Setelah Becca mengantar Deska kembali ke kantor, ia memutuskan untuk pergi ke kediaman neneknya di Cibubur.
"Bye, Kak Deska. Kalo udah pulang kerja chat aku yaa... Nanti aku jemput, sekalian ngasiihin baju." Rey melongok pada kaca mobil yang sudah ia buka, "Sipp, Rey.
Kau dan Becca hati-hati ya. Aku masuk sekarang, sebelum ayah kalian mengamuk." Balas Deska, dengan kikihan, hingga gigi gingsul miliknya terlihat, dengan sangat manis.
Setelag Deska masuk, Rey kembali menutup kaca mobilnya, "Kau yakin dia ada di pihak kita?" Becca langsung bertanya, dengan wajah seriusnya.
"Tentu saja, orang dia yang jemput orang itu ke bandara." Balas Rey, dengan memakai seat beltnya kembali.
Tanpa curiga sedikitpun, Becca tidak bertanya apapun oada Rey, mengenai orang yang dimaksutkan oleh Rey, dan sosok seperti apa yang dijempun oleh Deska.
Karena dirinya yang terlampau percaya pada Randi, yang sebelumnya mengatakan jika ia sudah memiliki kandidat kuat untuk dianggap sebagai tersangka utama.
Oleh sebab itukah, Becca menunggu penjelasan dari Randi, yang mungkin sedang membantunya di Singapore sana.
"Yaudah ayo kita ke rumah mbah, untuk nyusul mamah." Jelas Becca, dengan langsung menginjak gas mobil kantor milik Deska.
Sepanjang perjalanan, kondisi di dalam mobil hanya terdengar suara dari penyiar radio anak muda, kebanggaan Jakarta.
Apa lagi jika bukan 101. Jak Fm. Radio yang selalu menemani kaula muda dengan berbagai lagu kekinian, atau info-info menarik lainnya.
["Kaula muda pasti gak asing lagi kan sama panggilan kesayangan ini..."] suara penyiar yang begitu renyah, dan membuat penasaran, yang langsung membuat Becca dan Rey ikut terbawa rasa penasaran yang sukses mereka ciptakan.
["Mas... Panggilan yang sangat manis, membuat para pria semakin jatuh hati, jika pasangan nta memangiil seperti itu."]
Rey langsung tersedak seketika, "Anjir,"
"Kenapa dah lu?" Tanya Becca, menoleh sedikit pada Rey, yang kini bajunya basah oleh air minum tadi."
Sebelum menyelesaikan ucapannya dan sekaligus menjawab pertanyaan dari Becca, Rey memilih mengganti bajunya terlebih dulu dengan salah satu baju yang dibelinya tadi.
"Sama panggilannya kaya mamah manggil Kak Randi. Mas Randi, itu panggilan mamah."
CYIIIIITTT'
"Demi apa? Anjir, geli banget. Gua aja yang pacarnya manggil cuman Randi." Pekik Becca dengan perasaan yang sangat terkejut.
Rey lansung mengangguk, dengan sangat antusias. Hingga membuat dirinya dan Becca, kembali tertawa terbahak-bahak.
**
Sesampainya di kediaman sang nenek, Becca langsung masuk dan membiarkan seluruh kopernya masih tertata rapi di bagasi mobil Deska.
"Mamahh..." Ia langsung memeluk sang Ibu, yang sedang duduk di ruang tv.
Rita yang terkejut, langsung berdiri dan membalas dekapan sang putrinyang sudah pulang dari perantauan.
Seketika tangisan mereka berdua saling beradu, untuk menceritakan siapa yang paling tersakiti dengan kepergian Becca.
Belomba rasa rindu dari siapa yang berhasil membuat Becca pulang dengan penuh senyuman seperti tadi, "Maafkan mamah ya, Nak. Yang belum bisa merubah sifat papahmu." Lirih Rita, dengan buliran air mata yang membasahi pipinya.
Sementara Becca tidak bisa berkata apapun, karena dirinya yang masih sibuk meminta maaf, karena telah membuat kekacauan ini semua.
Sehingga mengharuskan Rita kembali ke rumah orang tuanya, yang padahal sudah lama kosong, "Kau tidak salah, Nak. Tapi mamah yang salah."
"Bukan mah, Aku yang salah, karena belum bisa dengan kuat menerima semua perlakuan dari papah."
Isak tangis keduanya, semakin berolomba untuk menjadi pemenang utama, hingga membuat Rey yang sedang membawa tas Becca jenggah, "Udah dong nangisnya, adik lapar." Pekiknya, dengan melempar tas Becca.
Membuat Becca dan Rita, melepskan dekapannya seketika, dan tertawa melihat Rey yang sedang sibuk menurunkan semua barang Becca, yang padahal semua itu tidak perlu ia lakukan.
"Oiya aku lupa, ada yang mau kenalan." Becca langsung mengambil ponsel dari dalam tasnya, untuk mengabari seseorang, sekaligus memberitahukan jika dirinya sudah selamat sampai tujuan.
*
*
"Terima kasih, semua kerja keras kalian. Dan jangan lupa, tetap tingkatkan kinerja kalian."
Randi memberikan sedikit semangat, untuk semua pegawai barunya di restoran yang belum lama diresmikannya tersebut.
"Mr. Randi.."
Ia langsung menoleh karena merasa ada yang memanggil dirinya, padahal Randi yang sudah siap untuk keluar dari ruang staff.
"Ada apa? Jika ada yang ingun ditanyakan perihal restoran, bisa langsung ke Mr. Trevor." Ujarnya, dengan mengampirinya kembali.
"Bukan...." Balasnya terkikih, "Lalu?" Tanya Randi, dengan tatapan penasarannya.
Kemudian, orang itu memberikan ponsel bewarna hitam matte serta berlogo apel tergigit, yang baru ia temukan di meja bekas Randi, "Ohh lord! Ponselku." Kikih Randi, dan baru mengetahui kenapa orang tersebut memanggilnya.
"Sekali terima kasih banyak, ya." Ujar Randi dengan tangan menjabat orang tersebut.
"Kembali kasih, Mr Randi. Kalau begitu, saya kembali ke belakang (dapur) dulu." Pamitnya, dan diikuti oleh anggukan Randi langsung.
Drtttt drttt drtttt'
Ponselnya bergetar tepat di tanganya, dan ternyata Trevor memanggilnya.
"Hallo, ada apa?"
["Rand... Kau harus kesini sekarang, gue share loct."]
Trevor langsung menyambar perkataan Randi, yang padahal belum selesai ia ucapkan.
"Kenapa memang? Gua gak mau kalo bukan hal yang penting." Jelas Randi, dengan bergegas menuju mobil SUV yang saat ini terpakir di depan restoran.
["Permasalahan imigrasi Becca."]
DEG'
Randi semakin mempercepat langkah kakinya, setelah mendengar balasan dari Trevor, serta mematikan telfonnya dengan Trevor.
Sesampainya di mobil, Randi langsung memasang seat beltnya, dan menginjak gas dengan kecepatan penuh menumu gedung imigrasi yang berada di pusat kota.
"Tidak ada ampu lagi untuk kau, b******n!" Batinya begitu emosi, sehingga semua kata-kata kasar terlontar dari mulut Randi.
Sementara di tempat lain, Trevor telah membawa tersangka utama ke dalam sslah satu restoran yang dinaungi oleh perusahaan Randi, agar bisa mendapatkan ruangan sendiri.
"Kau sudah lama bekerja di kantor imigrasi, ya?" Tanya Trevior, dengan senyum tipis dan seolah mengakrabkan diri dengan orang tersebut.
"Sudah terhitung 6 bulan lamanya, masih anak barulah."
Mendengar balasan tadi, Trevor langsung menyeringgai puas karena umpan dari dirinya berhasil dilahap habis.
Karena pria berkacamata di depannya kini, menceritakan dengan mudah apa saja yang ia lakukan di imigrasi.
Mulai dari dokumen apa yang harus ia buat, sampai perizinan apa saja yang telah dulu sempat ia kerjakan, ketika bertugas di ruangan umum sekjen Imigrasi.
Kehebatan Trevor untuk bersosialisasi memang sudah tidak diragukan, pantas saja Randi terus menahan Trevor keluar dari perusahaan miliknya, sekaligus menjadi tangan kanannya.
Ternyata inilah alasanbya Randi, yang selalu bersedia menaikkan gaji dari Trevor, sesuai apa yang diinginkam olehnya. Tanpa basa-basi lagi.
Sementara Trevor berbincang-bincang di restoran, Randi ke gedung imigrasi untuk bertemu dengan pimpinan utama divisi dari orang yang diduga tersangka utama.
"Mr Randi?"
Randi menatap seorang gadis yang seolah menunggunya di pintu masuk.
Gadis berambut ikal, berkacamata, dan memakai seragam bewarna hitam biru layaknya anak magang, membuat Randi bingung, "Yas, benar saya Randi, anda?" Tangan Randi menjabar tangan gadis itu.
"Fiona, panggil saja Fio. Saya sudah bertemu dengan Mr Trevor tadi, dan beliau menyuruh saya untuk menemani Mr. Randi bertemu dengan pipinan kami."
Keningnya berkerut, mencerna semua kata demi kata yang terucal dari Fio.
Karena Randi masih belum mengetahui apa jabatan dari Fio, dan mengapa Trevor mempercayakan permasalahan segenting ini pada anak magang, itulah fikiran Randi sebelum mendengar kebenarannya.
"Oh ya, sebelumnya. Saya adalah sekeretaris pribadi Mr. Fachrul der Wick selaku pimpinan utama kami."
Demi tuhan, jantung Randi berdegup denhan sangat cepat setelah mengetahui fakta tersebut.
Sehingga dirinya langsung meminta maaf pada Fio secara berulah kali, membuat Fio terkikih sebentar sebelum menyilahkan Randi agar bergegas menemui Mr Fachrul, sebelum Trevor dan tersangka utama kembali ke gedung Imigrasi.