bc

Aku Menikahi Bos yang Menghancurkan Hidupku

book_age16+
0
IKUTI
1K
BACA
revenge
contract marriage
HE
friends to lovers
arranged marriage
confident
boss
drama
bxg
mystery
city
office/work place
like
intro-logo
Uraian

Lima tahun lalu, hidup Alana Kirana hancur ketika ayahnya difitnah sebagai koruptor dan dipecat dari PT Ardhana Group. Sejak saat itu, keluarganya jatuh miskin dan hidup dalam penderitaan. Nama yang tertera di surat pemecatan itu terus menghantui Alana: Devan Ardhana, CEO muda yang dianggap sebagai penyebab kehancuran keluarganya.

Kesempatan membalas dendam akhirnya datang ketika Devan membutuhkan istri kontrak demi mempertahankan kendali perusahaan. Dengan identitas baru, Alana menyusup ke kehidupan pria itu, bertekad menghancurkan reputasinya dari dalam.

Namun semakin lama hidup bersama, semakin banyak kejanggalan yang ia temukan. Devan tidak tampak seperti monster yang selama ini ia benci. Sebaliknya, setiap petunjuk justru mengarah pada rahasia yang jauh lebih besar. Ketika identitas Alana terbongkar dan seluruh dunia berbalik menyerangnya, ia harus memilih tetap memelihara dendam atau mengungkap kebenaran yang bisa mengubah hidup mereka berdua selamanya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1: Kontrak yang Ditandatangani dengan Dendam
Pena itu dingin di jari Alana. Ia menatap kontrak di meja kaca, sementara di bawah meja jari-jarinya yang lain menggenggam ujung roknya sampai kusut. "Silakan tanda tangan di halaman dua, empat, dan tujuh, Bu Alana." Staf agensi—rapi, berkacamata, suaranya datar seperti mesin penjawab otomatis—menunjuk tiga kolom kosong. "Baik." Ia menandatangani halaman dua, tangannya bergerak lebih cepat dari yang ia kira—refleks yang lebih dulu memutuskan sebelum kepalanya sempat ragu. Dua minggu lalu, suara Tania masih terngiang di teleponnya. "Al, gila. Ada CEO gede lagi nyari istri kontrak lewat agensi elite. PT Ardhana Group, Al. CEO-nya sendiri, namanya Devan Ardhana Prawiro." Nama itu langsung membekukan darah Alana. Ia memutuskan saat itu juga: ia akan melamar program itu, memakai nama lain agar tidak ada yang menyambungkannya dengan Herman Kirana. "Klien kami berasal dari kalangan korporat papan atas," lanjut staf itu. "PT Ardhana Group." Dada Alana berdesir. Ini bukan lagi rumor dari telepon Tania. Ini tercatat, di lembar yang baru saja ia tandatangani. PT Ardhana Group—nama yang dulu adalah lift kaca yang ia naiki bersama ayahnya waktu kecil. Dan lima tahun lalu, nama yang sama adalah dua satpam menggiring ayahnya keluar dari gedung itu, kotak kardus diseret di lantai marmer, sementara orang-orang berhenti menonton dan berbisik. Koruptor—kata itu menempel di nama ayahnya sejak hari itu, tanpa ada yang pernah bertanya apakah itu benar. Alana menahan napas tiga detik, cara lama untuk memaksa wajahnya tetap datar. "Bu Alana?" "Ya. Lanjutkan." "Halaman empat soal durasi kontrak—satu tahun, dengan opsi perpanjangan. Halaman lima dan enam soal kompensasi bulanan serta kewajiban tampil di depan publik sebagai pasangan sah," staf itu berbicara tanpa jeda. "Tidak ada klausul yang mewajibkan hubungan personal di luar yang tercantum. Ini murni kemitraan status." "Murni kemitraan," ulang Alana pelan, menguji rasanya di mulutnya sendiri. "Baik. Saya paham." Ia membalik ke halaman lima, membaca angka kompensasi. Angka itu besar—cukup untuk jadi alasan aman yang akan ia katakan pada siapa pun yang bertanya, meski sebenarnya uang itu nanti akan mengalir diam-diam ke rumah sakit tempat ayahnya dirawat. Ia menandatangani halaman lima. Ujung penanya berhenti sejenak, seolah tangannya sendiri butuh waktu meyakinkan bahwa ini nyata. "Terakhir, halaman tujuh," staf itu menggeser kertas terakhir. "Soal kerahasiaan identitas. Sesuai permintaan pihak keluarga calon suami, nama dan wajah baru dibuka di pertemuan resmi besok pagi." "Jadi saya baru akan tahu secara resmi siapa beliau besok?" "Betul. Ini demi melindungi kedua belah pihak." Melindungi. Kata itu terdengar asing di ruangan yang sama tempat ayahnya dulu tidak pernah mendapat perlindungan apa pun. Ia menandatangani halaman terakhir. Tangannya, di bawah meja yang tak terlihat siapa pun, gemetar sedikit. Ia membiarkannya. Perjalanan pulang naik angkutan umum terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu-lampu Jakarta mulai menyala, tapi Alana tak benar-benar melihatnya. Pikirannya masih terpaku pada kolom kosong bertuliskan Nama Calon Suami: [Rahasia sampai pertemuan resmi]. Rumah kontrakannya yang sempit terasa begitu kontras dengan lobi kaca yang baru saja ia tinggalkan. Ia menyalakan lampu, duduk di tepi ranjang, dan akhirnya membiarkan tubuhnya rileks. Bau minyak goreng dari rumah tetangga bercampur udara malam yang lembap menyambutnya. Ponselnya bergetar. Tania. "Woy! Gimana? Udah tanda tangan?" suara Tania meledak dari seberang. "Deg-degan banget nih, serius." "Udah. Semua udah beres." "Beres gimana? Lo nggak histeris di sana, kan? Atau malah nangis di depan orang kantor?" Ada tawa kecil yang dipaksakan di ujung telepon. "Nggak. Aku baik-baik aja." "Terus? Gimana rasanya?" Ada jeda sebentar, lalu suara Tania melunak, kehilangan nada bercandanya. "Alana. Serius. Lo oke, kan?" "Bener, Tan. Ardhana Group. Staf-nya nyebut langsung, nggak ada keraguan lagi." Hening sebentar. "...Fix ya?" "Fix. Aku masih belum lihat wajahnya, baru dibuka besok pas pertemuan resmi." "Anjir." Tania menghela napas panjang, tanpa gurauan kali ini. "Al, lo yakin mau lanjut? Lo bakal nikah sama orang yang bahkan belum lo lihat mukanya, demi masuk ke rumah orang yang ngancurin bokap lo." "Aku tahu." "Terus?" Alana menutup mata. Kotak kardus diseret di lantai marmer, wajah ayahnya yang pucat, ibunya yang menangis diam-diam sambil terus menjahit sampai larut. "Aku udah capek diam, Tan," katanya akhirnya, suara yang keluar dari sesuatu yang sudah lama tertahan di d**a. "Lima tahun aku lihat Bapak jadi bayangan dari dirinya sendiri. Aku nggak mau nunggu lagi sampai ada orang baik hati yang mau bantu kita. Aku yang harus masuk ke sana sendiri." "Tapi kalau ketahuan, Al?" "Nggak akan ketahuan. Aku daftar pakai marga Mama. Alana Wijaya. Nggak ada yang pernah nyambungin nama itu ke Bapak." "Al." Suara Tania hati-hati. "Lo yakin masih mau lanjut? Ini pertanyaan terakhir aku." "Yakin," jawab Alana, mantap. "Oke." Tania menghela napas. "Gue ada, ya. Apa pun yang terjadi. Tapi janji satu hal—kalau semuanya kelewat gila, bilang ke gue. Jangan dipendem sendirian." "Janji." Alana menghela napas, dan untuk pertama kali sejak sore tadi, sesuatu di dadanya sedikit mengendur. "Makasih, Tan." "Udah, jangan mellow-mellow gitu, aku jadi ikutan baper." Tania tertawa kecil, mencoba mengembalikan suasana seperti semula. "Istirahat, ya. Besok lo harus keliatan tenang di depan orang-orang itu. Nggak boleh keliatan lemah." "Aku tahu." "Telepon aku abis ketemu dia besok. Aku mau tahu duluan sebelum media." "Pasti." Sambungan terputus. Ruangan kembali sunyi, hanya suara samar kendaraan di luar yang menembus dinding tipis rumah kontrakan. Alana membuka dompet lusuhnya yang sudah bertahun-tahun ia bawa ke mana-mana, kulitnya mengelupas di beberapa sudut. Di balik lapisan plastik yang sudah buram, ada satu foto lama—ayahnya, berdiri tegap dengan jas rapi di depan gedung Ardhana Group, foto yang diambil bertahun-tahun sebelum kejatuhan itu, sebelum wajahnya berubah jadi bayangan pucat yang lebih banyak diam di kursi rumah daripada berjalan tegak seperti dulu. Senyum di foto itu masih sama seperti yang ia ingat dari masa kecilnya—lebar, tanpa beban, jenis senyum yang sudah lama sekali tidak ia lihat lagi di wajah ayahnya yang sekarang. Ia menekan foto itu ke dadanya, merasakan sudut plastik yang tajam menekan kulit. "Bapak," bisiknya, "besok aku masuk ke sana. Ke tempat yang sama yang udah ngancurin Bapak." Air mata yang sedari di ruang agensi tadi ia tahan akhirnya turun satu-satu, dan untuk sekali ini, ia membiarkannya. "Devan Ardhana Prawiro." Jari-jarinya mengepal pelan di sisi foto itu. "Aku belum pernah lihat wajahnya langsung. Tapi besok, aku bakal berdiri di depannya. Dan aku janji, aku bakal cari tahu semuanya. Sampai nama Bapak bersih lagi." Ada satu kalimat yang mengendap di kepalanya, tajam dan sederhana, seperti sudah lama menunggu untuk diucapkan: Suamiku adalah musuh keluargaku. Di luar jendela kecil rumah kontrakannya, Jakarta masih menyala terang, tak peduli pada satu wanita muda yang duduk sendirian di kamar temaram, menggenggam foto lama dan tekad yang baru resmi menjadi kenyataan. Besok pagi, ia akan berdiri di hadapan pria yang akan menjadi suaminya—pria yang namanya sudah lama membakar ingatannya, tapi wajahnya belum pernah ia lihat langsung.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
818.7K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.1M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
1.0M
bc

A Warrior's Second Chance

read
379.0K
bc

Not just, the Beta

read
360.2K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook