Setelah empat kali landing domestik berturut-turut, jarum jam menunjuk pukul dua puluh lewat empat puluh menit ketika Alisa akhirnya tiba kembali di Jakarta. Tubuhnya terasa letih, namun wajahnya tetap cemberut, seolah dunia masih berutang sesuatu padanya. Ia melangkah masuk ke sebuah kafe di bilangan Senayan, hanya ingin menyesap secangkir latte untuk meredakan pikiran yang kusut. Namun langkahnya mendadak terhenti. Di sudut ruangan, duduk seorang perempuan dengan aura elegan yang begitu familiar. Ralin! Tanpa banyak pikir, Alisa langsung menghampiri lalu duduk di hadapan Ralin, yang tampak terkejut melihat kedatangannya. “Sendirian, Kak?” tanyanya, berusaha terdengar ramah meski hatinya sebenarnya malas melakukan itu. Ralin menggeleng pelan. “Aku sedang menunggu teman. Kamu…?” “Aku

