Bertemu Teman Lama

1242 Kata
Seorang pria bertopi keluar dari dalam minimarket, kaki panjangnya berjalan menuju sebuah meja yang dinaungi payung besar. Dia duduk di sana sembari mempersiapkan mie instan cup yang baru saja ia seduh dengan air hangat. Sembari menunggu mie itu matang, dia melamun, menatap kendaraan yang berlalu lalang di jalanan. Tak lama kemudian gerimis pun turun, aroma petrikor seketika menguar. Pria itu tersenyum, seolah menyukai aroma tanah yang baru saja basah oleh air hujan. “Terima kasih.” Sebuah suara terdengar dari arah belakangnya, terlihat seorang gadis baru saja keluar dari taksi yang berhenti di depan minimarket. Pria itu hanya menoleh sekilas ke arah taksi tersebut, tak begitu memperhatikan sosok gadis yang mengenakan ransel hitam. “Laper,” ucap gadis itu—Dara—sembari mengusap perutnya yang sudah kerucukan sejak di dalam taksi tadi. Pandangan Dara kemudian terpaku pada mie instan yang tengah disantap oleh si pria bertopi. Senyum Dara pun seketika merekah, kini dia tahu makanan apa yang akan dia santap malam ini. Dara lantas bergegas masuk ke dalam minimarket, dia mengambil mie instan cup yang bertuliskan rasa kari ayam, tak lupa dia juga mengambil air mineral ukuran enam ratus mililiter, lalu membawa dua belanjaannya itu menuju kasir untuk dibayar. Usai membayar mie instan dan air mineral tersebut, dia pun menyeduh mie itu dengan mesin air panas yang tersedia di minimarket. Setelah dirasa cukup, Dara pun keluar dari minimarket tersebut, kakinya bergerak menuju satu-satunya meja yang ada di sana. “Permisi, boleh enggak saya duduk di sini juga?” tanya Dara, senyumnya terukir ramah pada sosok pria bertopi hitam. Pria bertopi hitam itu terlihat menganggukkan kepalanya tanpa menoleh, dia sibuk memakan mie instannya dan tidak begitu hirau dengan keberadaan Dara. “Makasih,” ucap Dara. Dia kemudian mengambil tempat duduk di depan si pria. “Gerimis-gerimis begini emang paling nikmat makan mie instan. Iya kan?” ujar Dara, berniat mengajak pria di depannya itu sedikit berbincang. “Hm.” Namun sayangnya pria itu hanya menanggapi singkat. Dalam hati, Dara mencebik, merasa sedikit kesal dengan tanggapan cuek dari pria bertopi itu. “Apaan sih, jadi orang cuek banget. Seumur hidup enggak ada yang pernah secuek ini sama aku. Bahkan Bima yang introvert aja dulu masih ramah sama aku,” gumam Dara, ngedumel sendiri. Namun, saat dia menyebut nama Bima, seketika Dara merasa ada yang ganjil, seolah ada sesuatu yang dia lewatkan dan tidak ia sadari. Dara pun lantas kembali menatap pria di depannya itu lebih lekat. Keningnya berkerut saat dia benar-benar merasa familier dengan wajah si pria bertopi hitam. “Bima?” Dara secara spontan menyebut nama itu. Nama teman dekatnya saat SMA dulu. Saat nama itu meluncur dari bibir Dara, si pria tiba-tiba langsung mendongak. Ruang kosong di dahi pria itu mengerut, dia menatap Dara dengan mata menyipit. “Kamu Bima kan?” tanya Dara, dia semakin mendekatkan wajahnya ke arah pria itu, dan kini dirinya semakin yakin kalau pria di depannya adalah Bima. Walaupun sudah empat tahun lebih mereka tidak berjumpa, tapi Dara yang dulu sering memandangi wajah Bima saat belajar tentu dia sangat ingat betul setiap inci wajah teman dekatnya itu. “Aku enggak mungkin salah orang, kamu pasti Bima,” lanjut Dara, dengan penuh keyakinan. “Bima, ini aku Dara,” timpalnya. “Dara Larasati?” Pria itu akhirnya bersuara, binar matanya seketika berubah, dari yang sebelumnya tampak dingin dan cuek, kini tatapan matanya terlihat begitu teduh, seolah tengah memandang seseorang yang sudah sangat lama sekali dia rindukan. “Iya, ini aku Dara Larasati.” Dengan penuh semangat Dara menjawabnya, bahkan senyumannya sudah merekah sangat sempurna. Begitu juga dengan Bima, sudut-sudut bibir pria itu terangkat, membentuk sebuah senyuman yang sangat tampan. “Aku seneng bisa ketemu sama kamu lagi, Dar. Kamu tahu, saat aku pulang ke Indonesia, aku sempat datang berkunjung ke rumahmu, tapi aku tidak tahu kalau kamu sudah pindah dari rumah lamamu,” tutur Bima. “Oh ya? Aku kira kamu udah lupa sama aku, Bim,” kata Dara. “Mana mungkin aku lupa sama kamu, Dara,” ujar Bima, wajahnya benar-benar berubah sangat ramah pada sosok Dara. Dara seketika melangkah maju, tanpa permisi dia langsung merengkuh tubuh Bima, membuat tubuh pria itu menegang karena saking kagetnya dengan tindakan Dara yang secara tiba-tiba memeluknya. “Aku juga seneng bisa ketemu sama kamu lagi, Bim,” ucap Dara sembari melepaskan pelukannya, senyumnya pun tak henti-hentinya terukir. Dara mungkin terlihat biasa saja dengan tindakannya barusan, tapi tidak dengan Bima, tubuh pria itu terlihat masih kaku, seolah dia benar-benar syok dipeluk dadakan oleh Dara. “Kok sekarang kamu ... kalau dilihat-lihat makin ganteng ya, Bim. Bulu mata kamu kayaknya makin tebel deh, alismu juga. Apa karena lama tinggal di timur tengah semua bulumu jadi makin tebel?” celetuk Dara. Bima terbatuk mendengar perkataan Dara barusan. Perkataan Dara sungguh ambigu, gadis itu ternyata masih saja ceplas-ceplos seperti dulu. Dara benar-benar lugu dan polos. Bima kemudian berdehem pelan menetralkan detak jantungnya yang mulai berdebar tidak normal. “Btw, kamu ngapain malem-malem ada di sini?” tanya Bima, mencoba mengalihkan pembicaraan ke pembahasan lain. Namun, Saat Dara ditanya seperti itu, raut wajah sumringahnya langsung luntur, Dara terlihat menghela napasnya panjang sembari duduk kembali ke kursinya. “Aku kabur dari rumah,” jawab Dara sambil mengaduk mie instannya yang sudah matang. “Kabur?” Kening Bima berkerut, pria itu ikut duduk kembali ke kursinya, siap menyimak perkataan Dara selanjutnya. “Iya, aku kabur dari rumah,” ujar Dara. “Aku juga,” kata Bima. Dara seketika mendongak, dia bahkan sampai meletakkan kembali garpunya saat hendak menyuapkannya ke dalam mulut. “Ha? Aku enggak salah denger kan? Seorang Bima kabur dari rumah? Kamu bercanda ya, Bim? Atau kamu lagi ngeledek aku?” cakap Dara, tak percaya kalau pria seperti Bima akan melakukan hal nakal seperti yang ia lakukan. “Aku beneran kabur dari rumah, untuk apa aku bercanda. Dan aku sama sekali enggak berniat ngeledek kamu yang kebetulan juga kabur dari rumah,” kata Bima. “Emang atas dasar apa kamu kabur dari rumah, Bim? Kok bisa-bisanya sih kamu kabur dari rumah.” Dara masih merasa heran. “Aku mau dijodohin,” terang Bima. “What?!” “Karena aku enggak suka sama perjodohan itu, makanya aku kabur dari rumah,” papar Bima. Dara tiba-tiba bertepuk tangan. “Wah, andai kita masih SMA, aku pasti bakal langsung lari ke tengah lapangan dan teriak ke semua orang kalau kamu ternyata juga bisa jadi seorang pemberontak hanya karena enggak mau dijodohin,” ujar Dara. Senyum Bima terukir, dia tak menanggapi perkataan Dara, akan tetapi ia terlihat senang melihat wajah ceria Dara yang sudah sangat lama sekali ia rindukan. Apalagi selama empat tahun terakhir, mereka benar-benar tidak pernah lagi saling berkabar. Terakhir kali Bima melihat Dara adalah saat pemakaman keluarga Dara. Saat itu Bima hadir untuk berpamitan dengan Dara karena besoknya dia sudah harus terbang ke timur tengah. Namun, sayangnya Bima tak berhasil berbicara dengan Dara, karena saat itu Dara seperti telah kehilangan jiwanya, diajak bicara pun dia hanya diam dan melamun. “Aku jadi rindu masa SMA dulu,” ucap Dara. “Aku juga,” sahut Bima. “Tapi, bagiku ... melihatmu bisa tersenyum ceria lagi sudah sangat cukup membuat rasa rinduku pada masa SMA terobati,” tuturnya. Gelak tawa Dara seketika terdengar. “Bima, kamu kok jadi puitis banget sih. Kamu di timur tengah belajar sastra juga ya?” komentarnya. Bima hanya mesem menanggapinya, diam-diam dia memuaskan rasa rindunya pada Dara dengan menatap lekat wajah gadis itu tanpa lelah. Dara, kamu terlihat semakin cantik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN