H-3 Deportasi

1151 Kata
Sejauh ini hubungan Becca dan Rian masih terlampau baik, jika dilihat dari sudut pandang korban. Mungkin karena sifat naif Becca, yang sama sekali belum merasakan kejanggalan pada Rian. Dan mungkin juga sifat naif tersebut lah, yang membuat Randi semakin lama menyimpan pengakuan cinta Rian pada Becca. Maaf, bukan pengakuan. Melainkan rasa cinta Rian yang belum berani diungkapkan pada Becca. "Rian..." Becca mengetuk pintu unit Rian yang tidak jauh dari unitnya, "Hoam," "Ewhhh, bau sekali mulutmu." Pekik Becca yang langsung masuk ke dalam kamar Rian, tanpa canggung ataupun kikuk. "Sorry, ya namanya juga orang bangun tidur. Lagian kau kenapa berisik sekali sii?" Sambung Rian dengan menutup kembali pintu. Melihat Becca yang sudah duduk di ranjang miliknya, membuat hati Rian kian bersalah. Matanya memandang mata polos dari wanita yang sudah ia sakiti, dan terpaksa harua menunggu kabar deportasi, yang pasti membuatnya hancur. Namun nasi yang sudah menjadi bubur, yang terpaksa harus dinikmati oleh Rian dan Becca, walaupun itu adalah bukan makanan yang mereka sukai. "Tolong bantu aku merapihkan apartement, bisa? Aku mau pindah ke apartement Randi." Suara tanpa dosa itu, membuat sosok angel dalam hati Rian, tergantikan oleh sosok evil di otaknya. "Maaf, Becc. Beberapa hari ini aku akan tinggal di luar kota." Balas Rian, berjalan melewati Becca. Pria itu tidak menoleh sedikitpun pada Becca, yang mungkin sedang terkejut dengan respon dingin yang diberikan olehnya. Becca sendiri pun menyadari jika ada perubahan dari sifat maupun sikap temannya kini. Tapi apa boleh buat, Becca menyadari posisinya kini yang sudah tidak boleh lagi terlalu dekat oleh Rian, agar menjaga hati dari Randi, kekasihnya. Ia tidak mau membuat Randi cemburu pada Rian, atas masalah apapun. Karena ia takut akan karna yang terus melingkar di dunia. Becca juga tidak mau merasakan dan mengalami kecemburuan, saat melihat ada seorang wanita yang berstatus teman terlalu dekat pada kekasihnya. Menurut Becca, hubungan teman dan hubungan berpacaran hanya terpisah garis tipis diantaranya. Sehingga Becca menjaga terus menerus garis tipis, yang semakin lama tidak boleh terkikis. "Baiklah, selamat bersenang-senang di luar kota, Yan. Aku pulang dulu ya." Becca beranjak dari ranjang dan keluar dari studio apartement Rian. "Makan yang banyak, Yan. Aku lihat kamu kurusan. " Rian tertegun saat Becca masih menyempatkan memberi perhatian padanya, caranya menepuk bahu Rian seakan memberi isyarat jika ia adalah teman yang akan seperti itu. Membuat hati Rian semakin bersalah, atas apa yang sudah dilakukan. 'Maafkan aku ya, Bec.' batinnya putus asa. Ia lebih memilih untuk menuang s**u ke mangkuk sereal, ketimbang mengantar Becca keluar. Karena perasaan takutnya yang tidak bisa memendung rasa bersalah, nantunya akan membuat semena-mena dan mengancurkan semua rencanya. "Bye, Yan!" Pekik Becca, sambil menutup pintu. ** Di kantor pusat ada Randi yang sedang mencari-cari sosok kekasihnya, entah kemana kepergian Becca sejak makan siang tadi. "Kau melihat Miss Rebecca?" Tanya Randi pada salah satu rekan satu ruangan Becca. Namun gadis yang masih berusia 20 tahunan, hanya menggeleng pasif. Ia juga tidak tahu kemana Becca pergi. Pasalnya gadis itu saja, baru kembali dari memberi booster jus yang ia sembunyikan, agar Randi tidak melihatnya. "Yasudah kalau begitu." Randi langsung keluar, meninggalkan ruangan Becca untuk turun mencari ke kafe terdekat dari kantornya. TING' Pintu lift terbuka, menampilkan sosok Trevor yang sedang menutupi wajah seseorang dengan jasnya. "Siapa itu?" Tanya Randi, seraya masuk ke dalam lift. Anehnya, kenapa Trevor tidak keluar lift, dan malah ikut ke bawah kembali. ["Hacchimm."] Baik Randi dan Trevor langsung saling menatap penasaran dengan suara tersebut, "Maaf Mr. Randi." Orang itu menarik jas Trevor yang menutupinya, hingga Randi terkejut dengan penampilannya. "Miss Luna, kau lebih baik ke rumah sakit." Perintah Randi, yang melihat wajah merah dan hidung yang sedikit mengeluarkan cairan. Namun Luna bersikeras tidak mau dibawa ke rumah sakit, dengan alasan takut jarum suntik. "Tapi kau sakit, Lun. Kenapa masih membantah, sih." Seketika Trevor memarahi Luna layaknya anak kecil yang tidak mau menurut. Membuat Randi menatap Trevor denga tatapan anehnya, "Ternyata kalian berdua---" "Diam dulu, Rand. Nanti gue jelasin semuanya." Balasan dari Trevor membuat Radi kembali terbelalak, karena temannya itu seolah melupakan bahasa formalnya. "Saya duluan, Mr. Randi." Lirik Luna, yang sedang dipaph oleh Trevor. "Mr.Trevor." "REBECCA!" Pekik Randi setelah melihat sosok wanita yang ia cari kemana-mana, ternyata sedang berdiri dan menunduk pada Trevor. "Randi, eh. Mr. Randi." Balas Becca kebingungan, seraya melepas sedotan dari booster jusnya. "Sekarang udah berani telat yaa, mentang-mentang udah gajian kedua." Pekik Randi, seraya menarik lengan Becca yang sedang menyeringgai. "Bukan gitu, Mr. Randi. Saya telat masuk kantor, karena mengantri di store jus yang baru buka di depan sana." Becca mengangkat gelas minumannya yang bewarna perpaduan warna hijau dan kuning menyala tersebut. Membuat Randi penasaran, dan langsung mengambil minuman tersebut. "Apa enaknya kah? Tadi aku melihat rekan di kantormu juga sedang menyembunyikan minuman ini." Jelas Randi, seraya menyesap minuman Becca. "Enak kan?" Tanya Becca dengan sangat antusias, "Lumayan, boleh lah rasa yang kau pilih." Ujar Randi seraya mengacak rambut kekasihnya tersebut. Hingga saat pintu lift terbuka, banyak pasang mata yang menyaksikan itu semua. Membuat Becca langsung terkikih dengan kikuk, dan keluar dari lift. Menyisakan Randi yang masih harus ke atas, untuk ke ruangan pribadinya, "Silahkan." Jelas Randi yang menahan tombol agar pintu tidak tertutup. Namun semua orang yang ragu-ragu untuk satu lift dengan orang nomor 1 di perusahaannya. "Tangan saya pegal, cepat masuk." Perintah Randi langsung diindahkan oleh semua orang, dan langsung memadati lift tersebut. "Mr. Randi." Semua ucapan seragam, dilontarkan oleh mereka semua, dengan gerakan menunduk yang seragam juga. Membuat Randi terkikih pelan karena melihat wajah ketakutan dan rasa tidak enak yang menyekimuti mereka semua. ** Sementara di Jakarta, Rudi yang tengah sibuk menghubungi semua rekan bisnisnya untuk bersiap akan terobosan yang akan dibuat. Ia juga mengatasknamakan Becca, sebagai penanggung jawab semua inovasi yang akan dilakukannya nanti. Yang padahal, ia sendiri belum mengetahui apakah anaknya mau atau tidak untuk hal tersebut. Namun bagi Rudi Hardinata, yang selalu memaksakan kehendak siapapun. Semua itu mudah untuk dijalani, apalagi jika urusannya dengan Becca, yang nantinya akan ia siapkan beberapa janji manis untuk mengembalikan ia ke Singapore, jika Becca bersedia melakukan semua yang Rudi minta. Sungguh ironi yang membuat semua orang menderita, namun Rudi malah menganggap semua itu adalah keuntungan sebagai orang pintar sepertinya. Yang bisa membuat dan merencanakan semua menjadi sempurna, dan meraih win-win solution bersama. Sementara di tempat lain, ada Rita yang sedang menelfon Rey untuk merencanakan sesuatu, jika semua perkataan yang ia dengar dari alat penyadar di kantor Rudi, menjadi kenyataan. "Tenang aja, Mah. Nanti aku akan ceritakan semua pada Kak Randi. Jika semua itu benar kejadian." Jelas Rey, dengan memincingkan matanya. Kebencian gadis itu akan ayahnya semakin menjadi, akibat perlakuan tega nan bengis yang ayahnya lakukan pada kakaknya. Membuat ia tidak bisa tinggal diam lagi, dan hanya melihat kakaknya menderita. Kali ini ia harus unjuk gigi, untuk menyadarkan ayahnya yang semakin semena-mena, dan kurang ajar dengan hidup orang lain. Tentunya semua itu didukung penuh oleh Rita, yang mau ikut membanti Rey, Becca, dan Randi. Untuk menyadarkan suaminya dari kelicikkan suaminya tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN