Berkas Deportasi

1083 Kata
Rian bangun dari rajang denga rasa terkejut, setelah mendaptkan notifikasi dari mobile bank miliknya, "Emang beda kalo urusan sama orang tinggi..." Ujarnya dengan tangan menyingkap selimut. Dengan sigap ia langsung menghubungi semua orang yang akan terlibat pada rencana tersebut, ["Cepat kau siapkan surat yang kemarin gue pinta. Dan ceklah mutasi rekeningmu."] Rian mengirimkan pesan singkat pada orang yang akan mempunyai tanggung jawab besar. Masih pukul 8 pagi, tangan dan mulutnya begitu sibuk meladeni semua urusan, yang beluk bisa diterima hatinya dengan ikhlas. Membuat semua pergerakan Rian sangat serba salah, namun kenapa ia terus melancarkan semua rencana buruknya ini? Sungguh di lua nalar seorang Rian, yang sudah mengaggap Becca sebagai teman karibnya. Matanya bertemu dengan dirinya pada pantulan kaca, memandang lengkung senyum yang ia rindukan. 'Kenapa kau begitu jahat, pada temanmu sendiri' Semua perkataan tulus dari hati kecilnya diacuhkan oleh otaknya, karena sufah terkontaminasi keserakahan dan keegoisan semata. Menurut otaknya, semua perlakuan Becca padanya sangatlah jahat, hingga ia melupakan jika cinta tak harus dipaksakan. Sampai membuat Rian mengambil langkah berani merisak Becca, hingga menyusun cerita yanh ia sampaikan ke telinga Rudi, selaku orang paling ditakuti oleh Becca. Saat kemarin dirinya hanya membuat kegaduhan di Jakarta, tanpa mengetahui akibat ulahnya tersebut. Yang membuat Rey kembali tinggal di hotel, dan Rita yang pulang ke rumah orang tuanya di Bintaro. TING TING TING' Rian menyambar ponsel dari nakas, memencet tombol hujau di layar. ["Aku membutuhkan kau untuk datang ke kantor imigrasi. Cepat! Waktu kita tidak banyak, hanya saat jam makan siang."] Panggilan dari Beno, orang suruhan dirinya menginginkan kedatangan Rian ke imigrasi. Entah apa yang harus ia lakukan, padahal perintah Rian waktu itu jelas, jika dirinya tidak mau bertemu langsung untuk urusan ini. Ia sendiri mengetahui betul dirinya takut, jika ada orang suruhan Randi atai semua orang yang mengenali dirinya bertemu dan melihat semua pergerakaannya. ** "Kamu ikut aku yuk, kita pergi belanja bulanan." Ajak Becca pada Randi, yang sedang memakai setelan kantornya. "Boleh, tapi setelah pertemuan nanti yaa. Memang kau tidak mau bekerja hari ini?" Balas Randi dengan santai, sampai membuat wajah Becca mendadak berubah. "Aww! Sakit, sayang." Pekik Randi, setelah menerima cubitan di otot bisepnya. "Makanya jangan asal bicara, mentang-mentang yang punya perusahaan, bisa mengajukan pertanyaan macam tadi." Cerocos Becca, dengan tangan yang mengelus tempat cubitannya mendarat. "Aku cuman bertanya lhoo, kau lagi kenapa si, sensitif sekali." Cibir Randi. Membuat kejahilan Becca muncul ke permukaan, "Bulanku sedang datang, Rand. Maaf yaa." Balas Becca, diikuti dengan kepala yang sengaja ia tundukkan ke bawah. Membuat Randi mengerutkan dahi, untuk mencerna kembali semua ucapan Becca. "Kita gak bisa---" "Stop it! Tidak apa, lagipula hanya satu bulan sekali." Pekik Randi, dengan suara kecewa yang membuat Becca senang. "Hmmmmm, tapi bohong. Kenapa wajahmu sangat kecewa, Mr. Randi?" Becca menaikkan wajah Randi, dan langsung terbahak tepat di depam wajah Randi. Membuat pria tersebut menghembuskan nafas kesalnya, "MALAM INI TIDURMU TIDAK AKAN TENANG, MISS REBECCA." Balas Randi dengan tangan yang memaksa tubuh Becca untuk lebih dekat dengannya. "Tidak takut, lagipula malam ini aku harus pulang ke apartement, sorry, Mr. Randi." Becca meloloskam dirinya, dan langsung keluar dari ruang wadrobe milik Randi. Membuat Randi hanya bisa terkikih geli, melihat kelakuan wanita kesayangannya. TING TING TING' Ia mengambil ponsel dari saku jasnya, melihat nama Trevor yang sedang memanggilnya. Entah kenapa setiap panggilan dari Trevor, membuat dirinya getir untuk mengangkat. Mungkin rasa takut akan kabar dari orang yang selalu ia hindarkan akan terdengar, karena Randi sengaja menugaskan Trevor untuk memantau pergerakkan orang tersebut. ["Rand, important."] Randi mengambil nafas dalam sebelum membalas semua perkataan Trevor,["Jelaskan via chat, karena gue sedang bersama Rebecca. Wanita itu belum mengetahui apapun semenjak pesta Suzy.] Randi langsung memutus panggilan tersebut, sebelum raut wajahnya berubah dengan sempurna. Drttt drttt drttt' Tangannya bergetar hebat saat melihat pesan yang disampaikan oleh Trevor, yang memberitahukan jika belum lama Rian kembali ke Singapore, entah kemana tujuannya kemarin. "Sayang," "Kenapa? Kau sudah siap?" Randi tergagap, melihat Becca yang sudah berdiri di pintu. Entah sejak kapan, tapi yang jelas hanya satu permohonan dirinya. Agar Becca tidak mendengar semua perkataannya di telefon tadi, "Kau kenapa si? Kok kaya ketakutan pas aku datang?" Sambung Becca, setelah menelaah kembali respon yang diberikan Randi tadi. "Bukan takut, sayang. Aku terkejut, ada seorang bidadari yang muncul tiba-tiba di ujung pintu." Gombalan klasih Randi kembali membuat wwjah Becca memerah, layaknya tomat. Dengan begitu, Randi sudah bisa sedikit menenangkan hatinya, untuk menampilkan kembali topeng di hadapan Becca, dan belum mengetahui kapan topeng itu akan dilepas. Menjelaskan semua ucapan Rian pada Becca, dan mempersiapkan hati jika Becca merasa sudah dibohongi oleh Randi. Sementara di hotel, Rey sengaja bolos sekolah demi menenangkan hatinya kembali. Merasa sang ayah yang sudah keterlaluan, dan tidak percaya pada anaknya sendiri. Terlebih lagi pada Becca yang tidak lagi hidup atas uangnya. "Aishhh, kemana tuh orang. Tumben gak angkat." Cibir Rey, melempar ponsel ke ranjangnya. Tidak lama kemudian, ia kembali mengambil ponselnya, karena tersadar jika harus menanyakan kabar dari ibunya yang kini di Bintaro. "Hallo, sayang. Adik udah di hotel?" Suara Rita yang begitu tenang, meredamkan sedikit emosinya. "Aku udah di hotel, Mah. Mamah gimana? Trs masalah Kak Becca gimana, Mah? Pasti gak lama dari sekarang, imigrasi Singapore akan mendeportasi Kakak." Lirih Rey. Kini pupilnya terpaksa menjadi kuat, untuk membendung semua airmata nya, yang tidak maunia tumpahkan. Sementara Rita yang tidak tahu harus apa, terpaksa untuk mengalah. Namun, bukan untuk kalah. "Jika benar begitu, kita berdua harus berjanji untuk membantu Kakak kembali ke Singapore ya, dik. Kau juga harus pulang, temani kakakmu." Balas Rita, dengan tangan yang menyeka air mata. "Mamah juga pulang, kita dukung kak Becca bersama." Balas Rey, dengan suara bulatnya. Membuat Rita menarik lengkung senyum, "Pasti. Kalau begitu, kita tunggu sampai waktu itu ya. Kau baik-baik di sana, jangan menghabiskan uang Mas Randi terus, Dek." Dengan sangat percaya diri, Rita menyebut Randi dengan panggilan "mas" yang membuat Rey, terkikih geli. "Kak Randi, Mah. Aku memanggilnya itu. Kalo mas kesannya kaya orang jawa, padahal diakan orang luar." Protes Rey, seraya berbarik ke ranjang hotel yang sangat empuk dan nyaman. "Yeuuu, biarkan saja. Kan sebutan mamah exclusif, biar terkesan Mas Randi buat kakakmu Becca." Entah omongan apa yang berusaha disampaikan oleh Rita, namun anehnya semua itu terdengar jelas di telinga Rey, sebagai persetujuan ibunya pada hubungan mereka. "Uhuk uhuk uhuk" "Pelan-pelan, Rand. Minum dulu nih." Becca mendekatkan gelas pada Randi, yang masih terbatuk. "Ada yang ngomongin aku nih, sampai membuat tersedak seperti ini. UHUKKKK" Balas Randi, dengan susah payah. Namun Becca hanya bisa menyeringgai, memahami jika ternyata tahayul seperti itu berkembang juga di Negara maju seperti Singapore ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN