Tidak Akan Kubiarkan Kamu Lolos Om Adam

1906 Kata
Kening Dara berkerut, tidurnya yang baru saja lelap terusik karena suara gedoran keras dari pintu kamar hotelnya. Bukan hanya sekali, tapi berulang kali pintu itu digedor kuat oleh seseorang dari luar sana. Dara yang tak tahan pun langsung bangkit dari kasurnya, ia melangkah dengan wajah bersungut kesal, siap mengamuk kepada siapa pun yang telah berani mengusik tidurnya. Saat pintu kamar dia buka lebar, kelopak matanya seketika membeliak. Sial. Umpatan itu secara spontan meluncur dari mulut Dara. “Akhirnya kamu buka juga pintunya,” ujar sosok Adam, tangannya dengan cepat langsung mencekal lengan Dara, tak membiarkan gadis itu menghindar darinya. “Kok Om bisa tahu sih aku ada di sini?!” Dara mendesah kesal, ia berusaha memberontak dari cengkeraman Adam yang terasa sangat erat. “Ayo pulang,” titah Adam. Namun, Dara yang kepalang kesal tampak menolak ajakan dari Adam. Dia masih berusaha memberontak, meminta tangannya dilepaskan oleh pria itu. Kegaduhan di antara Adam dan Dara terdengar sampai ke kamar yang Bima tempati, terlihat pria muda itu keluar dari dalam kamarnya ketika mendengar suara Dara yang berseru kesal pada Adam. Bima yang tak mengenali Adam langsung mendorong kasar tubuh pria itu, hingga cengkeraman tangan Adam pada Dara terlepas. Bahkan dengan sigap Bima langsung memasang badan di depan Dara. “Itu dia cowok yang tadi masuk ke penginapan ini sama Dara,” sahut Gita, telunjuknya terarah pada sosok Bima yang menampilkan wajah bengis, siap menghajar siapa saja yang berani melukai Dara. “Oh, ternyata kamu pengadunya!” Hati Dara bergemuruh, dia baru menyadari keberadaan Gita di sana, kini terjawab sudah kenapa Adam bisa tahu di mana dia menginap, ternyata Gita yang telah memata-matainya. “Kenapa? Kamu takut kelakuanmu yang suka tidur sama banyak laki-laki diketahui sama Kak Adam?” Gita mencibir tanpa mempedulikan fakta sebenarnya, dia sengaja memfitnah Dara agar nilai gadis itu tercoreng di mata Adam. Dara yang disulut emosi langsung melangkah maju, berdiri di hadapan Gita dengan tatapan berapi-api. “Mulut kamu kalau ngomong dijaga!” amuk Dara. “Emang kenyataannya begitu kan. Lagian kamu enggak sadar diri banget jadi orang. Kak Adam itu udah susah payah urus kamu, bahkan dia rela mengorbankan statusnya menjadi seorang ayah padahal dia belum pernah menikah. Harusnya kamu tahu diri, Dara. Kamu itu enggak punya siapa-siapa di dunia ini, semua keluargamu sudah mati,” omel Gita. Mungkin Gita berniat memprovikasi Dara dengan berpura-pura menasihatinya menggunakan kalimat sarkas. Akan tetapi, semua kata yang terlontar dari mulutnya itu sangat tidak santun. Apalagi secara gamblang Gita menyinggung perihal kondisi Dara yang seorang yatim piatu. Kendatipun memang benar kalau Dara tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Bahkan para bibi dan pamannya mendekatinya hanya demi warisan. “Kamu itu terlalu manja, Dara. Seharusnya kamu—” “Cukup, Gita!” hardik Adam. Wajahnya memerah karena marah. Seketika Gita sadar kalau perkataannya tadi sangat tidak disukai oleh Adam. “Kak Adam, aku hanya ingin sedikit menasihati Dara saja. Aku sama sekali tidak bermaksud menghina Dara,” tutur Gita, berusaha membela diri tanpa ada niat untuk meminta maaf pada Dara yang padahal sudah dia lukai hatinya. Adam membuang napas berat, dia mengabaikan perkataan Gita barusan, pria itu berpaling menatap ke arah Dara yang tampak membeku usai diomeli oleh Gita. “Aren, bawa Dara ke mobil,” perintah Adam pada sang asisten pribadi. Sesaat setelah titah Adam terlontar, Aren pun langsung menjalankan perintah tersebut tanpa banyak bicara. Dia mendekati Dara dan membawa gadis itu keluar dari penginapan tersebut. Anehnya, Dara tampak diam saja, dia menjadi sangat pendiam setelah Gita menyinggung perihal mendiang orang tua dan kakaknya. *** Silau cahaya matahari terasa mengusik netraku. Aku mengerjap, menyelaraskan pandanganku dengan sinar matahari yang masuk ke dalam kamar. Aku merasa kulitku menghangat saat suara tirai terdengar disingkap oleh seseorang. Samar-samar kulihat siluet Bi Ida. Wanita paruh baya itu mendekat ke arah ranjang. “Neng Dara, udah pagi, Neng. Ayo bangun.” Suara lembutnya menarik kesadaranku secara halus. Kepalaku pun perlahan bangkit dari atas bantal. Aku terduduk sesaat dengan nyawa yang masih belum sepenuhnya terkumpul. “Sekarang jam berapa, Bi?” tanyaku sembari menguap sesaat. “Jam delapan, Neng,” jawab Bi Ida. Aku terkesiap mendengar jawaban Bi Ida barusan. “Masa udah jam delapan, Bi? Aduh mampus aku bisa kena omel Om Adam kalau ketahuan bangun siang, apalagi sampai lewat sholat subuh,” ujarku, seketika panik. Aku bahkan langsung bangkit dari dudukku, hendak menuju kamar mandi untuk mengambil wudu dan sholat. Namun, Bi Ida menghalangiku, dia menarikku lembut, lalu membawaku duduk kembali ke tepi ranjang. “Tadi Neng Dara udah sholat subuh bareng bibi. Masa Neng Dara lupa? Neng Dara nyawanya belum ke kumpul ini, duduk dulu coba, tenangin diri dulu, jangan langsung panik,” kata Bi Ida. Perlahan aku mencoba rileks, mengusir kepanikan yang sempat menyekap hatiku. Beberapa saat setelah merasa tenang, aku mulai ingat kalau subuh tadi aku memang sempat bangun karena Bi Ida membangunkanku, lalu setelah sholat subuh bareng Bi Ida, aku sempat cekcok kembali dengan Om Adam yang baru pulang dari masjid. Kemudian karena terlalu kesal padanya, aku masuk ke dalam kamar dan tidur lagi. “Neng Dara udah inget?” tanya Bi Ida, menatapku lekat. “Subuh tadi aku sama Om Adam berantem lagi ya, Bi?” Aku bertanya pada Bi Ida untuk mengonfirmasi apakah ingatanku itu benar atau tidak. “Iya, Neng. Pak Adam bahkan sampai pergi dari rumah buat nenangin diri,” terang Bi Ida. Aku menghela napas berat. Problematik sekali diriku ini. Masalah semalam saja belum selesai, subuh tadi aku malah membuat keributan lagi. “Sekarang Om Adam ada di mana, Bi?” Aku kembali bertanya. “Pak Adam belum balik lagi ke rumah setelah pergi sejak subuh tadi, Neng,” jelas Bi Ida. Hatiku berdesir mendengarnya. Apa kali ini Om Adam sangat marah padaku? Apalagi sejak membawaku pulang dari penginapan semalam dia sama sekali belum memberikan hukuman apa pun padaku. Tidak biasanya dia membiarkanku seperti ini. Aku membuang napas berat. Sialnya karena ulahku sendiri, aku merasa ada jurang besar yang memisahkan diriku dengan Om Adam. Dadaku benar-benar gelisah memikirkannya. “Neng, ayo turun ke bawah, Neng Dara sarapan dulu, bibi udah masakin makanan kesukaan Neng Dara loh,” ujar Bi Ida. Lamunan singkatku seketika buyar, aku pun tersenyum pada wanita paruh baya itu. “Bibi turun duluan aja, Dara mau mandi, gerah soalnya,” cakapku sambil bangkit dari atas kasur. “Ya udah, bibi tunggu Neng Dara di dapur ya,” kata Bi Ida. Senyumannya terukir hangat, kemudian beliau melangkah keluar dari kamarku. Setelah itu, aku pun bergegas membersihkan diri, membasuh tubuhku yang rasanya sangat lengket, seperti tidak mandi selama beberapa hari. Lima belas menit kemudian. Aku sudah selesai membersihkan diriku. Setelah berpakaian lengkap, aku pun keluar dari kamar. Saat melewati kamar Om Adam yang berada tepat di samping kamarku, rasanya kakiku terasa berat untuk melangkah lagi, sontak aku pun berhenti di depan kamarnya, mematung selama beberapa saat. “Dia enggak mungkin beneran marah sama aku kan?” Aku merasa khawatir dengan sikap Om Adam, pasalnya kali ini respons dia atas ulah nakalku sangat berbeda dari sebelumnya, ia terlihat seolah sudah jengah dengan tingkahku. Aku takut setelah kejadian semalam, dia akan bersikap masa bodoh padaku. Saat aku sibuk memikirkan Om Adam, tak sengaja pandanganku tertuju pada ruang kerjanya yang berada di bagian paling pojok lantai dua—dekat ruang santai yang biasanya sering kami gunakan untuk mengobrol atau saling bercanda bersama. Aku melihat pintu ruang kerja Om Adam sedikit terbuka, dugaanku Om Adam mungkin saja ada di dalam sana. Seketika hatiku mendesak, memintaku untuk menemuinya, mungkin sebaiknya aku meminta maaf padanya. Aku sangat sadar kalau kelakuanku semalam sudah di luar batas. Setelah merasa yakin untuk meminta maaf pada Om Adam, aku pun melangkah menuju pintu tersebut, mendekatinya dengan perasaan yang sedikit berdebar, takut kalau Om Adam benar-benar mendiamkanku karena terlalu marah. Namun, saat aku tiba di dalam ruang kerja itu. Aku melihat ruangan itu kosong, tak ada Om Adam di dalam sana. Aku membuang napas berat, ternyata tebakanku salah, Om Adam tidak ada di sini, mungkin dia masih ada di luar sana dan bisa saja dia enggan pulang karena terlalu malas bertemu denganku yang sering menyusahkannya. Perasaan bersalahku semakin memadat saat aku melihat fotoku bersama Om Adam di meja kerjanya. Dia ternyata diam-diam menyimpan foto itu, foto saat kelulusan SMA-ku beberapa tahun lalu. Mungkinkah yang dikatakan Bi Ida benar? Sepertinya Om Adam memang sangat menyayangiku. Tapi bodohnya aku malah sering menyusahkannya hanya karena keegoisanku sendiri. “Sore nanti bawa bukti itu ke berangkas rahasiaku, simpan di sana dan jangan biarkan siapa pun tahu.” Tubuhku secara refleks langsung mencari tempat persembunyian saat mendengar suara Om Adam yang sepertinya tengah berbicara pada Om Aren. Tak lama setelah aku bersembunyi di balik rak buku, aku melihat Om Adam masuk ke dalam ruangan ini bersama Om Aren. “Eh, tunggu dulu? Kenapa aku sembunyi?” gumamku, baru sadar dengan spontanitas tubuhku yang secara tidak sengaja menyeret diriku bersembunyi di sini. “Sebaiknya Dara juga tidak tahu tentang bukti itu,” kata Om Adam. Perkataannya itu membuat tubuhku seketika kembali meringkuk di balik rak. Aku tadinya ingin muncul dan menampakkan diriku di depan Om Adam, tapi setelah mendengarnya berkata seperti itu, aku justru semakin merapatkan diri untuk bersembunyi agar tidak ketahuan. Rasa penasaranku seketika merebak, aku ingin tahu apa maksud dari perkataannya tadi. Bukti apa yang tidak boleh aku ketahui? “Jangan sampai Dara tahu kalau kecelakaan yang membuat orang tua dan kakaknya meninggal sebenernya bukan kecelakaan biasa,” lanjut Om Adam. Dadaku menyesak mendengar fakta tersebut. Seketika aku kembali teringat dengan perkataan Kak Amira beberapa hari lalu. Wanita itu juga membeberkan fakta itu padaku, Kak Amira memberitahuku kalau kecelakaan papa, mama dan Kak Hansel bukan hanya sekedar kecelakaan biasa. Jika benar itu bukan kecelakaan biasa, lantas siapa yang telah tega membuat papa, mama dan Kak Hansel mengalami kecelakaan? “Seseorang yang akan mendapatkan banyak keuntungan atas kematian mereka,” gumamku. Seketika pandanganku tertuju pada sosok Om Adam. Setelah orang tua dan kakakku meninggal, dialah orang yang paling banyak mendapatkan keuntungan. Dia bahkan orang pertama yang secara tiba-tiba ingin mengangkatku menjadi anaknya. “Mungkinkah dia ... pembunuhnya?” Aku tertegun memikirkan asumsiku ini. Pria yang aku kagumi, pria yang aku cintai, pria yang aku inginkan menjadi suamiku. Apakah benar dia yang telah membunuh orang-orang yang aku sayangi? Aku harus mendapatkan bukti yang disembunyikannya itu. Satu-satunya cara agar aku bisa mendapatkan bukti itu adalah dengan tetap berada di dekatnya. “Oh ya, Ren. Aku berencana menikahi Gita dalam waktu dekat ini,” kata Om Adam pada Om Aren. Aku terbeliak menguping perkataannya barusan. Yang benar saja. Dia akan menikahi Kak Gita? Tidak, aku harus menghentikannya. Jika Om Adam dan Kak Gita menikah, maka aku tidak bisa berada di dekat Om Adam, dan itu artinya aksesku untuk mendapatkan bukti itu secara tidak langsung akan terhalang. Sebelum dia mengumumkan rencana pernikahannya dengan Kak Gita ke publik. Aku harus membuatnya menikah denganku, itu satu-satunya cara yang bisa aku lakukan, karena kelak statusku sebagai istrinya akan membuatku lebih leluasa mencari bukti itu. Pertama-tama, aku harus menyusun rencana agar dia mau melepaskan hak adopsinya. Aku perlu melepas statusku yang masih menjadi anak angkatnya secara hukum. Setelah berpikir cukup pelik, aku menyeringai saat mendapatkan ide yang paling cocok untuk melancarkan rencana pertamaku itu. Bagaimana jika aku hamil anaknya? Bukankah secara tidak langsung itu akan memaksanya untuk menikahiku dan melepaskan hak adopsinya? Walaupun sedikit konyol, tapi sepertinya itu bukan ide yang buruk. Iya kan? Tapi, membayangkan aku dan dia melakukan adegan dewasa ... Ya Tuhan, tubuhku rasanya seperti dirayapi ribuan ulat. Menggelikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN