“Mas Arif?” Olin menyipit tak mempercayai pengelihatannya sendiri, dipikirnya ia masih berada di alam mimpi, sedangkan tadi ia yakin tidurnya terusik akibat seberkas cahaya yang tiba-tiba mengenai wajahnya. Olin akhirnya memejamkan mata lagi. Tidak mungkin Arif ada di sini, karena saat ini dia pasti sedang berada entah di tempat bagus mana bersama Inge dan keluarganya. Tidak ada waktu untuk memikirkan Olin yang tengah tergolek sakit. Olin sendiri tak tahu, sejak mendengar kabar Arif liburan yang mana itu artinya sama dengan dia ketahuan berbohong, Olin malas untuk hanya sekadar duduk dan minum air putih. Akibatnya, tubuhnya perlahan-lahan lemas dan sejak semalam disusul dengan rasa mual-mual yang intensitasnya lebih sering dari sebelum-sebelumnya. Merasakan elusan lembut di kening da

