BERITA BAIK DAN BERITA BURUK

1028 Kata
"Dok bagaimana keadannya" tanya dewi. "Saya akan menjelaskan di ruangan saya, suaminya bisa ke rungan saya ya" kata dokter. Namun sebelum dokter pergi dia mengatakan hal yang sangat memberi angin segar. "Selamat ya bayinya lahir dengan selamat dan sehat". "Alhamdulillah" kami semua mengucap syukur namun kami kembali gusar karena belum mengetahui keadaan regina. Bu radit ke ruang dokter dulu ya,dew kamu jaga ibu". "Baik bang". Dewi menuntun ibunya untuk duduk kembali di kursi,dan memijit pundak ibunya. "Dewi apakah.mbak mu baik baik aja dew?". Tangis ibu pecah, seperti orang tua pada umumnya ibu memiliki firasat dan insting yang kuat. "Bu harus kuat apapun hasilnya, kita berdoa dan berserah diri ya bu" dewi memeluk tubuh ibunya. Di dalam rungan duduk dokter yang baru saja melakukan tindakan operasi kepada istrinya, radit duduk dengan tegang di hadapan dokter. "Pak radit istri anda sekarang sedang tidak sadarkan diri dan kemungkinan besar koma saya harap keluarga siap atas segala kemungkinan yang ada, sedikit harapan untuk istri anda bisa sembuh, istri anda mengalami pendarahan hebat saat di bawa ke rumah sakit dan mengalami patah tulang serta rahimnya juga harus di angkat. "Apakah tidak bisa di selamatkan dok, apakah tidak ada tindakan lain?". " Maaf pak berdoalah meminta pertolongan kepada allah, karena kami hanya bisa berusaha selebih nya atas kehendak allah". Radit sangat hancur mendengar setiap penjelasan dokter dia belum siap kehilangan istri yang sangat dia cintai bahkan tidak pernah terbesit akan kemungkinan seperti ini, benar benar cobaan dam pukulan sangat sakit yang pernah radit alami. "Mengenai anak anda, alhamdulillah bayinya baik baik saja karena beratnya masih kurang dan juga lahir belum waktunya sehingga mrngharuskan untuk merawatnya menggunakan alat medis lainya dan incubator". "Lakukan yang terbaik buat istri dan anak saya dok".tangis radit pecah menerima kenyataan berat ini bahkan anaknya pun belum bisa dia sentuh. "Ya allah selamatkanlah istri dan anak hamba" lagi radit berdoa meminta pertolongan. Regina di dorong keluar dari ruang operasi menuju bangsalan rawat inap di ikuti dewi dan ibu nya. Regina berbaring tidak sadarkan diri dan berbagai macam alat menempel di badannya, itu semua hanya alat bantu hidup untuk regina karena kemungkinanya sangat kecil. "Re bangun nak ini ibu re, jangan tinggalin ibu re, hiks hiks". "Ibu yang sabar mbak pasti membaik mbak kuat dia pasti akan segera sadar bu" dewi memeluk ibunya yang rapuh karena keadaan kakaknya yang koma, Dewi menjadi satu satunya orang yang kuat menghadapi kenyataan ini. Ceklek, nampak radit muncul dari balik pintu. "Nak radit apa kata dokter". "Rere koma bu, kita harus siap apapun yang terjadi bu". Mereka menangis bersamaan tak bisa.menahan air mata kesedihan mereka. "Malang nian nasib mu re, dan anakmu masih sangat kecil nak". "Mas bu tenanglah, mbak mendengar kan kalian, ucapkanlah yang baik baik supaya mbak lekas sadar, jangan menambah kesedihanya, kita semua sedih begitu juga mbak, pasti dia sedih". Radit dan ibu menahan dadanya dan menahan suara tangis mereka. Radit nampak keluar meninggalkan kamar bangsal rere di rawat ibu kembali mendekati mbak rere dan terus mengusap punggung tangan anaknya yang malang itu. Dewi melangkah keluar mencari abang iparnya, ternyata berada di taman rumah sakit. "Bang" sapa dewi dan hanya di tatap sebentar oleh radit dan kembali menunduk. "Bang kita harus yakin kalo mbak rere akan baik baik saja dia akan sadar dan tidak sakit lagi, kita doakan dia ya, dan abang harus kuat, jangan hanya memikirkan mbak rere sekarang ada anak abang yang cantik juga harus abang perhatikan, dia anak abang dan mbak rere bang". Radit tersadar dari lamunanya benar apa yang dikatakan dewi bahwa dia juga harus mengurusi anak nya yang baru saja dilahirkan rere melalui oprasi. "Makasih dew". Radit bangkit dan hendak meninggalkan dewi. "Abang mau kemana" tanya dewi bingung. "Mau datangin anak abang, abang belum liat sama sekali seperti apa rupanya". "Iya bang, semoga abang lebih tenang". Putra melangkah menuju ruang bayi melihat anakya. Kecil mungil sangat kecil, radit meneteskan air mata mengingat kembali momen dia dengan istrinya, anak ini sangat mereka nantikan muncul di tengah tengah kebahagiaan mereka. "Nak ini ayah lekas pulih dan kita pulang ya nak?, Doakan ibumu supaya sembuh dan kita bisa sama sama pulang". Doa radit ~~~~~ sudah seminggu rere koma dan keadaannya makin memburuk. "re kapan kamu sadar sayang?" putra masih setia menjaga istrinya dia hanya pulang sebentar mengambil baju dan kembali ke rumah sakit menjaga istrinya, sedangkan mertuanya dan dewi bergantian mendatangi radit mengantar makanan dan menemani radit, karena kondisi mertuanya juga drop karena kecapean dan terlalu bersedih. tak lama mucul dokter dan suster yang melakukan pemeriksaan berjangka. "permisi pak kami akan memeriksa pasyen" ijin dokter ramah. "silahkan dok" jawab radit, dokter kemudian memeriksa radit dan mengecek alat alat yang terpasang. "gimana keadaan istri saya dok?" tanya putra cemas. "belum ada perkembangan pak, yang sabarya". dokter meninggalkan ruangan nya, selang tak lama ada suster masuk dan menyampaikan pesan kepada radit untuk ke ruangan dokter. radit menghubungi dewi untuk datang menjaga kakaknya karena dia akan ke rungan fokter, tak lama dewi datang dan radit menitipkan rere. Tok tok tok. "silahkan masuk" radit masuk setelah di persilahkan dokter, "pagi dok"dapa radit " pagi pak silahkan duduk" "terima kasih dok". pak radit selamat ya putri bapak sudah bisa di bawa pulang karena berat badannya sudah mencukupi dan semuanya sudah normal dan baik" kata dokter. "alhamdulillah" syukur radit panjatkan. "tapi untuk istri bapak keadannya makin memburuk jadi mohon siapkan diri anda dan keluarga". "apa bisa saya bawa istri saya berobat ke luar negri dok?". "tidak bisa pak sangat berbahaya, pasien sangat lemah dan tidak bisa lepas dari semua alat yang ada di badanya, jadi saya tidak anak mengijinkan". radit hanya bisa diam, lemah. dia mengurus adminis trasi untuk anak bayinya. "dew titip dulu anak abang ya, abang gak bisa ninggalin mbak mu". "iya bang tenang aja dewi dan ibu akan menjaganya lagian diakan ponakan dewi juga, abang gak usah hawatir ya?" kata dewi meyakinkan. "makasih ya dew". "dewi pamit ya bang, ada apa apa kabarin ya", di balas anggukan oleh radit dan dewi menaiki mobil yang sudah di siapkan oleh radit untuk dewi selama rere di rumah sakit dewi bolak balik menggunakan mobil. radit melangkah gontai kembali ke bangsal, benar benar tidak ada semangat hidup separuh nyawanya sedang terbaring koma berperang antara hidup dan mati. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN