enak sekali." Ujar Edzard pada Mikaila yang sudah terlihat salah tingkah.
"Wajar saja karena yang membuatnya tea sommelier."Jawabnya singkat.
Suasana menjadi sedikit canggung. Mikaila bingung harus berkata apa.
"La, aku benar-benar mencarimu saat itu. Bahkan aku melapaskan keinginanku untuk menjadi seorang programmer terkenal."Suara Edzar dibuat seperti bercanda.
"Karena aku kau memilih menjadi psikiater?" Mikaila lagi-lagi dibuat terkejut oleh Edzard.
"Sepertinya sekarang kau harus mendengarkan apa yang akan aku ceritakan. Apa aku boleh bercerita?"Tanya Edzard pada Mikaila.
Lalu Mikaila hanya mengangguk artinya menyetujui ucapan Edzard barusan.
"Ini cincin pertunanganku dengan Lisa, temanmu dulu." Mikaila langsung mengerenyitkan dahinya. Yang benar saja, ini membuat Mikaila menjadi sedikit kesal, apalagi jika mengingat masa lalu yang membuatnya kesal dengan Lisa.
"Jadi?" Mikaila mengeluarkan suara dengan nada tak enak.
"Dia masih berhubungan dengan Rai, tapi orang tuanya tak merestui karena hubungan kedua keluarga tak berjalan begitu baik urusan persaingan bisnis, dan aku terpaksa karena Mom mendesakku untuk menikah dengan rekan bisnis Dad."
"Dad?" Mikaila terlihat bingung, karena yang satu sekolah ketahui adalah Edzard dibesarkan oleh orang tua tunggal. Apa mungkin ibunya menikah lagi.
"Aneh ya, setelah dua puluh tahun aku lahir akhirnya aku tahu siapa Dad. Aku tak akan bicara tentang romansa orang tuaku. Aku akan bicara tentang yang ada disini." Tunjuknya ke d**a.
"Lanjutkan saja. Aku akan menjadi pendengarmu kali ini." Mikaila dengan malas mendengar Edzard.
"La, aku bertunangan satu bulan yang lalu sesaat kepulang dari Jerman dan aku juga baru tahu kalau itu Lisa. Aku bertemu dengan Lisa dan mengatakan kalau aku tak mau, diapun berkata hal yang sama, tapi sayangnya kami tak bisa menolak permintaan keluarga. Sambil mencari cara untuk memutuskan ini," Edzard berkata sambil menunjukkan kembali cincinnya, "kami memutuskan untuk menyetujuinya terlebih dahulu. Dia masih berhubungan dengan Rai, dan aku harusnya masih bisa bebas bertemu dengan siapapun."
"Maksudnya kau mau pamer dengan mengatakan hal ini?"
Edzard tertawa renyah sambil menikmati rotinya setelah mendengar ucapan Mikaila yang jelas dia sangat malas untuk mendengarnya.
"Nggaklah, aku mau bilang sama kamu kalo cincin ini tuh," Edzard kemudian melepaskan cincinnya dan meletakkannya keatas meja,"gak berarti apapun." Dia kemudian memamerkan senyumnya.
"Terus kalo gak berarti apapun, ngapain dipake?" Ucapan Mikaila kembali membuatnya tertawa.
"Menghindari tatapan genit cewek-cewek di klinik dan rumah sakit." Jawab Edzard singkat.
"Kamu kepedean banget, sok kecakepan kamu!"
"Aku memang dari sananya udah cakep mo gimana lagi?" Dia mulai menggoda Mikaila. Wanita ini menjadi makin salah tingkah.
"La, aku beneran loh ngomong gini ke kamu dan aku berharap kamu gak salah paham dengan cincin itu." Sekarang Edzard benar-benar berkata dengan mimik muka serius.
Mikaila hanya menatapnya, mencoba mencari tahu kebenaran dari mata coklat milik Edzard.
"Aku cuma suka sama kamu, gak ada yang lain. Aku mencarimu sampai aku merasa putus asa. Mungkin Tuhan mendengarkan doaku untuk bertemu denganmu. Aku menganggap ini takdir." Edzard berkata lalu perlahan mengatur ritme nafasnya yang mulai tak beraturan karena mengeluarkan luapan emosi didalamnya.
"Aku percaya padamu, tapi tidak dengan Lisa. Bagaimana jika suatu saat dia tak ingin melepaskan pertunangan kalian? Dan bagaimana jika saat itu Lisa menganggapmu sebagai calon suaminya? Aku akan menjadi orang ketiga dan wanita yang jahat diantara kalian." Ucapan Mikaila ada benarnya, tapi karena ego yang tinggi, Edzard selalu berkata bahwa ini akan bisa diatasinya.
"Tidak mungkin La, dia dan Rai benar-benar tak terpisahkan. Lagipula, seperti yang aku katakan, aku tak ingin kehilanganmu untuk kedua kalinya." Edzard memegang kedua pundak Mikaila, berkata dengan mantap dan pasti bahwa hatinya hanya untuk Mikaila seorang.
"Tetap, aku meragukan Lisa. Kau sendiri juga tahu apa yang dia perbuat padaku kala itu. Dia yang menyebarkan semua tentang kekuranganku sampai akhirnya aku menjadi bahan perudungan teman-teman dan sampai tak menyelesaikan pendidikanku disana. Dia juga yang melaporkan pada orang tuaku kalau aku ini gila dan mesti dirawat intensif. Dengan kata lain, dia membujuk orang tuaku untuk mengurungku disana. Tak hanya itu saat aku terkurung dirumah sakit itu, dia bahkan datang bersama Rai untuk mengumumkan hubungan mereka, padahal aku sudah mengetahuinya lebih dulu. Dia memperjelas semuanya. Apa kau tahu rasanya seperti apa Ed?" Emosi Mikaila mulai tidak stabil, Edzard yang mengetahui hal ini langsung memeluknya, memberikan rasa nyaman untuk wanitanya ini.
"Tarik nafas perlahan La, tenang ada aku." Edzard kemudian menepuk punggunggnya dengan pelan dan mengecup pucuk kepala Mikaila.
"Sekarang aku bahkan harus berurusan dengan tunangannya. Apa kau tak salah?" Mikaila mendorong Edzard sehingga Edzard melepaskan pelukannya.
"Dia sudah tau kalau aku memiliki orang lain dihatiku. Hal semacam itu tak akan pernah terjadi." Ucapnya lagi.
"Apa kau Tuhan yang bisa tahu masa depan?" Mikaila tersenyum sinis.
"Aku memastikan kau untuk tidak terluka."
"Aku bosan mendengar janji manis laki-laki yang ujung-ujungnya tak bisa ditepati. Sudahlah Ed, kau urus saja urusanmu, hubungan kita biar sebatas dokter dan pasien saja." Mikaila menolaknya secara halus.
"Aku akan buktikan padamu La."
"Silahkan saja." Ucap Mikaila singkat.
Pikirannya melayang saat masih Sekolah Menengah.
*Flash back*
"Mimi! Kenalin aku Lisa!" Gadis berambut panjang lurus ini menepuk pundak Mikaila dan menjulurkan tangannya berkenalan.
"Aku Mikaila." Jawabnya sambil tersenyum dan menjabat tangan gadis yang bernama Lisa itu.
"Mimi, apa aku boleh memanggilnya seperti itu?" Ucapnya dengan senyum mengembang dipipinya.
"Gak masalah, ehm ... tapi apa kita satu kelas?"
"Sepertinya iya. Aku udah lihat dipapan pengumuman pembagian kelasnya. Namamu Mikaila Putri, kan?"
"Iya." Jawabnya cepat.
Mikaila saat itu adalah anak yang populer, karena saat mengikuti orientasi siswa baru hari pertama dia disuruh untuk membaca puisi didepan seluruh teman-taman barunya satu angkatan. Untungnya dia adalah penikmat puisi tanpa banyak berpikir dia membacakan puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul "Aku Ingin" yang lagi-lagi kebetulan baru saja dia baca semalam. Hal tersebut akhirnya membawanya dikenal satu angkatan bahkan dikenal oleh kakak kelas yang lain.
Mikaila dan Lisa berjalan berdampingan ke gedung serba guna untuk mendapatkan pembagian pakaian sekolah mereka.
Sejak saat itu Mikaila dan Lisa sudah seperti kembar siam yang kemana-mana selalu berdua dan satu hal lagi, sekolah ini memiliki asrama, jadi pelajar diwajibkan tinggal diasrama selama masa pendidikan kecuali tiap akhir pekan sabtu dan minggu mereka bisa pulang kerumah tentunya dengan surat perjanjian diawal, karena ada juga beberapa siswa yang tidak pulang kecuali musim liburan sekolah.
Mereka tinggal diasrama dengan satu kamar berisi empat orang. Diawal pertama kali pembagian kamar Mikaila dan Lisa juga satu kamar dengan dua teman lainnya, veny dan Anya dan untuk mengakrabkan sesama rekan satu angkatan, aturan diasrama adalah tiap tiga bulan akan berganti teman dimana ini akan diatur oleh pengurus asrama. Walaupun demikian, Mikaila dan Lisa tetap akrab satu sama lain.
Mereka akan pulang kerumah tiap jumat siang, tapi biasanya Mikaila akan ketempat Lisa dulu atau Lisa yang akan ketempat Mikaila dulu sebelum akhirnya pulang kerumah masing-masing disore harinya.
Suatu ketika, Mikaila yang mengajak Lisa untuk singgah terlebih dahulu kerumahnya mengetahui sesuatu yang membuat dirinya terkejut. Orang tuanya bertengkar dengan hebat ini pertama kali yang dilihatnya, biasanya hanya ada cekcok mulut dan tak sampai melempar barang. Kali ini memang berbeda, saat seperti ini Bu Minah menghapiri Mikaila yang sedang membawa temannya untuk pergi keluar.
Lisa yang menyaksikan hal itu mencoba untuk memberikannya kesabaran dan menyupportnya, kemudian dia kembali kerumahnya dan Mikaila bersama dengan Bu Minah duduk diteras rumah. Sejak dia Sekolah menengah pertama dia mengetahui orang tuanya memang sering adu argumen tapi itu hanya sebentar saja dan tak melihat hal sebesar ini.
Tak lama kemudian papinya keluar dari rumah sambil melihatnya sekilas lalu pergi dengan mengendarai kendaraannya. Mikaila langsung masuk kedalam dan menghampiri Ibunya.
"Mami tidak apa-apa?" Tanya Mikaila menghampiri Ibunya yang masih terduduk lemah dilantai.
"Apa semuanya salahku? Apa aku harus menanggung semuanya?"Wanita itu berkata dengan memandang Mikaila yang terdapat kilatan kebencian didalamnya.
"Mami kenapa?"Tanya Mikaila lagi.
"Ini semua salahmu. Jika tidak aku mengadopsimu dulu, semuanya tidak akan terjadi seperti ini."Ucapan itu membuat lubang yang dalam dihati Mikaila. Lalu, gadis itu kemudian melepaskan tangan yang menyentuh Ibunya.
"Kenapa Mami berkata seperti itu?"Mikaila berusaha untuk tetap tenang, walaupun sebenarnya dia sangat sedih orang tua yang dianggapnya membesarkan dengan penuh kasih sayang berkata hal yang sangat menyakitinya.
"Itu semua karnamu!"Lalu Ibu Mikaila beranjak dari tempatnya dan pergi.
Mikaila yang mendapatkan perlakuan barusan diam mematung, dia kemudian dipeluk hangat oleh Bu Minah. Air matanya jatuh tapi isak tangisnya tak keluar.
"Sabar Nak, mamimu itu hanya emosi sesaat saja, dia sedang mengalami hal yang berat."Ucapnya dengan lembut ditelinga Mikaila.
Sejak saat itu, Mikaila sudah jarang pulang kerumah karena tiap dia pulang, selalu saja pertengkaran terjadi didepan matanya. Hanya Bu Minah yang memeluknya dengan penuh kehangatan, sudah dapat dipastikan bahwa sejak saat itu setelah pertengkaran Ibunya akan mengeluarkan kata-kata yang sangat menyakitkan.
Lisa adalah tempat Mikaila bercerita semua masalahnya, Lisa juga menenangkannya. Sekolah adalah tempat pelariannya, dia bisa bercanda dan tertawa dengan sangat leluasa, dia sangat menikmati kehidupannya, apalagi sejak Rai mendekatinya. Rai adalah laki-laki pertama yang membuat jantungnya berdetak dengan cepat. Mereka mulai dekat satu sama lain. kedekatan ini juga selalu diceritakan pada Lisa. Disekolah hanya Lisa yang dipercayanya untuk mendengar semua kisahnya. Mikaila hanya pulang satu bulan sekali, dia malas untuk melihat aura negatif yang ada dirumahnya.
Sehari sebelum bagi rapor kenaikan kelas, dia dihubungi oleh pihak sekolah untuk segera pulang, dia dijemput oleh Maminya, dia bingung apa yang sebenarnya terjadi, saat tiba dirumah ternyata Bu Minah yang selalu memberikan ketenangan sudah berpulang.
*Flash Back Off*
"La, kamu kenapa?"Edzard menyadarkan Mikaila yang terdiam menatap kedepan dengan pandangan kosong.
"Ah, aku ..." Mikaila sendiri bingung kenapa tiba-tiba bayangan itu kembali berputar dikepalanya, "lebih baik kau pulang saja Ed."Sambungnya lagi.
"Ya, aku memang mengatakan kalau aku ingin pulang tadi, tapi tiba-tiba kau memandang dengan tatapan kosong, apa kau perlu tempat untuk bercerita?"Tanyanya mendekati Mikaila lagi.
"Nggak sekarang. Kau pulang saja, selesaikan urusanmu karena aku masih belum mau berurusan dengan Lisa."Ucapnya lagi.
"Baik aku pulang, kau harus menghubungiku."Lalu dia menyambar handphone milik Mikaila yang ada diatas meja.
"Aku akan pulang setelah kau membuka Handphonemu."Ucapnya
Mikaila hanya menatapnya dengan heran dan membuka Handphonenya, lalu setelahnya Edzard menekan nomor miliknya sampai handphone yang ada dikantongnya berbunyi. Data diklinik terkait Mikaila tidak menyantumkan nomor pribadinya, tapi nomor Amanda maka dari itu, dia sangat ingin bertemu Mikaila secepatnya.
"Simpan nomorku dengan sebutan Lord Ed."Edzard dengan sesukanya membuat namanya disana. Mikaila hanya tersenyum simpul.
"Dasar kekanakkan."Ucapnya.
"Aku akan selalu menunggu kau menelponku. Aku pulang La!" Edzard lalu pergi meninggalkannya, sedangkan Mikaila mengawasinya sampai dia keluar dari pintu toko.
'Selalu memaksa seperti dulu.' Gumamnya pelan.
***