Pagi hari setelah malam yang sangat panas, mengharuskan emosinya berpindah dengan cepat.
Tidak seperti hari-hari sebelumnya, setelah permainan dengan Randi berakhir. Yang menambah hormon kesenangannya meningkat drastis.
Tapi kali ini, ia terpaksa harus mengeluarkan banyak air mata, setelah mendapatkan telfon dari orang yang 1 jam lalu dirindukan olehnya.
"Rebecca, kamu kenapa sayang?" Suara Randi terdengar samar-samar, karena dirinya yang kini berada dalam selimut.
"Sayang...." Panggil Randi untuk kedua kalinya, namun nama yang terpanggil sedang sibuk mengelap cairan yang keluar dari hidung.
"REBECCA! KAU KENAPA SI! AKU TUH NANYA LHO, KOK DIAM SAJA, KALO KITA ADA MASALAH, YA OMONGIN." Ketus Randi, seraya mengibas selimut yang menutupi Becca, "HUAAAA, aku benci papah, Rand. Hiks hiks hiks."
Mendengar isak tangis dari Becca, membuat Randi tidak enak hati, karena sudah membentaknya.
"Hey, kamu kenapa? Kok papah? Kenapa lagi emang?" Randi langsung mendekap erat tubuh mungil Becca, mengusap punggung agar memberikan rasa nyaman.
Sampai akhirnya, Becca menjelaskan semua perkataan Rudi yang didengarny tadi.
"Kau lupa siapa aku, sayang? Tenang, aku akan berusaha meng-gagalkan itu semua." Dengan rasa percaya diri, Randi memberikan janji pada Becca, yang padahal dirinya belum mengetahui tingkat keberhasilan semua itu.
"Rand..." Panggil Becca dengan lirih.
Menatap wajah Randi dengan getir, karena ada satu emosi yang ia sembuyikan, "Jika semua ini benar, apa kita mampu berjauhan?" Tanya Becca, dengan kepala yang kembali tertunduk.
Seketika jantung Randi berdetak dengan cepat, membiarkan ketakutannya menjalat ke sekujur tubuh.
Ia sangat mengetahui maksut pertanyaan Becca, yang sedang menyinggung LDR.
Yang beberapa waktu lalu sempat mereka bahas, saat tidak sengaja bertemu kembali dengan Suzy, yang habis diputuskan oleh sang kekasih di US sana.
Membuat Becca bercerita akan dirinya yang tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh, karena trauma yang dibuat oleh mantan kekasihnya.
Membuat Randi naik darah, saat mengetahui ada yang berani menyakiti wanita seperti Becca, yang punya banyak kelebihan, dan sifat yang sangat mendukung orang kesayangannya.
Namun, setelah menelaah lebih lanjut.
Randi malah berterimakasih pada orang tersebut, karena sudah menyakiti Becca.
Karena atas perbuatannya, kini dirinya dipertemukan oleh Becca.
Tapi moment saat inilah, yang kembali membuat Randi marah dan takut, tercampur jadi satu.
Coba saja, kala itu orang tersebut tidak melukai Becca saat menjalani LDR. Mungkin saja Becca tidak akan trauma, namun jika orang itu tidak menyakiti Becca, pertemuan mereka berdua tidak akan pernah terjadi.
Plus minus kejadian masa lalu Becca memenuhi kepala Randi, dan melupakan sosok wanita di depannya sedang menangis tersedu-sedu.
"Randi....." Becca terus memanggil nama Randi terus menerus, membuat Randi semakin bingung.
Karena baru kali inilah, tangisan Becca diperlihatkan pada Randi, yang biasanya hanya pesan singkat, ataupun emotikon semata.
Yang secara tidak langsung memberitahukan pada Randi, jika sosok Becca adalah seorang gadis yang tidak mudah menangis.
Dan saat dirinya menangis yang 'sesungguhnya' membuat semua orang kebingungan, dengan kondisi Randi yang sedang mencoba menghubungi Rey.
Namun Rey sama sekali tidak mengindahkan panggilannya, yang membuat Randi hanya bisa mendekap sepenuh hati, jiwa raga yang ia curahkan untuk Becca, kekasihnya.
"Randi...."
"Iya sayang?" Kini Randi membalas panggilan Becca, dengan bibir yang berulang kali mengecup sayang kening Becca.
"Lapar... Makan, ayo."
Setelah semua hal romantis yang dilakukan Randi, membuat semua itu gagal, serta menghapus seketika sikap romantisasi dari Randi.
Randi mendenguskan nafas kasarnya, sambil menatap lurus dinding di depan.
'Untung pacar, kalo bukan. Hmmm.' batinnya mengerang, sementara Becca kembali mengeluar suara.
Namun bukan dari mulut. Melainkan suara dari perut yang membuat Randi tidak kuasa menahan tawa.
"Kau ada-ada aja yaa, tolong turunkan sedikit kecepatan untuk merubah kondisi hatimu, sayang." Ujar Randi, seraya mengeratkan kembali dekapannya.
