24 hours left

574 Kata
Setelah mengetahui semua penjelasan dari Becca, sisi devil Randi kembali diperlibhatkan dengan tangan terbalut dengan darah. Becca langsung berlari, mengambil kotak p3k, "b******n! Dasar b******n!" Semua umpatan terlontar dari mulut Randi. Otaknya langsung menotice semua kode yang dikirimkan oleh hati, dan langsung menetapkan satu nama pelaku yang telah membuat Becca bisa terdeportasi. 'Siapa lagi jika bukan Rian, tidak ada target laun selain dirinya.' batinnya berbisik pada Randi, membuatnya semakin naik pitam. BRUGH "RANDI! APA-APAN SI KAMU! TERUS NYAKITIN DIRI SENDIRI, AKU GAK MAU NGOBATIN LAGI!" Randi langsung menahan tangan Becca, sebelum wanita itu pergi dari kamarnya. Ia mendekap tubuh Becca, menangis sejadinya, seolah semua perlindungan darinya telah gagal. "Kau kenapa?!" Tanya Becca, dengan suara yang masih ketus, karena ia membenci sikap Randi tadi. Bukan karena apa-apa, melainkan dirinya tidak mau jika kesayangannya tersakiti dengan semua permasalahannya dan madalah keluarganya. Yang diinginkan Becca, agar Randi kembali berdiri dengan tegap, untuk bisa membantunya keluar dari masalah. Bukan malah hancur, dan tergelincir ke jurang seperti sekarang. "Maafkan aku, Rebecca." Lirih Randi, dengan mengeratkan dekapannya. Membuat Becca susah bernafas, "Randi," Panggil Becca. "Tatap aku, please." Sambungnya dengan lirih, namun memakda Randi mengikuti perintahnya. "Randi, sayang." Ujar Becca, dengan senyuman. Tatapan Becca yang sangat tegar, membuat Randi semakin malu untuk menatapnya. "Maafkan aku, Sayang. Maaf, tidak bisa mengantisipasi semua langkah dari ayahmu...." Kali ini Randi benar-benar menangis tersedu-sedu, hingga terisak. Sementara Becca yang melihat itu semua hanya bisa terdiam, bukan karena senang atau membiarkan Randi terus menganggap dirinya bersalah. Akan tetapi, untuk menunggu semua moment dimana aa celah untuk menenangkan Randu. Membiarkan Randi mengambil semua waktu untuk menangis, hingga dirinya lelah dan mau bertukar pendapat lagi dengannya. "Sayang, kalo kamu udah selesai panggil aku ya." DREP' Tangan Randi kembali menahan pergerakkan Becca, hingga membuatnya menyeringgai puas. Karena itu adalah salah satu bukti, jika Randi mau mengobrol kembali dengannya. "Sudah selesai nangisnya?" Tanya Becca, seraya jinjit untuk memeluk Randi yang jangkung. "Kau benar tidak apa?" Randi mengelak menjawab pertanyaan Becca, membuat Becca terkikih pelan dan menagan cairan bening pada pupilnya. "Kau tau aku kuat kan, Rand? Jika kau tau, maka jawabannya aku tidak apa. Aku yakin bisa melewati ini semua. Tapi," Becca menggantung perkataanya, karena mendengar nafas Randi yang masih terengah karena tangisan. "Tapi apaa?" Liruh Randi, dengan menempelkan kepala di bahu Becca. Sebelum menjawab semua itu, Becca mengelus punggung belakang Randi, agar membuatnya nyaman, "Tapi jika kau mau membantuku, untuk selalu berada disisiku, boleh?" Ia menyelesaikan perkataanya, yang sukses membuat tangisan Randi kembali pecah. ** Setelah keadaan membaik, emosi Randi yang kembali normal, memberi celah pada Becca untuk menyinggung sedikit perbincangan dan rencana yang telah ia buat kemarin. "Rand, kau kuat LDR kan? Gak akan ghosting kan?" Pertanyaan itu dibalut apik dengan candaan, agar Randi tidak terbebani untuk menjawabnya. Randi menatap Becca yang sedang membalut luka di tangannya, seraya terseyum tipis di samping Becca. "Mana mungkin aku ghosting ke wanita sempurna sepertimu, Rebecca." Seketika tatapan Becca bertemu dengan mata hitam pekat Randi, memaksa garis senyum tertarik dengan sendirinya. "Gombal." Gumam Becca pelan. Namun semua itu terdengar oleh Randi, hingga dirinya langsung lebih mendekat pada wajah Becca. "Ngomong apa?" Tanya Randi, untuk membuat Becca menoleh padanya. CUP' Randi sedikit memberi hadiah sebelum keberangkatan Becca nanti. Ia tahu jika, semua ini akan berat nantinya. Tapi, biarlah. Randi yakin bisa melewati ini semua. Berpisah untuk mengakhiri hubungan dengan manis selamanya masih bisa ia redam. Becca tersenyum simpul dengan anak rambut yang menggelatut sempuna. Membuat tangab Randi membenarkan dan ikut membalas senyumnya juga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN