D-DAY

1055 Kata
Bulir-bulir air mata berlomba membasahi pipi merima Rey, yang tidak kuasa mendengar kata demi kata terlontar dari sang kakak. "Are you ok, Becc?" Tanya Rey, dengan tangan sebisa mungkin menyeka air matanya. Karena saat ini dirinya yang berada di toilet sekolahnya, yang banyak mendapatkan rumor jika tidak boleh menangis di dalam bilik toilet. Namun semua itu tidak mempan pada Rey, karena dirinya memiliki tuhan yang lebih kuat dari sekedar majhluk tak kasat mata yang katanya menyeramkan. Dirinya tidak mau menyombongkan diri, dan tetap menghormati semua mahkluk yang berdampingan di dunianya saat ini. Oleh sebab itulah, ia menyeka air matanya dan menahan semua erangan yang harusnya ia keluarkan, untuk teriak dan mengumpat Rudi. "Rey...." Becca tidak langsung menjawab pertayaannya tadi, "Nanti pas aku pulang, kau di rumah ya..." Pinta Becca, sekaligus menyelesaikan ucapannya. Tanpa basa basi, permintaan dari Becca langsung diindahkan oleh Rey, dengan beberapa topping tambahan yang ditawarkan olehnya. Seolah dirinya siap jika Becca menginginkan bantuan dari Rey. "Baguslah! Kalau begitu, tunggu aku besok pagi. Kau akan kembaki jadi budakku." Rey mendengar suara terbahak dari Becca, membuat senyum tipisnya kembali terlihat. 'Kenapa kau kuat sekali, Becc.' batinnya keheranan dengan semua gelagat Becca, yang padahal terssakiti berulang kali. "Kalau gitu, sudah dulu ya. Aku mau jalan-jalan bersama Randi. Bye, Rey." Setelah sambungan itu terputus, Becca langsung merebahkan tubuh ke ranjang, dan ada tetesan air mata terjatuh dengan sangat anggun. "Terima kasih, Singapore." Gumamnya. Mambuat dirinya kembali mengulang semua kenangan pertama yang terciota di Singapore. Mulai dari menghabiskan uang, mencari kerja, menjadi pengangguran, sampai mendapatkan pacar pengusaha. Semua kenangan itu membuat rintikan air matanya semakin nyaman untuk berjatuhan. "Sayang!" Suara dari telekom membuat Becca langsung beranjak dari ranjang, untuk membukakan pintu untuk tamu yang sudah ia nantikan. "Abiss nangis yaa... Hmmm." Randi menyeka air mata Becca, menggunakan dasinya. "Tumben romantis." Gumam Becca, sambil menatap mata Randi, yang saat ini menatap Becca dengan kebingungan. "Ini hal biasa aja lho, giliran aku kasih satu tokoh bunga kamu gak bilang romantis. Padahal itulah hal romantis sesungguhnya." Balas Randi, dengan melangkahkan kaki masuk ke dalam. "Dasar," Kata Becca, seraya menutup kembali pintu apartemennya. "Itu berlebihan tau." Sambung Becca, yang sukses membuat Randi kembali menoleh ke belakang. "Berlebihan? Kamu mah ish." Cibir Randi, dengan raut wajah kesalnya, dan langsung merobohkan diri pada sofa kecil di ruang tamu. Melihat semua itu, membuat Becca terkikih geli akibat sisi lain Randi, yang kembali ditunjukan. "Uluululu, ngambekkkk... Sudah sudah, minum ini dulu biar dingin." Ujar Becca, dengan menyodorkan satu soft drink kaleng, yang masih tersisa di kulkas. "Gak mau." Tolak Randi, dengan membuang pandangan dari Becca. "Yaudah, maunya apa? Mau beli kopi aja di bawah?" Tanya Becca, dengan tangan yang membua wajah Randi, menatapnya kembali. Setelah melihat wajah Becca yang penasaran, otak jahil Randi mengajak raganya untuk bekerja sama. "Maunyaaa apaa yaa...." "Apa maunya, ayo bilang. Nanti aku turuti." Sambar Becca dengan sangat antusias, membuat senyum Randi yang semakin merekah. Setelah mendengar jawaban dari Randi, tangan Becca langsung reflek memukul lengan Randi, serta kakinya yang menendah kaki Randi. Jawaban ngeselin yang ngebuat dirinya jenggah. Randi tidak biasanya begini. Ada apasi dia. ih— "Sakit, sayang..." Rengek Randi dengan penuh sandiwara, hingga Becca semakin menghujani pukulan demi pukulan di tubuh Randi. DREEEP' Randi berhasil mendekap tubuh mungil Becca, "Kamu gapapa pukul aku, gak sakit juga. Tapi tolong jangan tinggalin aku, karena itu yang menyakitkan." Unar Randi, seraya menenggelamkan wajah di bahu Becca. Membuat hati Becca terenyuh dengan ucapan tadi, sehingga airmata yang tadi telah hilang, muncul kembali. "Siapa yang mau ninggalin kamu, Rand. Memikirkannya saja, aku tidak sanggup." Balas Becca, dengan wajah menempel pada d**a bidangnya Randi. Kini mereka berdua, saling memberikan kenyamanan, sebelum kepergian Becca, ke Jakarta. Tapi dengan cepat, Becca langsung melepas pelukam Randi, "Ayo jalan-jalan. Kan kita gak boleh nangis-nangisan." Jelas Becca, dengan senyuman yang seakan ia paksakan. Dalam lubuk hatinya paling dalam, dirinya sangat sedih, dan tidak ingin melakukan apa-apa, selain menangis. Namun sekarang, ada alasan kuat untuk dirinya mengacuhkan perkatasn hati, dan lebih memilih mengikuti semua permintaan otaknya. Yang walaupun jika difikir, semua hal yang akan dilakukannya sekarang, bisa menguras tenaga sebelum penerbangannya nanti malam. Namun Becca yang sudah pro dalam membagi waktu, ia lebih memilih untuk melakukan semua rencana Randi untuk mengajaknya pergi, dan akan beristirahat nanti di pesawat. Membiarkan mengesampingkan masalah kesehatan, hanya untul kesenangannya semata. Karena kesenangan itu, akan bisa diingat jika suatu hari nanti, Becca merindukan sosok Randi, yang mungkin lupa mengabari dirinya, karena sibuk bekerja. "Kau cuman bawa 1 kopor kah?" Tanya Randi, setelah Becca menyelesaikan packing terakhir kalinya. "Iya, emang kamu kira aku bawa berapa?" Becca berbalik bertanya pada Randi, "Ya kan biasanya barang-barang wanita sangat banyak, yang mengharuskan membawa banyak kopor." Randi langsung menjawab pertanyaan Becca, masih dengan tatapan bingungnya. "Hmmm... Tipe wanita ku tidak yang seperti itu." "Lantas?" Dengan cepat Randi menyambar perkataan Becca, karena rasa penasarannya teramat dalam. "Kau akan tau sendiri, setelah membawa koperku." Balas singkat Becca, seraya berjalan mendahului Randi, yang tetap dengan raut bingungnya. "Punya pacar, sukanya tebak-tebakan mulu. Heran." Cibir Randi, dan langsung menyeret kopor Becca. "Woah!" Randi terjatuh ke lantai, saat menyeret koper Becca, membuatnya semakin bungung apa saja isi dari koper pacarnya ini. Hingga seperti ini, BRKKKK' Seketika koper bewarna biru tersebut terjun dengan bebas dari genggaman Randi. Membuatnya langsung mengejar koper tersebut, dan ternyata. "REBECCA!" pekiknya setelah mengetahui isi koper yang sangat berantakan. Baju-baju kotor dan bersih yang mungkin menjadi satu, yang dimasukkan sembarang dan tidak dilipat oleh sang empu. Sandal kamar, sepatu, higga perawatan wajah yang dimasukkan ke dalam plasrik transparan. Becca langsung berbalik, untuk melihat apa yang terjadi. "Upsss...." Kata Becca, dan langsung menyatukan kedua tangan, meminta ampun dari Randi, yang tengah menatap tajam dirinya. Randi meghela nafas berat, mengatur emosinya, sebelum berbicara pada Becca, "Kau mau apa, Rand." Becca yang malah membuka kembali pembicaraan, melihat tangan Randi yang cekatan, merapihkan isi koper miliknya. "Kita ke mall aja yaa, sekalian beli koper lain untukmu." Jelas Randi, dengan wajah yang belum mau menatap Becca. "Kenapa? Koperku emang kenapa, ish?" "Kau mau masih butuh aku menjawab itu semua?" Sambar Randi, yang kemudian diikuti dengusan nafas beratnya. "Erghhhh! Ada-ada aja si, sayangku." Setelah semuanya rapih, Randi langsung mendekap erat Becca, untuk menghindarkan rasa emosinya tadi. Sementara Becca yang hanya terkikih dalam dekapan Randi, semakin merasa nyaman karena ternyata, Randi menerima Becca dengan apa adanya, tanpa rasa malu apapun, saat mengetahui Becca adalah tipe wanita yang kadang berantakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN