Gak Ngerti Kode
"Oh Tuhan!"
Siang itu di salah satu cafe yang berada dekat kantor, Rega begitu kaget melihat Reno tiba-tiba memegangi d**a, sepertinya Reno mengalami serangan jantung mendadak. Rega panik dan segera bangun untuk menghampiri.
"Lo kenapa?" tanya Rega dengan panik. Walaupun sahabatnya itu terkutuk tapi Rega begitu takut kehilangan.
Bagaimanapun Reno adalah separuh hidupnya, tanpa Reno hidup Rega berantakan. Sebenarnya lebih pada pekerjaannya yang akan berantakan. Karena selama ini Rega tidak bisa jika tidak ada Reno. Reno adalah duplikat dari Rega, dimana ada Rega disitu ada Reno. Kecuali dalam urusan bergaul, dimana ada Reno belum tentu ada Rega.
Reno itu seorang pemain wanita ulung. Wanita mana yang tidak tunduk di bawah kuasa Sang Dew cinta. Pesona Reno dan Rega tidak bisa dibantah. Hanya saja, Reno merupakan seorang dengan cap playboy kelas kakap. Sedangkan Rega sendiri sering disebut sebagai gay, karena selalu menatap wanita dengan heran. Apalagi jika wanita itu secara terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada Rega.
Hanya seorang Medina Dwi Danendra yang mampu menggoyahkan tembok kokoh yang ada di hati Rega, sehingga gelar sebagai gay akhirnya lepas dari Rega.
Para wanita itu hanya tidak tahu saja bagaimana akhlak dari seorang Arega Dewa Sarani, yang di dalam otaknya hanya ada dua bukit kembar yang menggantung. Hal yang hanya diketahui oleh Reno. Mereka berdua memang sahabat sejati, selalu berbagi dalam suka maupun duka, terutama dalam hal memainkan aset wanita.
Jika Rega lebih suka bukit kembar pada bagian tubuh wanita, berbeda dengan Reno yang lebih menyukai bagian tubuh yang ia sebut dengan Kue Apem, yang justru bertentangan dengan Rega.
"Jantung gue mau copot kayaknya," jawab Reno dengan menahan sakit di tubuh bagian depan sebelah kiri.
Melihat wanita Cantik, manis, seksi, memiliki tubuh indah bagaikan gitar Spanyol. Mata coklat madu yang begitu menghipnotis, kulit putih bersih mulus, hidung mancung bagaikan perosotan anak TK, tinggi semampai dengan rambut hitam panjang yang begitu lurus, selurus jalan Tol.
Berjalan dengan anggun walaupun tanpa dress yang membalut tubuh indahnya, kesan seksi wanita itu nampak jelas di mata tajam seorang Reno Ragasa. Laki-laki yang dinobatkan sebagai Dewa Cinta oleh Guinness Records versi Rega, bos-nya yang baru saja mendapatkan jack pot karena gelar jomblo abadi dan gay yang di sandangnya sudah lepas.
Entah siapa wanita yang baru saja melewati Reno barusan. Auranya begitu mengikat jiwa kelelakian Reno. Mata yang selalu awas pada wanita-wanita cantik langsung terkunci pada sosok itu.
Ah! sungguh, mengapa ada mahkluk Tuhan sesempurna itu? Selain Mega wanita tanpa statusnya. Apakah itu bidadari yang baru saja turun dari kayangan, yang dikhususkan Tuhan untuknya?
Oh! Tuhan, terima kasih jika benar bidadari itu memang diciptakan untuknya. Reno akan melepaskan Mega yang selama ini membelenggu hidupnya tanpa kepastian.
Wanita itu masuk kedalam cafe yang sama dengannya. duduk sendiri di meja yang terhalang dua meja lain darinya.
"Hayu kita ke rumah sakit," ajak Rega dengan panik.
Niat hati ia ingin suasana baru dengan memeriksa dokumen di Cafe sebagai suasana baru, tapi keadaan sahabatnya sangat memprihatinkan.
"Gak mau, tolong ambilin obat aja," pinta Reno dengan tetap memegang area dadanya, tapi matanya menatap lurus kedepan.
"Tunggu disini gue ambilin bentar."
Tanpa bertanya bos-nya langsung berlari keluar cafe untuk mengambil obat Reno. Hal itu menjadi perhatian dua pengunjung lainnya.
Rega mengobrak-abrik isi mobil mencari obat untuk Reno. Rega takut jika Reno tidak bisa menahannya. Semua isi mobil sudah dibukanya, tapi tidak ada obat yang di carinya. Di kotak obat hanya ada paracetamol dan salep untuk luka.
Rega kembali dengan membawa paracetamol, karena hanya itu yang ada. Rega hanya berharap semoga paracetamol itu mampu untuk meredakan serangan jantung Reno. Paracetamol kan memang untuk menghilangkan nyeri bukan? Jadi sepertinya Rega tidak salah.
"Lo nyari apa?" tanya Reno santai, seolah tidak terjadi apapun pada tubuhnya, membuat Rega heran. Bukankah tadi Reno sangat kesakitan?
"Lo udah gak sakit?"
Rega bernapas lega ketika melihat Reno baik-baik saja, bahkan saat ini ia tengah meminum kopi dengan santai.
"Gak ngerti kode lo," decak Reno kesal sambil menyimpan kopinya.
"Maksudnya?" tanya Rega heran, Rega kembali duduk untuk mencerna penjelasan dati Reno.
"Gue akting bodoh! Lo liat cewek di belakang lo, asli, cantik nya ngalahin Citra Kirana tau gak," jawab Reno dengan pandangan lurus pada wanita yang dimaksudnya.
Rega menoleh, mengikuti jarak pandang Reno yang sedang melihat wanita berambut lurus dengan panjang melewati bahu. Menggunakan blues berwarna blue. Napas Rega kembang kempis menahan kesal karena perbuatan asisten laknatnya itu.
Sial sekali memang seorang Reno, disaat ia panik setengah mati, ternyata Reno hanya berakting. Membuatnya menjadi bahan tontonan pengunjung cafe yang untungnya sepi.
Oke, Rega akan membalas perbuatan Reno, Rega akan mematahkan gelar Dewa Cinta yang disandang oleh Reno. Dengan kesal Rega berjalan menghampiri wanita yang duduk dengan tenang sendirian.
"Mbak, ada yang mau kenalan sama Mbak. Itu orangnya," tunjuk Rega pada Reno dengan suara yang cukup keras. Sehingga membuat pengunjung yang berada di meja sebelahnya melihat dengan heran.
Tanpa basa-basi Rega langsung mengungkapkan tujuannya, membuat Wanita itu mendengus kesal, tidak sopan sekali pria ini. Pria yang dikenalnya dengan baik, walupun Rega tidak mengenalnya, tapi ia tahu siapa Rega, apalagi laki-laki yang tadi duduk bersamanya, yang ia tahu sebagai sahabatnya. Siapa lagi jika bukan Reno Ragasa, playboy cap Badak yang sangat dibencinya.
"Saya tidak menerima pertemanan," jawab Wanita itu datar.
Wow! Pada akhirnya, seorang Reno tidak diminati oleh wanita. Benar-benar sebuah berita yang mengejutkan. Ternyata wajah tampan yang dilapisi dompet tebal tidak mampu untuk membuat wanita yang diincarnya takluk.
"Bos! anda ditolak. Oke terima kasih," balas Rega yang membuat wanita itu tersenyum miring.
Ada-ada saja memang kelakuan dua sahabat itu. Sedangkan dua orang yang berada di meja lain hanya menggelengkan kepalanya.
Rega tertawa melihat wajah masam Reno, Rega sengaja melakukan itu untuk membuat Reno malu. Rasakan lah pembalasan darinya yang tidak main-main. Salah sendiri membuatnya menjadi panik.
Namun, bukan Reno namanya jika ia tidak mempunyai trik untuk menyelamatkan rasa malunya. Rega salah jika ia akan malu, justru dengan kelakuan Rega seperti itu menjadikan keuntungan tersendiri untuk Reno.
Berjalan dengan santai dan cool adalah gaya Reno, ia menghampiri sang wanita yang baru saja ia tandai sebagai incarannya itu. Memanfaatkan peluang yang telah dibuka oleh Rega, tanpa mempedulikan tawa meledek dari Rega.
Rega menghentikan tawanya, ketika melihat Reno dengan santainya menghampiri wanita yang ia tandai dengan wanita judes. Karena tadi wanita itu tidak melihat apalagi tersenyum sedikitpun padanya. Tidak tahukan wanita itu bahwa Rega sangat tampan, berani sekali wanita itu bersikap seperti itu.
Rega melihat bagaimana Reno mulai mencoba mengeluarkan jurus andalannya dalam merayu wanita. Tidak bisa dipungkiri memang pesona dan kepiawaian Reno dalam hal mendapatkan wanita memang di atas rata-rata. Sedangkan dirinya sendiri memang tidak pernah tertarik pada wanita selain Nadin, wanita yang saat ini sudah berstatus sebagai istrinya.
Ini juga merupakan pertama kali Reno kembali terpesona pada seorang wanita setelah ia dikekang oleh Mega, anak Sultan yang tidak mau dihalalkan oleh Reno yang saat ini sedang menjalani proses tobat.
Namun, pujian Rega langsung buyar seketika saat melihat bagaimana wanita judes itu memperlakukan Reno. Rega tertawa melihat wajah Reno saat mencoba merayu gadis judes itu.