Adam yang tengah frustrasi dengan masalah kaburnya Dara tampak tak hirau saat ponselnya beberapa kali berdering menampilkan nama Gita di layar.
“Pak Adam, sebaiknya Anda angkat saja telepon dari Bu Gita,” usul Aren, yang sejak beberapa saat lalu datang ke rumah Adam karena Adam menghubunginya usai Dara berhasil kabur dari rumah.
Adam terlihat menghela napas berat, dengan raut wajah terpaksa dia mengangkat telepon dari Gita yang sudah beberapa kali menghubunginya.
“Adam, kamu kok lama banget sih angkat telepon dari aku. Aku mau sampaiin kabar penting buat kamu.”
“Kabar penting apa?” tanya Adam, tak begitu antusias menanggapinya.
“Dara ada di rumah enggak?”
“Dara enggak ada di rumah, dia kabur dari rumah enggak lama setelah kamu pergi,” jawab Adam.
“Dara kabur? Berarti cewek yang tadi aku ikutin beneran Dara,” ujar Gita dari seberang panggilan.
Kening Adam seketika berkerut. “Maksud kamu apa, Git? Kamu ketemu sama Dara?” tanyanya, seketika itu raut wajah Adam terlihat sedikit cerah, dia senang karena akhirnya menemukan titik terang tentang keberadaan Dara saat ini.
“Bukan ketemu sih. Tadi pas aku mampir ke minimarket deket apartemenku, aku enggak sengaja lihat Dara, dia bareng sama cowok, aku enggak tahu siapa cowok itu. Pokoknya mereka sempet makan mie instan bareng di depan minimarket. Terus mereka pergi ke arah Jalan Melati yang jaraknya tiga gang dari komplek apartemenku. Aku lihat mereka masuk ke penginapan Okio Harmoni.” Gita menjelaskan sangat detail, jadi tak mungkin wanita itu berbohong.
Adam pun seketika menoleh ke arah Aren, ia memberi aba-aba pada asistennya itu untuk segera menyiapkan mobil karena dirinya akan langsung pergi ke penginapan yang tadi Gita sebutkan.
“Git, bisa kan kamu tolong pantau Dara sampai aku tiba di sana?” pinta Adam.
“Kamu tenang aja. Sekarang aku masih ada di halaman penginapan, aku bakal pantau dia dari sini, nanti kalau aku lihat Dara pergi dari penginapan ini, aku pasti bakal kabarin kamu,” tutur Gita. Demi Adam, apa pun pasti akan dia lakukan, apalagi ini menyangkut tentang hal buruk yang akan Dara hadapi. Gita sudah tak sabar melihat bagaimana nanti Adam akan sangat marah besar dan kecewa pada Dara karena kepergok menginap bersama pria asing di hotel.
“Makasih,” ucap Adam, terdengar sangat tulus, membuat Gita tersenyum sumringah mendengarnya.
Setelah panggilan itu berakhir, Adam pun bergegas keluar dari rumahnya, dia langsung menuju mobil yang sudah disiapkan oleh Aren.
“Pak Adam, biarkan saya ikut,” ujar Aren, dia mencekal lengan Adam yang baru saja membuka pintu bagian kemudi. “Biar saya yang setir mobilnya, saya khawatir Pak Adam kenapa-kenapa karena saat ini kondisi emosi Pak Adam sedang tidak baik-baik saja,” urainya.
Adam menghela napasnya, ia lantas mengangguk, setuju-setuju saja dengan usulan dari Aren. Adam juga sadar kalau dirinya tak akan bisa menyetir dengan tenang karena saat ini perasaannya benar-benar sangat kacau. Pikirannya melayang-layang memikirkan Dara yang masuk penginapan bersama seorang cowok.
***
Sepasang lawan jenis itu tampak senang akhirnya mereka mendapatkan kamar setelah beberapa saat menunggu. Beruntung mereka tidak benar-benar menunggu hingga pukul sebelas malam karena si tamu yang harusnya check out pukul sebelas malam nanti secara kebetulan melakukan check out lebih awal dari jam seharusnya.
“Good night, Bima,” ucap Dara saat mereka sudah tiba di depan kamar masing-masing.
Bima yang tengah membuka pintu kamarnya sontak menoleh ke arah Dara kembali.
Senyum Bima terukir, dengan penuh antusias dia menjawab ucapan selamat malam dari perempuan itu.
“Good night, Dara.”
Dara kemudian melambaikan tangannya, lalu dia melangkah masuk ke dalam kamar dan mengunci rapat kamarnya itu.
Setelah melihat Dara masuk dengan aman, Bima pun masuk ke dalam kamar hotelnya sendiri yang berada tepat di seberang kamar yang disinggahi Dara.
Di sisi lain.
Setelah hampir tiga puluh menit berkendara, mobil yang dikendarai oleh Aren tiba di halaman penginapan Okio Harmoni. Penginapan itu tampak cukup ramai pengunjung karena terlihat ada beberapa kendaraan yang terparkir di sana.
“Kak Adam.” Suara Gita terdengar. Wanita itu mengetuk kaca mobil saat ia mengenali mobil tersebut.
Adam pun kemudian keluar dari dalam mobilnya, diikuti oleh Aren yang juga menyusul keluar.
“Dia masih ada di dalam kan?” tanya Adam.
Gita mengangguk. “Sejak tadi aku tidak melihatnya keluar lagi dari dalam sana,” jelas Gita.
Adam menarik napasnya cukup dalam, pria itu kemudian melangkah masuk ke dalam penginapan tersebut dengan perasaan yang masih campur aduk.
Setibanya di meja resepsionis, seorang pria tampak menyambut kedatangannya.
“Selamat malam, selamat datang di penginapan Okio Harmoni,” sapa si pegawai resepsionis itu, ramah. “Sebelumnya terima kasih telah datang ke penginapan kami. Tapi mohon maaf, saat ini kamar di sini sudah penuh semua,” lanjut pegawai itu.
“Kami datang ke sini bukan untuk menginap, tapi untuk menjemput seorang gadis berusia dua puluhan tahun. Dia anak saya, saya melihatnya masuk ke penginapan ini, saya harap Anda mau bekerjasama dan mau menunjukkan lokasi kamarnya kepada kami,” tutur Gita. Lihatlah dia, tanpa tahu malu bersikap seperti sosok ibu untuk Dara, padahal dalam hatinya dia sudah sangat tidak sabar melihat Dara diamuk oleh Adam.
Anehnya, Adam tampak diam saja saat Gita secara random menyebut Dara sebagai anaknya. Padahal hubungan Adam dan Gita masih belum ada kejelasan untuk sampai ke jenjang pernikahan. Adam bahkan tak pernah membahas perihal pernikahan selama berpacaran dengan Gita. Karena sejak awal, dia memang tidak benar-benar memiliki perasaan pada perempuan itu. Gita hanyalah tameng yang Adam pakai untuk menutupi isu yang beredar tentang gosip hubungan gelap antara dirinya dan Dara.
“Maaf, Ibu. Bukannya saya tidak mau bekerjasama, tapi permintaan Anda melanggar peraturan yang ada di penginapan ini. Kami dilarang mengusik tamu yang sudah menginap di sini,” terang si pegawai resepsionis itu.
“Kalau begitu hubungi atasanmu atau kalau perlu pemilik penginapan ini, saya akan berbicara langsung dengannya,” sahut Adam.
Si pegawai resepsionis tampak diam, tapi kemudian pria itu menunjuk ke arah belakang Adam, terlihat di sana ada seorang pria paruh baya berkepala pelontos tampak baru saja masuk ke dalam penginapan bersama seorang perempuan berpakaian seksi.
Adam dan yang lainnya pun sontak mengikuti arah jari resepsionis itu menunjuk.
“Ada apa, Winarto?” tanya si pria paruh baya, sadar kalau dirinya tengah ditunjuk oleh sang karyawan.
“Apa benar Anda pemilik penginapan ini?” Adam langsung mengajak pria paruh baya itu berbicara.
“Iya, benar. Saya pemilik penginapan ini. Kenapa?” kata si pria paruh baya. Sikapnya terlihat sangat angkuh dan penuh dengan aura kesombongan.
“Anak saya kabur dari rumah dan ada yang melihatnya masuk ke penginapan ini, jadi saya meminta resepsionis Anda untuk menunjukkan kamar yang disewa oleh anak saya itu,” terang Adam, tanpa basa-basi.
Pria paruh baya itu tersenyum, dia menatap Adam dari atas hingga bawah.
“Kamu sepertinya orang kaya, memangnya kamu berani bayar berapa? Karena saya tidak akan memberi privasi tamu kami secara cuma-cuma,” ujar si pria paruh baya.
“Berapa pun yang kamu mau,” kata Adam.
Pria paruh baya itu semakin menyeringai. Dengan serakah dia lantas menyebutkan nominal yang ia minta.
“Lima puluh juta.”
“Lima puluh juta?! Itu namanya pemerasan!” sahut Gita, tak terima Adam dimintai duit sebanyak itu hanya untuk sekedar memberitahu letak kamar yang Dara sewa.
“Aku tidak masalah dengan nominal uang itu,” kata Adam, mengacuhkan Gita yang tampak tak setuju dengan jumlah yang diminta oleh si kepala botak.
“Anda tidak perlu mengeluarkan uang sebanyak itu untuk mengetahui lokasi kamar putri Anda, Tuan,” sahut seorang perempuan yang baru saja turun dari tangga lantai dua. “Saya sepertinya tahu siapa yang Anda cari, dan saya akan mengantarkan Anda ke kamar putri Anda secara gratis,” imbuhnya.
“Amel!” Pria paruh baya di dekat pintu penginapan itu tampak murka dengan perkataan Amel barusan, padahal dia hampir berhasil mendapatkan uang sebanyak itu secara cuma-cuma.
“Kenapa? Ayah enggak suka?” sungut perempuan yang dipanggil Amel oleh si pria paruh baya. Amel adalah anak kandung pria paruh baya berkepala botak itu, dia jugalah yang tadi melayani Dara dan Bima saat Winarto si pegawai resepsionis yang asli terlambat datang. “Kalau ayah enggak suka, ayah pergi aja dari hidupku, itu artinya aku enggak perlu lagi kasih ayah uang satu sen pun dari warisan ibuku,” timpalnya. Seketika itu si kepala botak langsung bungkam, tak berani menjawab ancaman Amel barusan.
Pandangan Amel kemudian berpindah pada sosok Adam yang tampak diam saja menyimak pertengkaran kecilnya dengan sang ayah.
“Tuan, mari saya akan tunjukan kamar tempat putri Anda menginap,” kata si Amel.
Adam pun mengangguk, dia lantas mengikuti Amel yang berjalan lebih dulu di depannya.
Di belakang Adam, ada Aren juga Gita yang turut serta mengikuti.
Dari raut wajah Gita, wanita itu semakin tak sabar melihat detik-detik Dara akan dimarahi oleh Adam.
“Mampus kamu Dara. Aku tidak sabar melihatmu menangis di depan mataku,” gumam Gita, diiringi seringaian lebarnya yang tampak sengit.