Menginap Di Hotel Bersama

1362 Kata
Aku menatap hotel di depan mataku itu dengan ragu, kemudian kulirik Bima yang juga sama ragunya denganku. “Kamu yakin mau menginap di hotel ini?” tanya Bima. Sebenarnya hotel yang ada di depan kami ini lebih pantas disebut sebuah motel atau penginapan dengan harga terjangkau. “Uang yang kubawa enggak banyak, Bim. Dan di sana ada tulisan diskon,” jawabku sambil menunjuk sebuah papan promosi yang terpajang besar di depan pagar masuk area hotel. “Lima puluh ribu rupiah untuk semalam, siapa yang tidak tergiur, apalagi untuk orang yang kekurangan duit sepertiku ini,” lanjutku. Bima mengangguk paham. Kemudian dia mempersilakanku untuk masuk lebih dulu ke dalam lobi hotel yang terlihat minimalis. Setibanya kami di meja resepsionis, seorang perempuan yang berdiri di balik meja resepsionis tersenyum ramah pada kami. “Selamat malam, Mas, Mbak,” sapanya. “Mau berapa malam?” tanyanya kemudian, tanpa berbasa-basi. Sebenarnya aku sedikit aneh dengan cara pelayanannya, tapi karena aku juga tidak terlalu menyukai basa-basi, aku pun senang-senang saja dengan sikap perempuan itu yang langsung to the point. “Satu malam, Mbak,” sahutku. “Baik, ini kunci kamarnya, selamat menginap di hotel kami,” kata resepsionis itu. Aku mengernyit bingung saat dia cuma memberikan satu kunci kamar hotel pada kami. Memangnya dia pikir aku menginap di sini untuk berbuat haram dengan Bima. “Kunci kamarnya kok cuma satu, Mbak?” tanya Bima pada resepsionis itu. Aku pun tadinya juga hendak menanyakan hal yang sama. “Eh? Bukannya kalian mau nginep bareng?” ujar si resepsionis. “Astaghfirullah, Mbak. Senakal-nakalnya saya, saya enggak berani nginep bareng cowok. Lagian saya nginep di sini karena cuma mau tidur, bukannya nganu-nganu,” sungutku, agak kesal. Anehnya si resepsionis malah tersenyum lebar mendengar perkataanku barusan. “Waduh, maaf kalau gitu. Saya pikir kalian seperti tamu lainnya. Soalnya rata-rata yang nginep di sini tujuannya untuk melakukan sesuatu,” terang si resepsionis, pandangannya kemudian tertuju pada seorang laki-laki dan seorang perempuan yang tampak baru saja turun dari tangga lantai dua. “Contohnya seperti mereka, mereka sudah nginep dua malam di sini,” lanjutnya, berbisik pelan pada kami. Aku menghela napas berat. Sepertinya kali ini aku sangat sial. Selama tiga tahun aku sering kabur dari rumah, baru kali ini aku menemukan tempat penginapan yang sangat menjijikkan seperti hotel ini. Aku merasa jijik bukan karena fasilitas dan kebersihannya yang buruk, tapi karena para pengunjungnya rata-rata adalah orang-orang yang membutuhkan tempat untuk memuaskan hawa nafsu. Bisa dibilang hotel ini adalah tempat singgah perzinaan. Si resepsionis itu lantas menatap ke arahku dan Bima secara bergantian. “Kalau tujuan kalian bukan untuk melakukan sesuatu, saran saya sih mungkin sebaiknya kalian cari hotel lain aja. Cari hotel yang lebih bagus. Kalau kalian maksa mau nginep di sini, saya khawatir nanti kalian khilaf loh,” ujar perempuan itu. Andai saja uangku cukup untuk menginap di hotel lain, aku pasti akan menuruti perkataan resepsionis itu. “Enggak pa-pa deh, Mbak. Lagian saya cuma mau nginep satu malam saja di sini,” ujarku. Tatapanku kemudian berpindah pada Bima. “Bim, kamu cari hotel lain aja. Duitmu pasti cukup kan buat nginep di hotel lain?” usulku. “Eh, anu, tapi kalau masnya nginep di hotel lain dan Mbak nginep di hotel ini sendirian, saya jadi malah khawatir sama mbaknya. Soalnya yang nginep di hotel ini banyak banget pria-p****************g, takutnya nanti mbaknya malah diapa-apain loh sama mereka. Apalagi di hotel ini enggak ada petugas keamanannya,” sahut si resepsionis, lagi-lagi dia membuatku merasa ragu. Aku benar-benar heran sama resepsionis ini, bukannya membuatku nyaman tapi dia justru membuatku harus berpikir dua kali untuk merasa yakin menginap di sini. Bukankah biasanya para resepsionis akan berusaha memberi segala pelayanan terbaik mereka agar para tamu hotel merasa nyaman. Lah ini, dia justru secara terang-terangan menyuruhku menginap di tempat lain, kan aneh. “Kalau gitu kami pesan dua kamar yang saling berdekatan.” Bima tiba-tiba bersuara. Dia seolah tahu kalau aku tidak mungkin mengiyakan usulan perempuan itu, karena uangku benar-benar pas-pasan jika harus menginap di hotel lain dengan biaya yang lebih mahal. “Bim,” lirihku, aku menatap Bima yang kali ini terlihat mantap akan menginap di hotel ini. “Kamu yakin mau ikut nginep di sini?” tanyaku padanya. “Uangku juga enggak cukup, Dar. Aku kabur dari rumah lupa bawa dompet sama hape. Aku cuma punya beberapa lembar uang yang enggak sengaja aku temuin di saku jaketku,” jelasnya. Entah dia hanya berbohong atau memang berkata jujur. Tapi sebenarnya aku merasa tenang dia mau menginap bersamaku di sini, walau tak satu kamar namun setidaknya aku tidak akan was-was karena ada orang yang dapat kumintai tolong jika sesuatu yang tidak kuinginkan terjadi. “Eh, tapi kayaknya si masnya enggak bisa deh ikut nginep di sini,” kata perempuan itu. Aku dan Bima sontak kembali menoleh ke arahnya. “Mbaknya sebenernya niat enggak sih layanin kami? Kami tamu loh di hotel ini. Perasaan dari tadi banyak banget kasih alesan ini itu. Mbak permainan kami ya? Mbak enggak suka kami nginep di sini?!” Kesabaranku yang tipis akhirnya meledak, mulutku secara spontan mengomel padanya. Tapi omelanku sama sekali tidak membuat si resepsionis ketar-ketir. Dia justru tersenyum menanggapi ocehanku barusan. “Sabar dong, Mbak,” ucapnya kemudian, dengan nada santai dan senyum tipis yang menghias wajahnya. “Saya sebenernya bukan resepsionis di sini, saya anak dari pemilik penginapan ini. Dan kenapa saya mengusulkan mbak dan masnya menginap di tempat lain, karena hotel ini emang enggak sebagus itu buat orang lugu seperti kalian. Terus, alasan saya bilang masnya enggak bisa nginep di sini karena setelah saya cek ternyata kamar yang tersisa cuma ada satu kamar,” beber perempuan itu, menjawab semua pertanyaan yang sejak awal tadi mengganggu pikiranku. Aku membuang napas berat. “Terus baiknya gimana, Mbak?” tanyaku kemudian. “Kalau kalian mau nunggu beberapa jam lagi, mungkin masnya bisa dapet kamar,” tutur perempuan itu. “Dari data yang tertulis di sini, jam sebelas malam nanti akan ada tamu yang check out,” jelasnya. “Jam sebelas malam, Mbak?” Perempuan itu mengangguk. “Kalau kalian masih mau nginep di sini dan mau nunggu, kalian bisa tunggu di sofa itu,” katanya sambi menunjuk sebuah sofa sederhana yang berjarak beberapa meter dari meja resepsionis. “Mbak enggak lagi candain kami kan?” tanyaku, menatap perempuan itu penuh selidik. “Ya ampun, Mbak. Untuk apa saya bercanda, saya justru berniat bantu kalian,” tuturnya. Aku mengembuskan napas berat. “Kita nginep di hotel lain aja deh, Dar. Kamu bisa pinjem duitku dulu,” bisik Bima. Aku langsung menyipit ke arahnya. “Bukannya tadi kamu bilang uangmu sisa sedikit?” sungutku. Sudah kuduga tadi itu pasti dia berbohong. “Kalau untuk menyewa dua kamar hotel dengan waktu satu malam, aku masih punya cukup uang,” alibinya. “Enggak deh, Bim,” tolakku. “Makasih, tapi aku enggak mau punya hutang sama kamu. Lagian mager juga mau cari hotel lain di luar sana,” ucapku sembari berjalan menuju sofa yang berada tak jauh dari pintu masuk hotel tersebut. Bima terdengar menghela napasnya, kemudian ia mengikutiku, dan ikut duduk di sofa. “Kalian berdua itu ... lagi pdkt ya?” tanya si perempuan yang masih berdiri di meja resepsionis, dia melipat kedua tangannya di atas meja, lalu meletakkan dagunya di sana sembari menatap ke arahku dan Bima. “Kepo banget jadi orang,” tukasku, menatapnya sinis. Perempuan itu malah terkekeh mendengar celetukanku barusan. “Soalnya kalau dilihat-lihat dari sikap masnya, kayaknya masnya udah bucin banget deh sama mbaknya,” kata perempuan itu lagi. Sontak aku melirik ke arah Bima. Kulihat Bima tampak seperti orang gugup saat aku langsung menatap ke arahnya. “Dar, aku ....” “Enggak usah didengerin omongannya,” bisikku pada Bima. Bima pun berdehem, lalu dia mengangguk dengan patuh. Setelah itu, aku menarik ranselku, lalu memeluknya seperti boneka, kemudian aku menyandarkan kepalaku pada bahu Bima. “Pinjem bahumu ya. Aku mau tidur bentaaaar aja,” pintaku, karena memang rasanya mataku sudah tidak sanggup lagi jika harus kupaksakan terbuka, apalagi kepalaku sudah nyut-nyutan karena seharian ini banyak sekali hal yang terjadi. Rasanya aku benar-benar lelah. Dari meja resepsionis, kudengar tipis-tipis perempuan tadi cekikikan sendiri. Entah apa yang dia tertawakan, aku tidak begitu mempedulikannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN