Hello Again, Jakarta

1129 Kata
Rey memakan satu potong ayam taiwan untuk mengusir kebosanan, bersama salah satu sekretaris ayahnya yang ditugaskan untuk menjemput Becca, "Kau tau kan pria yang belum lama ke rumahku?" Tanya Rey, dengan mulut yang terus mengunyah. Pertanyaan dari Rey, langsung membuat jantungnya berdebar cepat, mata yang terbelalak sempurna, hingga tenggorokan mengering seketika. "Kau tidak usah takut begitu, aku hanya ingin memastikan kau sedang berada di pihak siapa." Rey menyelesaikan perkataannya, dan itu semua sukses membuat gadis yang bernama Deska mencengkram erat lengan Rey. "Anda pasti mengetahui saya ada di pihak siapa, nona Rey." Jelas Deska, dengan tatapan pasti. Rey terdiam pada posisinya, hingga akhirnya ia menyeringgai penuh pesona. Menyambut Desca sebagai sekutu, untuk membantu dirinya dan Becca. "Rey!" Becca memanggil bala bantuan, untuk menggeret kedua koper besar di tangannya. Namun orang yang terpanggil, sama sekali tidak memperkihatkan aksi maupun reaksi. Membuab Becca terpaksa menggeret koper sendirian. "Enak bgt, suruh jemput malah makan." Cibir Becca, dengan melipat kedua tangan. "Nona Rebecca..." Deska sedikit membungkuk, dan langsung mengambil alih kedua koper Becca. "Just Becca, karena nama Rebecca hanya boleh dipanggil oleh pacarku." Balasnya, diikuti dengan kikihan yang membuat Rey bergidik ngeri. "Bucin!" Umpat Rey, yang langsung dihadiahi ocehan panjang dari sang kakak. Deska yang melihat hal tersebut, ikut terhanyut dengan cara mereka menangani rindunya masing-masing. Entah dengan cara seperti ini, atau cara apapun. Namun yang pasti, pesan yang berusaha disampaikan oleh keduanya terasa sampai hingga yang membuat hati Deska terenyuh. Ting ting ting' Mendengar dering ponsel tersebut, Becca dan Rey langsung melirik Deska dengan tatapan aneh. "Kalo dari Rudi, jangan diangkat. Kau tidak bolek kembali bekerja sebelum menyantap makanan. Dan dia tidak boleh bertanya mengenai apapun tentang kedatanganku." Jelas Becca. Tatapan aneh tadi berubah menjadi tatapan kebencian yang di luar batas, membuat Deska harus menuruti semua perkataannya. Karena keputusannya yang berada di sisi Becca, dan selalu mendukung apapun keputusan Becca yang telah dibuat. Ponsel kantor miliknya langsung dinonaktifkan, untuk mencegah semua panggilan masuk dari Rudi. Becca langsung menghadiahkan Deska acungan ibu jari, serta rangkulan untuk menyambut satu teman barunya. "Jalan-jalan atau langsung pulang nih?" Tanya Rey, yang dengan cepat disambar oleh Becca yang berkata dirinya rindu akan bermain di salah satu mall terbesar di Jakarta. "Kau harus ikut ya, Des. Gausah kerjaa ok." Perintah Becca, pada Deska yang hanya bisa terkikih. Hatinya begitu senang, karena salah satu impian untuk bergaul dengan Becca dan Rey, akhirnya terwujud. Namun ada secercah kekecewaan dan ketakutan, yang mengganjal hatinya. Karena kini ia telah melalaikam semua tugas dan perintah yang diberikan oleh Rudi, pimpinan perusahaan temoatnya bekerja. Dan itu semua sukses membuat langkahnya terhenti, "Kenapa, Kak Deska?" Tanya Rey, yang kini trlah menambahkan panggilan di depan nama Deska. "Aku takut...." Deska menggantungkan ucapannya, hingga membuat Becca melangkah mundur. "Kau takut dengan apa? Bermain dengan kami? Atau---" Becca belum selesai menyeledaikan semua ucapannya. Namun dengan cepat, tangan Deska langsung melambai-lambai, dengan tatapan mata sendu, "Aku takut dipecat, Miss Becca." Suara lirih dari Deska tersebut, sukses membuat Becca dan Rey tertawa terbahak-bahak, "Kalian kenapa tertawa?" Tanya Deska. Rey langsung menyenggol lengan Becca, yang masih terkikih, agarsegera berhenti. Karena saat ini Deska sepertinya tersinggung dengan semua perlakuan mereka tadi. Pasalnya, Deska mendapatkan pekerjaan ini dengan tidak mudah, untuk merantau ke Jakarta sendirian. Dirinya juga satu-satunya tulang punggung keluarga di Kalimantan, setelah ia kehilangan sosok ayahnya. Becca yang langsunh tersadar, langsung mengambil tangan Deska, menatapnya dengan nanar, seraya mengucapkan kata maaf berulang kali. Bukan tujuannya untuk menyinggu hati Deska, atau apapun itu. Ia hanya menertawakan hal yang tidak mungkin terjadi, yang diucapkan oleh Deska tadi. Becca dan Rey sangat mengetahui sosok Rudi, yang tidak mau repot-repot mencari sosok orang lain, jika dirinya sudah nyaman atau ada rahasia yang orang tersebut ketahui. Dan inilah yang terjadi pada Deska sekarang, ada hal yang mungkin ia ketahui atau rahasia Rudi selama di perusahaan, yang membuat posisi Deska aman. Mendengar semua penjabaran dari Becca dan Rey, otak tersentak, dan memaksa untuk bekerja kembali. Untuk mencari alasan yang tepat memakai nama Becca, demi mengamankan posisinya. Yang kebetulan dirinya pernah menjemput salah satu kunci masalah dari kepulangan Becca ke Jakarta, dan semua itulah yang akhirnya membuat Deska jauh lebih enang dan aman. ** Sementara di negara lain, ada Randi yang sedang berpangku tangan meratapi kehidupan. "Aku rindu, Rebecca." Gumamnya. Mengacuhkan semua tumpukan berkas yang harus ditinjau, demi merewind kembali masa-masa indah kebersamaan mereka berdua. Hingga membuat Trevor naik pitam, yang sudah 15 menit, duduk memperhatikan Randi bermuram durja. "Randi!" Ketus Trevor, dengan melangkah lebih dekat dengan teman sekaligus pimpinan perusahaan. "Pertemuan dengan tim marketing 30 menit lagi! Tapi berkas yang harus kau tanda tangani, belum tersentuh sama sekali." Trevor mengomeli layaknya seorang ibu yamgmempunyai anak nakal yang selalu tidak menuruti perkataannya. Randi mengangkat kepalanya, hingga menatap mata membara dari Trevor, "Batalin saja pertemuannya." Ucap Randi, dengan semena-mena. Hingga membuat Trevor kembali naik pitam, dan langsung mengutarakan semua kepentingan-kepentingan yang akan dibahas saat pertemuan nanti. Tidak lama kemudian, Randi langsung menyeringgai dan tertawa terbahak-bahak. Membuay Trevor terkejut, dengan perubahan emosi temannya ini. Dengan begitu, ia langsung menempelkan telapak tangan pada dahi lebar Randi, "Kau gila, karena cinta. Rand. Cepat sadar!" Mendengar ucapan itu, tawa dari Randi semakin keras hingga Trevor mengambil satu langkah ke belakang, dan bersiap untuk keluar jika kondisi sudah tidak kondusif. "Marah kau seperti Rebecca, membuatku lucu." Ucapan daru Randi, sukses membuat Trevor mengerutkan dahi, "Oke, mari kita ke ruang rapat. Sesuai keinginanmu." Ujar Randi, dan langsung berjalan meninggalkan Trevor di belakang. "Keinginanku? Gak beres otaknya. KEWAJIBANMU YA! SADAR, MR. RANDI!" Pekik Trevir, dengan suara baritone khas miliknya. Ia langsung mengambil tumpukan berkas, yang belum sama sekali tersentuh oleh Randi, untuk berjaga-jaga jika saat pertemuan nanti. Si boss gilanya, menanyakan semua berkas tinjauan, untuk bergaya dihadapan tim marketing. ** Balik lagi ke Jakarta, dengan melihat Becca yang seolah melupakan bebannya sejenak. Ditemani Rey dan Deska, yang sedang memilih beberapa baju pada toko brand internasional di salah satu mall besar. "Yang ini aja untuk kau, Des." Kata Becca, dengan membawa satu blouse bewarna lilac yang langsung di pas-kan pada tubuh Deska. Namun wanita seperti Deska, yang biasa hanya berbelanja baju pada online shop, dengan harga yang lebih murah. Membuat dirinya seakan tidak pantas untuk memakai baju ini, dan terlebih lagi saat ia melihat price tag yang sangat fantastis. "Deskaa..." Panggil Becca. "Kau tidak usah begitu, pokonya semua yang aku belikan untukmu tidak usah kau lihat dengan nominal. Lagipula---" Becca menggantungkan perkataannya untuk mendekat pada telinga Deska. "Lagipula ini uang bossmu, dan aku sangat bersyukur karena semua kartuku telah diaktifkan kembali." Becca menyeringgai, hingga memperlihatkan jajaran giginya yang sangat rapih. Deska terkikih sebentar, dan langsung mengucapkan rasa terima kasih pada Becca karena berkatnya. Ia akan mempunyai pakaian baru, dan bisa membuang semua pakaian yang sudah tidak layak, untuk disebut pakaian yang berjejer di lemari gantung kostan miliknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN