"Sial, sial, sial." Suara teriakan Arif memunuhi seluruh penjuru ruang mobil, tangannya memukul-mukul setir sebagai satu-satunya pelampiasan emosinya saat ini. Telinganya masih terngiang-ngiang saat tetangga Ringgo menyeletuk, mengenali Arif bukan sebagai Arif Bijaksana, tetapi sebagai 'pejabat yang selingkuh dengan Olin'. Reputasi Arif benar-benar telah hancur, padahal ia membangunnya sangat tidak mudah dan butuh banyak pengorbanan. Mereka tidak ingat prestasi dan kebaikan-kebaikan yang pernah Arif lakukan yang sebelum-sebelumnya sempat banyak mendapat sanjung pujian, dan hanya mengingat keburukan Arif yang ini saja. Ibarat nila setitik, s**u satu belanga rusak. Arif pesimis s**u dalam belanga itu masih bisa diselamatkan. Namun, dibanding kehilangan belanga s**u itu, Arif lebih