Randi melepas dekapannya, dan menatap sekilas mata coklat tersebut.
"Ayo!" Tangan kekar Randi langsung menggendong tubuh Becca, ala bridal.
Membuat Becca tertegun, tersipu malu.
Perlakuan Randi kali ini terlihat sangat berlebihan, untuk mengajaknya makan. Tapi anehnya, Becca sangat bahagia dengan semua perlakuan Randi, yang membuatnya seperti putri kerajaan, yang habis diberi hukuman oleh sang raja.
**
Setelah sampai di restoran asia yang sangat terkenal, Becca diminta masuk terlebih dulu karena Randi yang ingin menelfon Trevor, perihal pertemuan dengn klien.
Membuat Becca langsung melangkahkan kaki masuk ke dalam restoran, yang didominasi oleh warna merah menyala.
Sekelilingnya terlihat beberapa ornamen khas negaranya.
Seperti motif batik pada dindingnya, figura wayang kulit, yang tertata rapih di rak dinding.
Tidak ketinggalan juga ada patung ondel-ondel, yang seolah menyambut Becca untuk mencari tempat duduk.
"Selamat Siang, Miss. Bisa saya bantu mencari kursi, atas nama reservasi siapa?" Tanya seorang pelayan, memakai setelan jas rapih, dan dasi kupu-kupu di lehernya.
"Hmmm, Randi Garfiled." Balas Becca, dengan menebak-nebak, jika Randi memesan kursi dengan nama panjangnya.
Namun, setelah pelayan tersebut memasukan nama Randi pada data base, tidak ditemuman nama Randi, yang memesan kursi di hari itu.
Membuat Becca terkikih sebentar, dan malah mengucapkan nama panjangnya sendiri.
Untuk berjaga-jaga, jika Randi ingin memberikannya sebuah kejutan.
"Maaf, nama itu juga tidak ada, Miss." Pelayan tersebut kembali mengecewakan Becca, yang sekarang sedang kebingungan serta kikuk di hadapannya.
Melihat respon Becca yang begitu, membuat pelayan tadi meninggalkan Becca, dengan mengucapkan berulang kali kata maaf. Jika restoran tersebut hanya bisa menerima tamu yang sudah memesan tempat mereka.
Becca yang masih kikuk, kembali keluar restoran untuk menjemput Randi yang kemungkinan masih bertelfon ria dengan Trevor.
"Kok keluar lagi, sayang?" Tanya Randi, yang sedang ingin masuk dengan perasaan bingung.
"Cari tempat lain aja, Rand. Tapi pelayannya bilang kita gak bisa masuk kalo,"
Mendengar hal itu, membuat lipatan dahinya terlihat jelas, "Kalo belum reservasi, tadi aku cek nama kamu dan namaku gak ada." Sambung Becca.
Yang seketika langsung dihadiahi gelak tawa dari Randi.
"Kalo sama aku masuknya, pasti boleh." Jelas Randi, dengan tangan yang menarik lengan Becca, yang diikuti oleh kikihannya.
Becca hanya bisa bingung dan tidak mengerti apa maksut ucapan Randi tadi.
Namun dirinya, hanya bisa mengikuti Randi, agar semuanya menjadi jelas.
"Mr. Randi." Beberapa pelayan yang melihat Randi masuk, langsung membungkuk dan menyapanya dengan ramah.
Yang sukses membuat Becca tercengang, 'apa orang terkenal mendapat previlegh, di sini?' batinnya bertanya pada otak. Akan tetapi sang otak, tidak menjawab untuk membiarkan batinnya menemukan jawaban sendiri.
"Kau lupa ya pacarmu orang sukses di bidang restoran?" Randi menoleh pada Becca, dengan rasa sangat percaya diri.
Membuat Becca berdecih pelan, karena lupa akan hal itu.
"Mr.Randi?!" Pelayan yang bertemu Becca, kembali dipertemukan.
Tapi sekarang, ia salah fokus akan kehadiran Randi, yang sedang meggandeng tangan Becca.
Tawa paksa dari Becca membuka percakapan, untuk menyudahi permintaan maaf dari pelayan tersebut.
Dan mereka berdua diarahkan untuk ke ruangan khusus VVIP, oleh pelayan tersebut.
Tanpa basa-basi reservasi terlebih dulu, karena sang bos dari bosnya yang mendatangi restoran mereka.
"Sekali lagi saya minta maaf ya, Miss dan Mr. Randi." Ujar Pelayan tersebut, sebelum menutup pintu ruangan mereka.
"Tidak apa, Miss. Jangan hiraukan yang tadi." Balas Becca dengan senyum merekah, agar pelayan tersebut menyudahi agenda bermaaf-maafannya.
Karena yang dibutuhkan oleh Becca kali ini adalah, kedatangannya kembali seraya membawa beberapa makanan yang tadi disebutkan oleh Randi ke mejanya.
Agar semua cacing pada perut Becca terdiam, dan dirinya juga merasa kenyang.