*revisi*

351 Kata

Alfa mengerjap, sekali lagi mengehela napas karena yang dilihatnya adalah langit-langit putih rumah sakit dan aroma yang begitu khas. Merasa tenggorokannya kering, ia bergerak untuk bangun hendak mengambil gelas di meja samping. Tetapi malah bersitatap dengan gadis yang tengah duduk di sofa. Alfa kaget bukan main. Tidak pernah sekali pun membayangkan perempuan itu akan datang sebab tahu bahwa kemungkinannya sangat kecil bahkan mustahil terjadi setelah apa yang disebabkannya sendiri. Juga teringat bahwa yang Aurel tahu, ia sedang berobat ke luar negeri. "Dek?" Ah, rasanya Aurel merindukan panggilan itu beserta suara si pemanggil. Seperti rencana sebelumnya, Aurel langsung bangkit dan menghampiri cowok itu. Mengabaikan wajah terkejut Alfa, ia dengan sigap mengambil gelas berisi air dan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN