Untuk pertama kalinya dalam dua setengah tahun, Tristan akhirnya bisa kembali ke negara kelahirannya. Biasanya ia yang dikunjungi Ibunya, tapi kali ini ia sendiri yang memang harus datang. Ia menghirup udara di sekitar saat keluar dari kawasan Bandar Udara Soekarno-Hatta. Menatap sekelilingnya lalu tersenyum simpul menyadari perubahan yang ada. Rupanya ia pergi terlalu lama. Pria paruh baya yang merupakan sopir keluarga itu hanya menatap anak majikannya dari kaca rearview. Tristan mengeluarkan ponsel dari saku celana, menarik napas karena ternyata tidak ada satu pun panggilan atau pesan masuk dari seseorang yang sekarang berada bermil-mil jauh darinya. Tristan menggeleng cepat, berusaha menghilangkan kerisaunnya. Ia lalu mengetikkan sesuatu dan dikirimkan pada Ben. Setelah beberapa saat m

