Mungkin lebih dari sepuluh menit Edzard memeluk wanita ini, sekarang dia sudah bisa lebih tenang. Edzard melepaskan dekapannya, menghapus air mata yang mengalir di pipi Mikaila. Matanya terlihat sedikit sembab tapi tetap terlihat manis seperti dulu.
"Ed ..." kata pertama yang keluar dari mulut Mikaila setelah dia menangis ini membuat Ed tersenyum.
"Ceritalah padaku." Suara lembut Ed ini membuat Mikaila merasa sangat nyaman.
"Aku ..." Mikaila menggantung kalimatmya, sedangkan Edzard mengangguk menunggu lanjutannya dengan tangan yang masih menggenggam tangan Mikaila.
"Aku ..." Mikaila masih ragu untuk melanjutkannya, lidahnya terasa kelu untuk mengatakan yang sesungguhnya.
"Lanjutkan saja, Aku akan selalu menjadi pendengar setiamu." Tangan kanannya kemudian memegang wajah sembab Mikaila dan menatapnya lekat.
"Aku merindukanmu, Ed." Kata-kata ini membuat Edzard merasa bahwa dia bisa terbang, sedangkan Mikaila dia hanya tertunduk setelah mengatakannya.
Senyum diwajah Edzard mengembang dengan sempurna. Dia merasakan hawa-hawa kebahagiaan saat ini.
"Kau coba ini saja dulu." Lalu Edzard memberikan bungkusan roti tadi padanya.
Mikaila yang merasa perkataannya tak direspon menjadi sangat malu, apalagi saat Edzard memberikan roti itu.
"Kau tahu La, ini roti coklat terenak yang pernah kucicipi. Aku selalu membelinya setiap pagi." Ucap Edzard bersemangat.
Mikaila hanya tersenyum melihat reaksi Edzard tentang makanan yang diberikan padanya.
"Kau ... apa yang kau suka dari ini?" Mikaila dengan canggung menanggapi Edzard.
"Rotinya yang agak krispi diluar lalu lembut dibagian dalam dan coklat lumernya dengan rasa yang pas banget dilidah. Bakernya pasti sangat berpengalaman." Edzard berkata masih dengan nada bersemangat, entah itu untuk menutupi kecanggungan yang terjadi atau memang dia memiliki cara lain untuk membantu Mikaila.
"My Rotea." Mikaila membaca bungkusnya.
"Ya kau harus mencobanya, memang sih agak jauh dari sini tapi, kau tetap harus mencobanya." Lagi-lagi Edzard berbicara dengan semangat, yah ... mungkin hanya untuk sekedar menghilangkan rasa canggung saat ini.
"Bagaimana kalau aku yang membuatkan roti ini untukmu?" Pertanyaan Mikaila yang tiba-tiba ini membuat Edzard mengangkat alisnya sebelah.
"Kau bisa membuat roti?" Tanyanya pada Mikaila.
Mikaila hanya mengangguk.
"Kalau begitu aku harus menyicipinya." Ujar Edzard santai lalu kembali ke kursinya.
"Sudah berapa lama kau mencobanya?" Suasana sudah mulai mencair.
"Sejak aku kembali ke negeri tercinta. Sejak bulan lalu mungkin." Edzard kembali tersenyum.
"Berapa kali kau sudah mencoba roti ini?" Tanya Mikaila lagi.
"Puluhan kali sepertinya." Edzard menjawab dengan cepat
"Artinya kau puluhan kali juga menyicipi roti buatanku." Ucap Mikaila yang membiat Edzard melongo.
"Roti ini ..." Edzard sepertinya kehabisan kata-kata.
"Toko rotiku." Ucap Mikaila tanpa ekspresi.
"Wow! Kau memang selalu penuh kejutan La. Kau seorang baker? Really?" Edzard seakan tak percaya.
"Kau tak memercayainya?" Ada perubahan wajah yang membuat Edzard merasa bersalah.
"No, bukan gitu maksudku. Aku gak percaya kalau temanku dulu akhirnya menjadi seorang baker." Edzard tersenyum manis sambil mengingat kejadian mereka berdua saat itu.
"Kau benar-benar melakukannya La." Edzard tertawa renyah membuat Mikaila sedikit jengkel.
"Menyebalkan." Umpatnya pada Edzard yang masih tak memercayainya.
"Jangan marah dong La. Aku sangat senang mendengarnya."
"Terserah." Mikaila kemudian bagkit dari kursinya dan melihat keluar jendela.
"La, apa yang terjadi padamu?" Tanya Edzard sambil beejalan mendekatinya.
"Gagal kawin dan Mami makin benci sama aku apalagi sejak Papi meninggal seminggu setelah kejadian itu." Mikaila memulai ceritanya.
"Kapan?"
"Tiga bulan yang lalu." Jawab Mikaila tanpa melihat Edzard.
"Kau gagal menikah dan ..."
"Yah." Mikaila memotong cepat, Edzard paham situasi ini saat seperti ini artinya Mikaila tidak mau ceritanya dipotong.
"Sakya, dia laki-laki yang benar membuatku merasakan kembali kata-kata manis berlabel cinta. Bahkan, saat aku sudah tak memercayai lagi kata magic itu dia datang dengan membawa kenyamanan, dia menuruti keinginanku, tapi entah kenapa tiba-tiba dia tidak datang diacara pernikahan kami." Mikaila menghembuskan nafasnya dengan berat.
Edzard menepuk pundaknya dengan perlahan dan lembut, berusaha untuk meringankan beban yang ada padanya.
"Dia tak bisa dihubungi, keluarganya-pun ternyata hanya bohongan. Dia menyewa orang-orang untuk menjadi keluarganya. Aku tak tahu apa maksud dari tujuannya, tapi Papi marah besar setelah kejadian itu." Lagi Mikaila menarik nafas dalam. Edzard hanya mendengarkan ceritanya saja walaupun di otaknya sekarang banyak tanda tanya yang berserakan.
"Papi meninggal karena serangan jantung seminggu setelah kejadian itu. Mami membenciku dan mengatakan hal yang aku sendiri malas untuk mengingatnya. Kau juga tahu aku bahkan tak memiliki teman untuk bercerita. Aku berjuang sendiri, aku bahkan takut jika sampai suatu saat aku tak mampu menanggungnya lagi. Untungnya aku memiliki Amanda yang sudah menganggapku seperti keluarganya. Dia yang selalu mencoba untuk menenangkan aku walaupun aku jjarang menceritakan detail kisahku padanya." Mikaila memejamkan matanya, sedang Edzard berusaha untuk mencerna apa yang diceritakan oleh Mikaila.
"Amanda? Apa dia yang mendaftarkanmu kemari?" Tanya Edzard, Mikaila mengangguk.
"Aku menyadari sesuatu yang buruk mungkin akan kembali terjadi padaku seperti dulu, padahal aku berusaha untuk menyibukkan diri tapi bayangan itu tetap saja bermain dikepalaku. Aku tidak merasa puas jika tidak kembali kedunia pantulan itu. Apa kau pikir aku akan kembali seperti dulu?" Mikaila membalikkan badannya dan menatap tajam mata elang milik Edzard.
Edzard kemudian memegang kedua bahu wanita ini. Menatap Mikaila dengan pandangan yang membuat Mikaila merasa aman dan nyaman, sangat memberikan keteduhan.
"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Kau harus percaya padaku Mikaila Putri." Ucap Edzard penuh kepastian.
Kali ini, Mikaila mengalungkan tangannya ke leher Edzard dan berjinjit lalu memeluknya. "Aku benar-benar merindukanmu Ed."
Edzard mendapatkan perlakuan yang lagi-lagi mengejutkan ini membalas pelukan erat dari Mikaila. Dulu ... rasa itu singgah dan Mikaila gadis spesial dihatinya, tapi waktu perlahan mengajarkan tentang orang yang datang dan pergi, saat semuanya akan perlahan menghilang Mikaila kembali memperjelas kenangan yang mulai kabur.
"Aku juga merindukanmu." Suara Edzard yang ditangkap oleh gendang telinga Mikaila ini membuat empunya terkejut, tak menyangka Edzard akan mengatakan hal itu.
"Kau merindukanku? Apa aku tidak salah dengar?" Mikaila melepaskan pelukannya dan menatap lekat laki-laki yang berdiri dihadapannya. Jarak mereka sangat dekat, rona kerinduan itu sebenarnya terpancar dari kedua bola mata Edzard.
"Kau harus percaya padaku." Ucapanya sangat meyakinkan.
"Apa aku bisa sekali lagi percaya padamu?" Mikaila bertanya dengan penuh harap.
"Harus." Jawaban pasti dari Edzard membuatnya merasa sangat nyaman seperti saat itu, "Tapi kau harus janji padaku. Jangan pergi tanpa pamit." Lanjutnya.
Tak terasa pertemuan mereka sudah memakan waktu hampir satu jam.
"La, apa boleh nanti aku bermain ketempatmu?" Tanya Edzard berharap dia bisa datang kapanpun kepada Mikaila.
"Boleh saja, tempatku selalu terbuka untukmu, Ed!" Balas Mikaila.
"Jika kau memerlukan sesuatu, kau bisa menghubungiku. Aku bisa menjadi teman ceritamu."Ucap Edzard lagi.
"Yah, Aku selalu menantikan itu, tapi ..."Mikaila akhirnya menyadari bahwa ada sebuah cincin yang melingkar di jari manis Edzard.
"Tapi?" Edzard penasaran dengan kelanjutan kalimat Mikaila. Wanita ini memang sering menggantung kalimat-kalimatnya yang membuat Edzard penasaran dengan kelanjutannya, Mikaila selalu penuh dengan kejutan.
"Apa nanti pasanganmu tidak marah padaku jika aku sering menghubungimu."Suara itu jelas terdengar dengan nada kecewa, Edzard menyadari hal itu. Kemudian Edzard melihat ke Jari manisnya yang dilingkari cincin putih dengan sedikit ukiran.
"Ah, ini panjang ceritanya. Nanti suatu saat kau juga harus menjadi pendengar ceritaku."Ucap Edzard dengan memamerkan senyumnya.
"Oh ..."Mikaila hanya menjawab singkat, tak mengerti maksud darin senyuman itu.
Sebenarnya Mikaila sedikit sedih dengan pernyataan Edzard barusan, dia sangat penasaran apakah itu cincin pernikahan atau pertunangan. Dalam hati dia berharap kalau itu bukan halangan yang bisa membuatnya kembali kehilangan Edzard. Sedang Edzard, dia sebenarnya sangat ingin mengatakan tentang dirinya, tapi karena waktu yang sempit dan suasana yang kurang mendukung, dia tak mau dulu bercerita tentang kehidupannya sekarang. Mungkin nanti.
"Aku rasa, hari ini aku masih harus ada yang dikerjakan. Lagipula kau masih ada pasien didepan."Ucap Mikaila.
"La, tapi kau harus cerita padaku apapun yang mengganjal dipikiranmu ya." Arga kemudian memegang tangan Mikaila.
"Tapi, kau harus memastikan bahwa aku tidak akan merusak hubunganmu."Mikaila berkata dengan tegas.
"Dia Lisa, kau mengenalnya. Dia tunanganku ceritanya panjang. Kupastikan kau tak perlu menghawatirkan hal ini."Edzard mengatakan hal ringkasnya saja, karena dia tak ingin membuat Mikaila menjadi sedih. "Aku akan ketempatmu selesai kerjaanku disini."Edzard berkata dengan sangat tulus, seperti pertama kali Edzard mendengarkan cerita Mikaila dulu.
Mikaila tersenyum, "Aku pulang dulu Ed."pamitnya.
Sesaat setelah Mikaila keluar dari ruangannya, Suster Ani masuk kedalam ruangannya.
"Dokter, Pasien selanjutnya Nona Nia, apa Dokter memerlukan waktu sejenak untuk istirahat?"Tanya Suster Ani padanya.
"Tidak perlu, suruh dia masuk saja, dan berapa pasien hari ini?"
"Hari ini masih ada tiga lagi setelah Nona Nia Dok."Jawabnya.
"Oke."Edzard mengeluarkan senyum lebarnya dan lagi-lagi memamerkan lesung pipi diwajahnya, dia tersenyum sendiri tanpa menyadarinya.
'Aku akan segera menemuimu Mikaila.' Ucap Edzard dalam hati sambil menatap cincin dijari manis itu, ada rasa penyesalan kenapa dia harus memakai cincin ini.
Suster Ani yang memandang curiga pada dokter tampan ini mulai berspekulasi macam-macam, mungkin akan menjadi bahan gosip yang Hot! Karena dia mendapati dokter ini senyum sendiri dan terlihat bahagia setelah kepergian pasien bernama Mikaila. Sebelumnya dia tidak pernah seperti ini, biasanya dia tak pernah mengeluarkan ekspresi yang berlebihan, tapi kali ini berbeda!
***