Semalam tidur Olin sangat nyenyak karena akhirnya ia tak merasa sendirian. Ia merasakan kehangatan saat Arif memeluknya dari belakang dan ada rasa hangat menyelimuti saat pagi tiba, wajah Arif lah yang pertama kali di lihatnya. Pasti akan sagat menyenangkan jika memiliki pengalaman bangun tidur seperti ini. Sayangnya itu tidak mungkin. Mungkin malam ini Olin akan tidur sendiri lagi. Olin terpaksa beranjak dari ranjang nyamannya, mengikuti desakan rasa mual yang menuntut dikeluarkan. Olin membuka kloset dan muntah-muntah meski yang keluar hanya berupa cairan bening. Tubuh Olin berjingkat terkejut saat tiba-tiba ada tangan yang memijit tengkuknya, tanpa perlu menoleh ia tahu milik siapa tangan itu. Usai merasa lebih baik, Olin kembali menegakkan badan sambil tak lupa mem-flush closet ters

